Jakarta, indomaritim.com– Menteri luar Negeri (Menlu) RI periode 2001—2009 Hassan Wirajuda menilai perundingan perdamaian antara Iran dan Amerika Serikat tetap memiliki proyeksi positif meski dengan dinamika, ataupun gejolak yang berlangsung seiring dengan berjalannya dialog.
“Menurut saya, hal-hal tersebut masih dapat diatasi,” kata Hassan menanggapi dinamika sepanjang negosiasi Iran-AS, ditemui di sela-sela agenda Forum Jakarta 2026 untuk memperingati 5 tahun kemitraan strategis komprehensif ASEAN-China pada Senin di Jakarta.
Dikutip dari Antara, Hassan menjelaskan bahwa memorandum yang diteken pemimpin AS dan Iran pada 18 Juni lalu masih merupakan kesepakatan awal yang menjadi dasar untuk perundingan kesepakatan perdamaian akhir selama 60 hari ke depan.
Perundingan yang berlangsung di Swiss hingga saat ini, kata dia, bisa jadi tidak mulus karena adanya pengaruh dan terikatnya pihak-pihak di luar kesepakatan, yaitu Israel dan Hizbullah, dalam syarat kelanggengan kesepakatan.
Ketika Israel tak berhenti menyerang Hizbullah di Beirut dan Lebanon selatan, Iran akan menyebut hal tersebut sebagai pelanggaran memorandum yang mensyaratkan Iran dan AS beserta sekutu-sekutunya ikut dalam gencatan senjata, kata Hassan.
Adapun terkait ancaman yang kembali dilontarkan Presiden AS Donald Trump kepada Iran di tengah negosiasi yang berjalan, Hassan melihat hal tersebut juga masih bisa diatasi mengingat ada pihak lain di AS yang masih menunjukkan komitmen terhadap negosiasi.
“Di saat yang sama ada pula Wakil Presiden JD Vance yang suaranya masih lebih positif,” ucap mantan menlu RI itu, menyoroti peran sang wapres yang ikut langsung dalam negosiasi di Swiss.
Hassan pun memproyeksikan bahwa dinamika semacam itu masih dapat terjadi lagi sepanjang proses negosiasi antara Washington dan Teheran.
Sebelumnya, Menlu Iran Abbas Araghchi mengatakan perundingan dengan AS di Swiss menunjukkan kemajuan signifikan dalam upaya mengakhiri konflik di Lebanon dan mengurangi tekanan terhadap perekonomian Iran.
“Pembatasan terhadap ekspor minyak dan petrokimia dicabut, blokade diakhiri, sebagian aset yang dibekukan dilepaskan, dan program rekonstruksi serta pembangunan besar diluncurkan untuk Iran,” kata Araghchi di platform media sosial X.
Pernyataan itu disampaikannya setelah Qatar dan Pakistan mengumumkan kemajuan penting dalam upaya diplomatik antara AS dan Iran.
Dalam pernyataan bersama, kedua negara mediator itu mengatakan para pihak sepakat membentuk mekanisme koordinasi bersama yang melibatkan Lebanon untuk memastikan kepatuhan terhadap penghentian operasi militer di Lebanon sesuai memorandum yang telah dicapai AS-Iran. (Edo)








Komentar