Belum Tergarap Maksimal, Begini Potensi Rumput Laut di Sulawesi Tengah

Industri Maritim211 Dilihat

Bogor, Indomaritim.id – Provinsi Sulawesi Tengah yang memiliki panjang pantai sekitar 7.000 kilometer memiliki potensi untuk menghasilkan rumput laut basah sebanyak 10 juta ton tiap tahun.

“Sekarang baru bisa terealisasi 1,13 juta ton dan menjadi tiga besar penghasil rumput laut di Indonesia pada 2018,” kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng, Hasanuddin Atjo kepada wartawan di Bogor, Jawa Barat, Kamis (14/2/2019).

Usai menandatangani nota kesepahaman dengan Direktur Seameo Biotrop Dr Irdika Mansur dalam pengembangan bibit rumput laut dengan teknologi kultur jaringan, Hasanuddin Atjo mengemukakan tekadnya untuk mengembangkan industrialisasi rumput laut dengan memanfatakan potensi yang dimiliki.

Ia menyebutkan keunggulan yang dimiliki Sulteng untuk menjadi daerah produsen terbesar rumput laut adalah sumber daya yang besar karena terdapat sekitar 2,2 hektar areal perairan yang cocok dan sangat cocok untuk budi daya komoditas ini.

Keunggulan kedua adalah pasar rumput laut sangat terbuka bahkan saat ini harga rumput laut bisa mencapai Rp20.000/kg dan didukung dengan regulasi atau intervensi pemerintah yang sangat besar untuk mendukung pengembangan budi daya dan industrialisasinya.

Masalah terbesar untuk merevitalisasi budi daya dan industrialisasi rumput laut di Sulteng adalah sistim budidaya yang masih sangat konvensional sehingga produksi dan produktivitas areal budidaya masih sangat rendah.

Masalah lainnya adalah pola pikir dan perilaku pembudi daya yang tidak disiplin dalam mengikuti prosedur standar mulai dari teknik budi daya sampai pada penanganan panen dan pascapanen sehingga lahan-lahan budi daya kurang produktif dan kualitasnya relatif rendah.

Karena itu, kata Atjo, pihaknya menggandeng Seameo Biotrop untuk mengembangkan budi daya dan industrialisasi rumput laut ini karena telah memiliki teknologi kultur jaringan dalam menghasilkan bibit rumput laut yang unggul.

Keunggulan bibit rumput laut teknologi kultur jaringan ini adalah pertumbuhannya lebih cepat tiga sampai empat kali dibanding bibit biasa dan kandungan keragenannya mencapai 40-44 persen, lebih tinggi dibanding bibit biasa yang hanya 30-32 persen.

Untuk mewujudkan industrialisasi rumput laut ini, DKP Sulteng akan membangun percontohan budi daya di tiga titik pada tiga kluster pengembangan sektor kelautan dan perikanan di Sulteng dimana setiap titik akan dibangun laboratorium pengembangan bibit.

“Dengan kerja sama ini, kami berharap, dalam kurun waktu lima tahun ke depan, produksi rumput laut Sulteng bisa mencapai 6 juta ton/tahun atau 60 persen dari potensi yang dimiliki sebesar 10 juta ton,” ujarnya.

Sementara itu Direktur Seameo Bitrop Irdika Mansur mengatakan bahwa MoU tentang revitalisasi budidaya dan industrialisasi rumput laut di Sulteng akan berjalan selama tiga tahun.

Kegiatan utama dalam kerja sama ini adalah memproduksi bibit rumput laut unggul dan sesuai dengan kondisi lingkungan setempat serta memberikan pendampingan kepada para penyuluh dan pembudi daya dalam hal teknik budidaya yang intensif.

Penandatanganan MoU ini dirangkaikan dengan workshop dan diskusi terfokus mengenai kekuatan, peluang, aspirasi dan hasil yang akan dicapai dalam pengembangan kerja sama ini.

Workshop ini menghadirkan para pakar di bidang teknologi budi daya, pengolahan, dan bisnis rumput laut dari Seameo Biotrop, IPB Bogor, Universitas Tadulako Palu dengan pembicara kunci Kepala Dinas KP Sulteng Dr Hasanuddin Atjo.

Komentar