Memahami Serangan Cyber Explosion di Libanon

Catatan Diplomasi Politik Pelaut Nuswantara

Berita, Internasional, Kolom1384 Dilihat

Pelaut ADIPATI  l Kalitbang INDOMARITIM  l  Direktur Eksekutif TRUST  l Presiden SPI  l  Volunteer INMETA  

Geopolitical Insight September 2024

Ledakan dahsyat yang menewaskan 12 orang dan melukai lebih dari 2.800 lainnya di Lebanon pada hari Selasa, 17 September 2024, telah mengguncang negara tersebut. Di antara korban tewas adalah seorang gadis berusia delapan tahun dan seorang anak laki-laki berusia 11 tahun, yang tragisnya terjebak dalam ledakan saat mereka berada di toko-toko atau rumah bersama keluarga mereka. Ledakan ini tak hanya menghancurkan fisik korban, tetapi juga meninggalkan trauma besar di tengah masyarakat. Dr. Elias Warrak, seorang dokter yang menangani para korban, menyampaikan bahwa 60% dari pasien yang dia lihat setelah ledakan kehilangan mata, jari, atau bahkan tangan mereka. Kerusakan yang diakibatkan tidak terbatas pada cedera fisik eksternal, tetapi juga mencakup kerusakan otak dan wajah yang parah.

Kejadian ini diduga kuat merupakan bagian dari serangkaian serangan yang lebih besar dan canggih yang menargetkan Hizbullah, kelompok militan yang didukung oleh Iran. Dugaan awal menyatakan bahwa Israel terlibat dalam serangan ini melalui operasi rahasia yang menyusup ke jaringan komunikasi Hizbullah. Ada kemungkinan bahwa pager yang meledak itu sudah dipasangi bahan peledak dan diledakkan dari jarak jauh. Serangan ini menyoroti ketegangan yang meningkat antara Hizbullah dan Israel, yang telah berlangsung selama beberapa dekade, dan sekarang telah berkembang ke dalam dimensi baru, yaitu perang elektronik.

Pada hari Rabu berikutnya, serangan lanjutan terjadi ketika sejumlah walkie-talkie meledak secara serentak. Perangkat-perangkat tersebut ternyata merupakan merek Icom, sebuah perusahaan asal Jepang. Menurut pernyataan resmi dari Icom, model IC-V82, yang meledak dalam serangan itu, sudah tidak diproduksi sejak 10 tahun lalu. Icom juga menegaskan bahwa baterai dari perangkat ini tidak lagi diproduksi. Namun, seorang eksekutif dari anak perusahaan Icom di AS mengungkapkan bahwa perangkat yang meledak tersebut kemungkinan adalah produk tiruan. Ini menambah lapisan kompleksitas baru dalam penyelidikan, mengindikasikan bahwa perangkat komunikasi yang digunakan mungkin telah dimanipulasi oleh pihak luar sebelum mencapai tangan Hizbullah.

Pada hari Selasa, sebelum serangan walkie-talkie, sebuah pager yang juga meledak memicu perhatian luas. Pager tersebut adalah model baru yang belum pernah digunakan oleh Hizbullah sebelumnya. Menurut pejabat keamanan Lebanon, sekitar 5.000 pager telah dibawa masuk ke Lebanon lima bulan sebelumnya. Label pada pecahan pager yang ditemukan menunjukkan bahwa perangkat tersebut adalah Rugged Pager AR-924, diproduksi oleh Gold Apollo, sebuah perusahaan Taiwan. Meskipun demikian, perusahaan tersebut membantah keterlibatan dalam serangan tersebut dan sedang diselidiki oleh pihak berwenang di Taiwan.

Serangan ini semakin menguatkan dugaan bahwa Israel telah menggunakan teknologi pelacakan dan sabotase yang sangat canggih dalam operasinya melawan Hizbullah. Menurut Prof. Simon Mabon dari Universitas Lancaster, Israel mungkin telah memanfaatkan perangkat komunikasi yang dimodifikasi untuk melacak, mengendalikan, bahkan menghancurkan perangkat yang digunakan oleh Hizbullah. Operasi ini menandai terobosan baru dalam perang elektronik global, yang menggabungkan teknologi canggih dengan tindakan sabotase fisik yang menargetkan musuh.

Laporan lain menyebutkan bahwa Israel telah mendirikan perusahaan-perusahaan depan untuk memproduksi dan mendistribusikan perangkat elektronik yang dirusak, termasuk pager dan radio dua arah. Ini memungkinkan Israel untuk memasukkan bahan peledak dan sistem kendali jarak jauh ke dalam perangkat tanpa diketahui oleh Hizbullah. Pengiriman perangkat-perangkat ini dilaporkan telah dimulai sejak pertengahan 2022, dan intensitasnya meningkat pada 2024. Dengan cara ini, Israel berhasil memanfaatkan kelemahan dalam rantai pasokan global untuk menyerang Hizbullah.

Pendekatan ini menyoroti betapa pentingnya teknologi dalam perang modern. Serangan ini telah mengguncang dunia internasional, menimbulkan kekhawatiran serius mengenai keamanan perangkat komunikasi yang digunakan oleh organisasi militer di seluruh dunia. Apakah perangkat-perangkat ini benar-benar aman dari sabotase atau intervensi eksternal? Apakah rantai pasokan global cukup aman untuk memastikan bahwa produk-produk yang digunakan di lapangan tidak dimodifikasi dengan tujuan jahat?

Dengan kemampuan teknologi yang berkembang pesat, serangan ini menyoroti risiko baru yang muncul dari penggunaan perangkat elektronik dalam konflik bersenjata. Perang modern tidak lagi hanya terjadi di medan perang fisik, tetapi juga di ranah digital dan elektronik, di mana informasi dan perangkat komunikasi menjadi sasaran utama. Dengan kemampuan spionase yang dimiliki Israel, taktik seperti ini kemungkinan besar akan menjadi preseden bagi operasi-operasi militer masa depan.

Bagi Hizbullah, serangan ini tidak hanya merusak secara fisik, tetapi juga menciptakan krisis kepercayaan terhadap perangkat komunikasi mereka. Ini adalah pukulan besar bagi organisasi yang sangat mengandalkan komunikasi untuk mengkoordinasikan operasi mereka. Seiring dengan meningkatnya ketegangan di perbatasan Lebanon dan Israel, serangan ini telah memaksa puluhan ribu penduduk di kedua sisi untuk mengungsi, sementara jumlah korban terus meningkat. Hingga saat ini, lebih dari 500 orang dilaporkan tewas dan ribuan lainnya terluka akibat serangan yang berlangsung.

Perang elektronik yang dilancarkan Israel terhadap Hizbullah melalui perangkat komunikasi yang dimodifikasi menandai babak baru dalam sejarah konflik. Dengan memanfaatkan kelemahan dalam rantai pasokan global dan menggunakan teknologi canggih, Israel telah menciptakan bentuk baru dari peperangan yang tidak hanya menghancurkan fisik musuh, tetapi juga mengganggu infrastruktur komunikasi mereka. Dampak dari serangan ini tidak hanya dirasakan oleh Hizbullah, tetapi juga oleh komunitas internasional, yang kini harus menghadapi tantangan baru dalam menjaga keamanan teknologi dan komunikasi di tengah konflik global yang semakin kompleks.

PERINGATAN!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel/gambar/video/infografis tanpa izin tertulis dari redaksi indomaritim.com.

Komentar