Jakarta, indomaritim.com – Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan menilai kolaborasi Indonesia, Singapura, dan Malaysia menjaga keamanan serta keterbukaan Selat Malaka dan Singapura sesuai UNCLOS dapat menjadi contoh bagi kawasan lain di dunia.
“Keberhasilan Indonesia dan kerja sama efektif yang kita miliki di kawasan ini memiliki dampak besar pada prospek ASEAN, tetapi juga dapat menjadi contoh positif bagi seluruh dunia,” kata Balakrishnan dalam pernyataan pers bersama Indonesia dan Singapura di Jakarta, Selasa seperti dikutip dari Antara.
Menurut dia, penutupan Selat Hormuz berdampak pada pasokan energi ke Asia, termasuk Asia Tenggara, dan inflasi dari harga energi yang lebih tinggi, serta memicu beberapa tantangan mendasar terhadap sistem berbasis aturan internasional.
Balakrishnan mengatakan dia telah berbicara dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dan mengundangnya berkunjung ke Asia Tenggara untuk melihat besarnya keragaman dan potensi pembangunan yang dimiliki wilayah itu.
Kunjungan tersebut penting untuk menegaskan arti perdamaian regional, tatanan dunia berbasis aturan, serta kepatuhan terhadap Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS), katanya.
Fakta bahwa ketiga negara telah mampu mempertahankan Selat Malaka dan Singapura sebagai jalur air yang terbuka, aman, dalam mekanisme kerja sama yang telah dirumuskan sesuai UNCLOS dapat menjadi contoh yang dapat diterapkan di wilayah lain di dunia, kata Balakrishnan, menambahkan.
Dia juga menyatakan bahwa Indonesia dan Singapura memiliki hubungan yang sangat baik dan telah saling mendukung dalam keadaan apa pun, terutama dalam menghadapi krisis Timur Tengah yang sedang terjadi.
“Baik itu saat pandemi COVID-19 dan sekarang krisis Timur Tengah, kita telah saling mendukung, kita telah saling membantu, dan kita akan melewati krisis ini bersama-sama,” kata Balakrishnan.
Perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran yang pecah pada 28 Februari 2026 berdampak pada penutupan Selat Hormuz, di mana jalur laut tersebut mendistribusikan sekitar 20 persen energi dunia, termasuk Indonesia.
Dua kapal tanker yang beroperasi untuk Pertamina, misalnya, terdeteksi masih berada di wilayah Teluk Persia, menurut situs pelacak perjalanan kapal Vessel Finder yang dipantau secara daring dari Jakarta, Selasa.
Kapal Pertamina Pride terdeteksi berada di lepas pantai Arab Saudi; sementara Kapal Gamsunoro tercatat berada di lepas pantai Irak, (RR)











Komentar