Jakarta, indomaritim.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk siswa sekolah menjadi perhatian nyaris semua elemen masyarakat, karena selain besarnya dana yang dianggarkan dalam APBN 2026 mencapai Rp 268 triliun, korupsi anggaran oleh Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana beserta dua mantan wakil kepala lembaga itu, hingga ironi makanan MBG yang justru menyebabkan keracunan 38 ribu siswa di 38 provinsi berdasarkan temuan Komnas HAM.
Heboh program MBG ini juga menarik perhatian perupa Eko Nugroho (1977) yang dia ekspresikan lewat karya seni rupa pada pameran bertajuk Tropical Aliens di Nadi Gallery, Jakarta, 8 Juli – 2 Agustus 2026. Pada pameran yang memajang 35 karya ini Eko ingin menyampaikan keresahannya terhadap kondisi Indonesia pada saat ini.
“Eko Nugroho merasa bahwa rakyat Indonesia saat ini sedang teralienasi oleh negaranya sendiri,” ujar Dhira.
Pada karya dengan narasi program MBG ini Eko Nugroho menampilkan sosok figur mengenakan pakaian serba hitam dengan kepala tertutup nampan makanan. Figur ini dalam posisi duduk di atas kursi siap menyantap nampan makanan yang berisi citraan makanan pada nampan di atas pahanya (Costume Party #2 Feeding to Silence, 2026).
Topeng dari nampan makanan yang melambangkan program yang digadang-gadang sebagai program yang ditujukan untuk masyarakat kurang mampu agar gizi anak mereka terpenuhi. “Sepintas ini merupakan program yang brilian jika dieksekusi dengan baik. Tapi sangat disayangkan program ini salah sasaran, yang dikenyangkan ternyata justru perut mereka yang ada di balik program ini,” kata Dhira Dwinanda.
Eko Nugroho dikenal dengan karyanya yang khas berupa separo citraan wajah tertutup lewat karya dua dimensi maupun tiga dimendi sebagai simbol universalitas, anonimitas, serta refleksi atas pembatasan identitas dan perjuangan manusia dalam situasi krisis sosial. Eko menyusun struktur bentuk gelembung yang diikat seolah rentan menimbulkan ledakan dan lima struktur bentuk persegi dengan sudut runcing dalam warna biru, hijau dan coklat yang justru bisa memicu ledakan pada struktur dasarnya.
Pada struktur bentuk itu mencul bentuk setengan wajah figur seperti dalam kondisi terkurung dan diimbuhi teks tulisan bernuansa sinisme: Bangsa yang masih menjunjung tinggi budaya ramah tamah pada korupsi (Pesta Nestapa, 2026).
Eko juga mengeksplorasi narasi praktek korupsi di lingkungan pejabat lewat karya dua dimensi dalam warna monokrom, berupa potret wajah yang terpenjara di pada struktur bentuk menjulang, dibelit rangkain bentuk selang, sementara bagian badan dibangun dari struktur besi seperti teralis pintu besi ruang penjara dengan bentuk tangan memegang citraan buku dengan tulisan di sampulnya yang menjadi judul karya ini (Pandora Korupsi Setelah Menjabat, 2026).
Puncak keresahan Eko Nugroho dia tuangkan lewat karya seri Abandoned Monument (2026). Karya seri ini berhubungan dengan pernyataannya bahwa karya seni bisa dipandang sebagai penanda jaman bagi kondisi suatu negara. Seri ini dibuat menyerupai totem dalam komposisi warna cerah, yang semuanya mempunyai bagian atas, tengah dan bawah yang terpisah.
Sosok totem yang seharusnya merupakan sesuatu yang dipuja dan ditinggikan, kini tampak sudah diubah oleh campur tangan manusia. Sistem hirarki yang semestinya dijunjung oleh lembaga pemerintahan untuk saling mengawasi demorasi di Indonesia, sudah berubah dengan campur tangan para pemangku kepentingan. Hirarki yang terjadi di Indonesia justru menempatkan rakyat di bawah sistem dan terus mendapatkan tekanan dari atas.
Eko Nugroho menarasikan perpindahan haluan dari menuju era keemasan menjadi masuk ke era kecemasan. Meski Eko merasa kondisi saat ini sedang tidak baik-baik saja, dia berusaha memberikan harapan. Kata-kata yang tertulis di beberapa karyanya memiliki intonasi negatif, tapi semua dibalut dengan warna dan corak yang saling bertabrakan. Kombinasi warna-warna ini sengaja dipilih untuk tetap
memberikan suasana positif, dan memberikan kekuatan bagi kita untuk menjalani masa-masa yang gelap ini.
Itu juga yang merupakan poin kuat dari karya Eko Nugroho, sama seperti bagaimana dia menikmati semua proses berkarya (The Usai, 2026) . “Eko juga ingin kita semua sebagai audien bisa menikmati dan bersenang- senang dengan melihat dan merasakan karyanya secara langsung,” ujar Dhira Dwinanda.
Lewat eksplorasi terhadap keriuhan bentuk, warna, dan ketajaman narasi, karya Eko Nugroho seolah memberi peluang bersuara bagi rakyat yang disuguhi pidato omon-omon dengan narasi tunggal yang tak kenal jeda sang pemimpin yang dilipihnya dalam pemilu. Satu praktek politik yang mengingatkan orang pada masa rezim Orde Baru berkuasa. (RF)










Komentar