Kinerja Terminal Kijing, Pontianak Alami Peningkatan Signifikan

Industri Maritim115 Dilihat

Pontianak, indomaritim.com – Direktur Komersial dan Pengembangan Usaha yang juga Pelaksana Tugas Direktur Operasi PTP Nonpetikemas, Dwi Rahmad Toto mengatakan, kinerja Terminal Kijing di Kalimantan Barat menunjukkan tren peningkatan signifikan, ditandai lonjakan volume atau throughput yang mencerminkan menguatnya aktivitas logistik dan kepercayaan pengguna jasa di wilayah tersebut.

“Data mencatat, throughput Terminal Kijing meningkat dari 1,95 juta ton pada 2023 menjadi 2,75 juta ton pada 2024, dan diproyeksikan menembus 4 juta ton pada 2025. Hingga November 2025, total throughput telah mencapai 3,59 juta ton, dengan dominasi muatan curah kering sebesar 2,03 juta ton,” kata Dwi, dikutip dari Antara, Sabtu.

Sejumlah komoditas yang ditangani berasal dari grup Mining Industry Indonesia (MIND ID), khususnya PT Borneo Alumina Indonesia, dalam mendukung pelaksanaan Proyek Strategis Nasional (PSN).

Komoditas tersebut meliputi bauksit, batu bara, aluminium hidroksida sebagai curah kering, caustic soda liquid sebagai curah cair, serta aluminium hidroksida dalam bentuk general cargo.

Kinerja operasional juga mengalami lonjakan. Hingga November 2025, PTP Nonpetikemas Cabang Pontianak Terminal Kijing mencatat pertumbuhan signifikan pada komoditas curah kering dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Rata-rata throughput mencapai 3.620 ton per ship per day (T/S/D), meningkat tajam dari 879 T/S/D pada periode hingga November 2024. Hal ini menunjukkan pertumbuhan volume kargo menjadi indikator meningkatnya kepercayaan pengguna jasa terhadap layanan pelabuhan,” tuturnya.

Menurutnya, dari sisi operasional, kami terus menjaga kelancaran layanan dengan mengoptimalkan proses bongkar muat, penataan alur logistik, dan pengelolaan waktu sandar kapal secara efisien.

PTP Nonpetikemas Cabang Pontianak mengelola empat area terminal nonpetikemas di Kalimantan Barat, yakni Kawasan Dwikora, Pelabuhan Perintis Sintete, Ketapang, dan Kawasan Kijing. Terminal-terminal tersebut melayani berbagai komoditas general cargo seperti karet, bungkil, dan plywood.

Terminal Kijing sendiri menjadi simpul penting logistik nonpetikemas dengan melayani beragam komoditas, antara lain crude palm oil (CPO) dan turunannya, batu bara, pupuk, palm kernel, beras kemasan, serta produk perkayuan.

Didukung posisi Kalimantan Barat sebagai salah satu sentra produksi CPO nasional, kawasan ini memiliki hinterland kuat yang menopang pertumbuhan volume kargo.

Menurut Toto, realokasi aset dari pelabuhan lain dalam jaringan Subholding Pelindo Multi Terminal (SPMT) menjadi langkah strategis untuk mengoptimalkan pemanfaatan aset sekaligus memperkuat sinergi antarunit.

“Langkah ini bukan hanya pemanfaatan aset idle, tetapi juga mencerminkan sinergi dalam menciptakan keunggulan operasional yang berdampak nyata pada kinerja dan pelayanan,” katanya. (RR)

PERINGATAN!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel/gambar/video/infografis tanpa izin tertulis dari redaksi indomaritim.com.

Komentar