Bandung – indomaritim.com – Bagaimana seniman fotografi memotret objek tapi tidak menggunakan kamera? Cara ini dilakukan seniman fotografi, Iswanto Soerjanto (1967), yang hasilnya sebanyak 30 karya dipamerkan di galeri Orbital Dago, Bandung, Jawa Barat, 3 Juli – 3 Agustus 2025.
Tak ada lagi cerita Iswanto menenteng kamera foto pergi berburu objek foto dengan lensa tele standar yang bisa mencapai berat sekitar dua kilogram. Dengan teknik nirkamera, Iswanto memanfaatkan bahan yang peka cahaya, seperti kertas foto, untuk menciptakan gambar melalui paparan langsung ke cahaya dan objek tanpa menggunakan lensa.
Iswanto menerapkan beberapa teknik untuk karyanya, antara lain cyanotype, gum bichromate dan chemigram. Cyanotype adalah proses cetak fotografi yang sudah ada sejak berabad-abad lalu dan dikenal untuk menghasilkan gambar kebiru-biruan yang khas.
“Sebagai seniman fotografi tanpa kamera, saya bekerja dengan proses alternatif seperti cyanotype, gum bichromate, dan chemigram untuk menciptakan karya yang merefleksikan tarian halus antara cahaya dan bayangan,” ujar Iswanto yang menyelesaikan kuliah fotografi di Brooks Institute of Photography, Santa Barbara, California, Amerika Serikat.
Chemigram adalah teknik fotografi tanpa kamera dan lensa yang memadukan seni lukis atau gambar dengan bahan kimia fotografi memakai pencahayaan penuh, sehingga menghasilkan citraan abstrak atau semi-abstrak. Chemigram dibuat dengan memanipulasi permukaan kertas foto secara langsung dalam penyinaran cahaya penuh, sering kali memakai pernis, minyak, sirup atau lilin dan bahan kimia fotografi, terkadang ditulis atau digores langsung dengan tangan.
Adapun pencetakan gum bikromat, yang biasa disebut pencetakan gum, adalah proses fotografi alternatif yang menggabungkan teknik fotografi dengan seni cetak artistik.
Pada karya Iswanto, eksplorasi berbagai teknik dan proses kimiawi itu menjadi potensi untuk melakukan bermacam corak bak lukisan abstrak, dengan garapan seperti fragmen lelehan- lelehan, cipratan dan gumpalan – gumpalan dengan warna–warna monokromatik.
“Saya terinspirasi oleh kehalusan detail dan kedalaman naratif dalam gaya lukisan Batuan,” kata Iswanto.
Lukisan gaya Batuan adalah gaya seni lukis tradisional Bali yang berasal dari Desa Batuan, Gianyar. Gaya ini dikenal dengan detailnya yang rumit, komposisi padat, dan penggunaan warna gelap, terutama hitam dan abu-abu, untuk menghasilkan suasana dramatis.
Lukisan Batuan sering mengangkat cerita rakyat, dan punya ciri khas dalam detail yang mampu menggambarkan objek terkecil dengan jelas. Biasanya terisi penuh dengan gambar dan elemen, didominasi warna hitam, abu-abu, dan terkadang coklat tua menciptakan suasana dramatis dan misterius.
Di tangan Iswanto teknik itu menghasilkan bentuk abstrak yang menggiring orang pada citraan satelit terhadap permukaan gurun pasir dengan cetak Silver Gematin Print Chemigram dalam warna monokrom coklat (Purnama – dan – Tilem Untitle #12_1, 2025). Atau sekumpulan citraan detil mirip torehan pahatan yang juga menggunakan teknik Chemigram (Purnama – dan – Tilem Untitle#9, 2025). Pada karya lain Iswanto menampilkan kekumpulan bentuk hasil potretan yang mengesankan citraan dalam rongga tubuh manusia (Purnama – dan – Tilem Untitle #12_3, 2025).
Kesan yang menyeret suasana psikhis muncul pada karya yang menggambarkan bilah-bilah vertikal, berhiaskan citraan tekstur berukuran kecil dalam komposisi warna gelap yang terkesan menakutkan (Purnama – dan – Tilem Untitled #25, 2025). Sebaliknya pada karya lain Iswanto menghasilkan karya yang menyegarkan pandangan mata berupa cetakan yang mengesankan bentuk cabang dan ranting pohon bersama dedaunannya dalam komposisi warna monokrom coklat di atas warna putih dengan teknik cetak Gum Bichromate (Punama – dan – Tilem Untitled#12, 2025).
Fotografi nir-kamera lebih menonjolkan seni dalam proses daripada produk akhir. “Ketidakpastian dan kebetulan yang terlibat dapat menghasilkan hasil tak terduga yang meningkatkan kreativitas,” ujar Rifky Effendy, kurator pameran ini. Selain itu, pengalaman sentuhan berupa interaksi langsung dengan bahan kimia sering kali menghasilkan pengalaman yang lebih nyata dan langsung bagi seniman. “Ini yang membedakan dari fotografi tradisional di mana kamera bertindak sebagai perantara.”
Selain itu, bentuk fotografi ini menggali konsep cahaya, bayangan,
dan pencahayaan secara mendalam. “Hal ini memungkinkan seniman mengeksplorasi bahasa visual dengan cara yang baru dan inovatif,” ujar Rifky. Entitas seni membuat seniman terus mengeksplorasi teknik agar terbebas dari belitan kuasa teknik tertentu.■ Raihul Fadjri








Komentar