AS Ancam China Jika Nekat Berbisnis dengan Iran

Internasional38 Dilihat

Washington, indomaritim.com – Amerika Serikat memperingatkan China dan negara lain atas risiko sanksi sekunder yang semakin tinggi jika mereka berbisnis dengan Iran, seiring peluncuran kampanye baru AS untuk memutus jalur ekonomi vital Iran.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kampanye “Operation Economic Outcast” itu berfokus pada lima sektor ekonomi Iran, yaitu aset digital, teknologi, emas, penerbangan, dan pelayaran.

“Mereka yang berdiri bersama Amerika Serikat akan menuai manfaat dari kemitraan kami. Mereka yang mengikat diri pada rezim Iran harus bersiap untuk ikut merasakan isolasi yang dialami rezim terpuruk itu,” kata Bessent dalam konferensi pers di Washington D.C., AS, Senin (24/8) seperti dikutip dari Antara.

Dia menegaskan tak ada pihak yang kebal terhadap sanksi AS. Bessent pun menekankan entitas atau negara mana pun, termasuk China sebagai mitra dagang utama Iran, dapat menjadi sasaran dalam operasi baru AS itu.

“Setiap negara memiliki batas waktu yang telah ditetapkan untuk menghentikan aktivitas-aktivitas yang telah kami identifikasi. Jika mereka tidak mengambil tindakan, maka kami akan melakukannya secara sepihak melalui kewenangan Departemen Keuangan AS,” kata Bessent.

 

Dia menambahkan saat ini adalah saatnya bagi para pemimpin dunia untuk mengambil keputusan antara kemakmuran dan isolasi, perdamaian dan teror, serta Amerika dan Iran.

Namun, pemerintahan Trump tidak mengungkapkan rincian upaya terbarunya untuk memberikan tekanan ekonomi.

“Kami tidak akan menyebut nama-nama tertentu,” kata Bessent.

Masih belum jelas bagaimana rencana yang baru diumumkan untuk memblokir sumber pendapatan Iran itu akan berbeda dari upaya-upaya AS sebelumnya.

Bessent menyampaikan beberapa contoh dengan mengatakan bahwa setiap entitas yang memfasilitasi pencucian uang untuk Iran akan dikeluarkan dari sistem dolar AS.

Selain mengumumkan kemungkinan sanksi sekunder, Bessent mengatakan bahwa AS telah memutuskan untuk menjatuhkan sanksi terhadap sekitar 60 entitas, individu, dan kapal di seluruh dunia karena memungkinkan rezim Iran memperoleh teknologi nuklir dan rudal ilegal, melakukan operasi siber, serta menghasilkan pendapatan dari minyak.

Ancaman itu muncul di tengah upaya Presiden AS Donald Trump yang masih berusaha mencapai kesepakatan dengan Iran guna mengakhiri konflik yang telah berlangsung hampir enam bulan dan hanya sebulan sebelum rencana kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Gedung Putih. (Edo)

PERINGATAN!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel/gambar/video/infografis tanpa izin tertulis dari redaksi indomaritim.com.

Komentar