Aktivis Global Sumud Disetrum dalam Tahanan Israel

Internasional14 Dilihat

Istanbul, indomaritim.com – Aktivis yang ditahan dari Global Sumud Flotilla yang menuju Gaza mengalami sengatan listrik serta kekerasan fisik dan psikologis selama berada dalam tahanan Israel, menurut kesaksian yang didokumentasikan oleh kelompok hak asasi Israel bernama Adalah.

Adalah pada Rabu (20/5) menyatakan sedikitnya tiga aktivis dirawat di rumah sakit dengan luka serius, sementara puluhan lainnya diduga mengalami patah tulang rusuk dan kesulitan bernapas akibat kekerasan selama penahanan.

Menurut Antara, Adalah telah mengumpulkan kesaksian yang saling sesuai mengenai penggunaan sengatan listrik berulang terhadap para aktivis yang ditahan.

Kelompok itu juga mendokumentasikan laporan bahwa para tahanan dipaksa berada dalam posisi yang menyakitkan dan menghinakan selama pemindahan mereka ke Pelabuhan Ashdod, termasuk berjalan sambil membungkuk penuh ke depan dan berlutut dalam waktu lama.

Menurut Adalah, otoritas Israel juga secara paksa melepas jilbab beberapa aktivis perempuan yang ikut dalam armada tersebut.

Kelompok itu menyebut para tahanan diperkirakan akan dihadapkan pada pengadilan atau otoritas terkait pada Kamis untuk meninjau status penahanan mereka sebelum prosedur deportasi dilakukan.

Sebelumnya pada Rabu, Adalah menuduh otoritas Israel menjalankan kebijakan kriminal berupa penyiksaan dan penghinaan.

Tuduhan tersebut muncul setelah video yang dibagikan di media sosial oleh Otoritas Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, menunjukkan para aktivis berlutut dengan tangan diborgol di belakang punggung dan wajah menghadap lantai sementara lagu kebangsaan Israel diputar.

Para aktivis dipindahkan ke Pelabuhan Ashdod setelah Israel mencegat Global Sumud Flotilla di perairan internasional.

Informasi mengenai lokasi, status hukum, dan kondisi para tahanan juga “sangat dibatasi,” menurut Adalah.

Armada tersebut berangkat Kamis lalu dari distrik Marmaris di Turki dalam upaya baru untuk menembus blokade Israel terhadap Gaza yang telah berlangsung sejak 2007.

Ini bukan pertama kalinya insiden seperti itu terjadi terhadap armada tersebut.

Pada akhir April, militer Israel menyerang kapal-kapal armada di perairan internasional dekat pulau Kreta, Yunani. Konvoi saat itu terdiri dari 345 peserta dari 39 negara.

Israel telah memberlakukan blokade ketat terhadap Jalur Gaza sejak 2007, yang membuat 2,4 juta penduduk wilayah tersebut berada di ambang kelaparan.

Militer Israel melancarkan serangan brutal di Gaza pada Oktober 2023 yang menyebabkan lebih dari 72.000 orang tewas, lebih dari 172.000 lainnya terluka, serta menimbulkan kerusakan besar di seluruh wilayah yang terkepung tersebut. (RR)

PERINGATAN!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel/gambar/video/infografis tanpa izin tertulis dari redaksi indomaritim.com.

Komentar