Menhan AS Minta Bantuan Sekutu untuk Buka Selat Hormuz

Misa AS itu disebut Project Freedom

Internasional84 Dilihat

Tokyo, indomaritim.com – Amerika Serikat (AS), Selasa (5/5) kembali menyeru Jepang, Korea Selatan, dan sekutu lainnya untuk membantu membuka kembali Selat Hormuz, di tengah lonjakan baru ketegangan di Timur Tengah setelah inisiatif terbaru Presiden Donald Trump untuk mengakhiri kendali Iran atas jalur perdagangan penting itu dimulai pekan ini.

“Kami berharap Korea Selatan akan meningkatkan perannya, seperti kami berharap Jepang akan meningkatkan perannya, seperti kami berharap Australia akan meningkatkan perannya, seperti kami berharap Eropa juga akan meningkatkan perannya,” kata Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dalam jumpa pers di Pentagon seperti dkutip dari Antara.

Misi AS yang dijuluki Project Freedom dimulai pada Senin (4/5) untuk membantu mengarahkan kapal-kapal komersial yang terjebak melalui jalur pelayaran sempit tersebut, yang secara efektif ditutup oleh Iran sejak negara itu diserang oleh AS dan Israel pada akhir Februari.

Namun, hanya dua kapal dagang berbendera AS yang diketahui berhasil melintasi jalur tersebut dengan pengawalan militer dalam kerangka inisiatif itu, yang pada awal pelaksanaannya memicu baku tembak antara AS dan Iran.

Trump, Senin juga menyatakan Iran juga telah menembak ke arah sebuah kapal kargo Korea Selatan dan target lain yang tidak terkait dengan operasi maritim tersebut.

AS dan Iran sama-sama terus mengeklaim menguasai koridor perdagangan penting tersebut. Sehari sebelumnya, Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga mendesak China untuk meningkatkan upaya diplomasi dengan Iran, mengingat negara Asia itu telah lama membeli sebagian besar ekspor minyak Iran.

Namun, Trump, yang dijadwalkan mengunjungi Beijing pekan depan untuk pertemuan yang dinantikan dengan Presiden China Xi Jinping, menyampaikan komentar yang lebih terukur pada Selasa.

Trump mengatakan kepada wartawan di Gedung Putih bahwa perang dengan Iran akan menjadi salah satu topik yang dibahas dengan Xi, seraya menambahkan bahwa pemimpin China tersebut bersikap “sangat baik” terkait hal ini.

“Saya pikir dia sangat menghormati. Kami tidak mendapat tantangan dari China. Mereka tidak menantang kami,” ujarnya. “Saya tidak berpikir dia akan melakukan itu, karena saya.”

Hegseth menegaskan bahwa Project Freedom bersifat defensif, terbatas dalam cakupan, dan sementara, serta bahwa AS menganggap gencatan senjata dengan Iran yang disepakati sekitar sebulan lalu belum berakhir.

Kepala Pentagon itu kembali menegaskan klaim Washington bahwa jalur pelayaran tersebut lebih vital bagi perekonomian negara lain, dan bahwa militer AS telah bekerja keras di kawasan itu atas nama mereka.

“Ini adalah misi sementara bagi kami. Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, dunia membutuhkan jalur ini jauh lebih besar daripada kami. Kami menstabilkan situasi agar perdagangan dapat kembali berjalan, tetapi kami berharap dunia akan mengambil peran pada waktu yang tepat,” katanya.

Menurut Jenderal Dan Caine, ketua Kepala Staf Gabungan yang turut hadir dalam konferensi pers tersebut, sekitar 22.500 pelaut di lebih dari 1.550 kapal komersial kini terjebak di Teluk Persia dan tidak dapat melintasi Selat Hormuz. (RR)

PERINGATAN!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel/gambar/video/infografis tanpa izin tertulis dari redaksi indomaritim.com.

Komentar