Teheran, indomaritim.com – Iran mengubah doktrin militernya dari sikap bertahan menjadi siap menyerang setelah menghadapi konflik terbaru dengan Amerika Serikat dan Israel, kata juru bicara Angkatan Darat Iran Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia.
“Sebelumnya doktrin militer negara kami bersifat defensif, tetapi dalam dua perang ini (dengan AS dan Israel), kami menyaksikan perubahan doktrin militer dari defensif menjadi ofensif,” kata Akraminia seperti dikutip dari Antara, Sabtu.
Menurut dia, doktrin ofensif baru tersebut tidak hanya mencakup operasi pencegahan, tetapi juga respons segera dan berskala besar terhadap setiap agresi yang dilakukan musuh.
Pada malam 18 Juni, Teheran dan Washington menandatangani nota kesepahaman untuk mengakhiri konflik yang dimulai pada 28 Februari.
Namun, pada 8 Juli, Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata tersebut tidak lagi berlaku. Sejak itu, pasukan AS melancarkan sejumlah serangan terhadap Iran.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan serangan tersebut dilakukan sebagai respons terhadap tindakan Iran terhadap kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.
Iran kemudian membalas dengan menyerang pangkalan AS di sejumlah wilayah Timur Tengah.
Pada 12 Juli, Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz hingga AS menghentikan intervensinya di kawasan tersebut.
Sehari kemudian, Trump mengatakan AS akan menjadi “penjaga” Selat Hormuz dan kembali memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran.
Pada Kamis, Trump mengatakan Teheran telah menyia-nyiakan kesempatan untuk mencapai kesepakatan dengan Washington sehingga AS meluncurkan operasi ekonomi berskala besar terhadap Republik Islam tersebut.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut operasi itu sebagai upaya mengalihkan perhatian dari krisis yang dihadapi AS sendiri dan justru akan membawa Washington pada kekalahan yang lebih besar. (Dul)








Komentar