Istanbul, indomaritim.com – Oman mengumumkan penundaan pertemuan regional yang dijadwalkan Senin di Salalah untuk membahas pengaturan rute maritim baru melalui Selat Hormuz.
Kementerian Luar Negeri Oman, Minggu (13/9) malam mengatakan pertemuan itu ditunda hingga waktu yang belum ditentukan “untuk membantu menciptakan kondisi yang tepat bagi dialog konstruktif.”
“Demi kepentingan konsensus, pertemuan regional yang dijadwalkan besok di Salalah ditunda,” tulis Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi di platform media sosial X.
“Kami tetap berkomitmen mendorong dialog yang mendukung stabilitas dan kerja sama jangka panjang di kawasan kami,” tambahnya seperti dikutip dari Antara.
Albusaidi menyertakan bendera Bahrain, Iran, Irak, Uni Emirat Arab, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Kuwait dalam unggahannya, yang menunjukkan negara-negara yang diperkirakan menghadiri pertemuan tersebut.
Dia tidak mengumumkan tanggal baru pertemuan maupun menjelaskan lebih lanjut alasan penundaan.
Penundaan itu terjadi sehari setelah Bahrain menolak berpartisipasi dalam pertemuan tingkat menteri regional yang diusulkan dan melibatkan Iran.
Kementerian Luar Negeri Bahrain pada Sabtu (12/9) mengatakan Manama tidak akan mengikuti pertemuan tingkat menteri bersama Iran sebelum hubungan diplomatik kedua negara dipulihkan.
Pernyataan tersebut disampaikan sebagai respons terhadap laporan mengenai rencana pertemuan tingkat menteri terkait perkembangan di Selat Hormuz.
Bahrain merupakan salah satu negara Teluk yang menjadi sasaran Iran dalam konfrontasi Iran dengan Amerika Serikat.
Teheran sebelumnya menargetkan lokasi yang disebutnya terkait dengan pasukan AS di Bahrain, termasuk Pangkalan Udara Isa, sebagai pembalasan atas serangan AS terhadap sasaran Iran.
Sementara itu, Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei, Jumat (11/9) mengatakan Teheran akan menyelenggarakan pertemuan tersebut di Oman pada tingkat menteri luar negeri dengan melibatkan delapan negara yang berbatasan dengan Teluk.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, Minggu (13/9) mengatakan kepada media berbahasa Arab yang berbasis di London, Al-Araby Al-Jadeed, bahwa “agenda utama, bahkan satu-satunya, pertemuan ini adalah rute maritim baru di Selat Hormuz.”
Dia mengatakan Iran dan Oman telah menyelesaikan kesepakatan mengenai rute baru tersebut, lengkap dengan peta dan pernyataan bersama yang menjelaskan pengaturannya.
Araghchi menegaskan kesepakatan dengan Oman “sama sekali tidak” berarti pembukaan kembali Selat Hormuz.
AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Februari, yang kemudian mendorong Teheran membalas dengan menyerang Israel dan sasaran militer AS di berbagai wilayah kawasan.
AS dan Iran menandatangani Memorandum Islamabad pada Juni melalui mediasi Pakistan dan Qatar. Namun, pelaksanaannya kemudian terhenti akibat perselisihan mengenai Selat Hormuz.
AS melanjutkan serangan militer terhadap Iran pada Agustus, sementara Teheran merespons dengan menyerang aset militer AS di sejumlah negara Arab yang bersekutu dengan Washington. (Dul)







Komentar