Polisi Selidiki Kematian Taruna Pelayaran Malahayati Aceh

Info Maritim11 Dilihat

Banda Aceh, indomaritim.com – Seorang Taruna Politeknik Pelayaran Malahayati Aceh, Muhammad Rasya Fadilla (18) meninggal dunia di RSUD Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh, Minggu (27/9) dengan kondisi tubuh memar dan banyak ruam kemerahan.

Pihak kepolisian sedang menangani kasus tersebut. “Untuk mengetahui penyebab pasti meninggalnya korban, pihak kepolisian telah berkoordinasi dengan dokter forensik RSUDZA,” kata Kasatreskrim Polresta Banda Aceh, Kompol Miftahuda Dizha Fezuono, di Banda Aceh, Senin seperti dikutip dari Antara.

Kompol Dhiza mengatakan, taruna program Diploma III (D-III) Studi Nautika asal Kota Lhokseumawe tersebut sebelumnya mengalami demam tinggi dan nyeri tenggorokan, hingga dirujuk ke rumah sakit setelah muncul ruam kemerahan di sekujur tubuhnya.

Kepolisian, telah melakukan penyelidikan awal terkait peristiwa meninggalnya mahasiswa tersebut. Polisi juga telah mendatangi lokasi kejadian di lingkungan Poltekpel Malahayati Aceh.

“Berdasarkan keterangan awal, korban sebelumnya mengalami demam dan nyeri tenggorokan, kemudian menjalani perawatan di klinik Poltekpel Malahayati Aceh sebelum dirujuk ke RSUDZA,” ujarnya.

Berdasarkan kronologi yang dihimpun kepolisian, korban mendatangi Poliklinik Poltekpel Malahayati Aceh pada Sabtu (26/9) sekitar pukul 16.21 WIB.

Saat itu, korban yang sedang mengikuti pendidikan D-III Studi Nautika mengeluhkan demam dan nyeri tenggorokan. Dokter klinik kemudian melakukan pemeriksaan terhadap tanda-tanda vital korban.

Hasil pemeriksaan menunjukkan tekanan darah 131/74 mmHg, denyut nadi 104 kali per menit, dan suhu tubuh mencapai 39,7 derajat celsius.

Setelah pemeriksaan, lanjut Kompol Dizha, korban mendapatkan penanganan medis berupa pemasangan infus untuk membantu menurunkan demam serta pemberian obat minum guna mengurangi nyeri.

“Namun, pada Minggu (27/9), sekitar pukul 10.17 WIB, muncul ruam kemerahan pada tubuh korban,” katanya.

Selanjutnya, kata dia, tim medis melakukan observasi, tetapi ruam kemerahan tersebut dilaporkan semakin banyak. Sekitar pukul 16.14 WIB, korban dinyatakan meninggal dunia.

Untuk mengetahui penyebab pasti meninggalnya korban, pihaknya telah berkoordinasi dengan dokter forensik RSUDZA untuk menjalani pemeriksaan luar melalui visum et repertum serta CT scan jenazah.

Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk membantu mengetahui kondisi tubuh korban, termasuk memeriksa adanya memar atau ruam kemerahan, kata Kasatreskrim.

“Pemeriksaan tidak dilanjutkan dengan autopsi karena pihak keluarga tidak memberikan izin. Berdasarkan keterangan dokter forensik, dr Taufik, dugaan sementara korban meninggal dunia karena sakit,” ujarnya.

Meski demikian, penyebab pasti kematian korban masih menunggu hasil pemeriksaan medis dan forensik, visum et repertum dan CT scan.

Kompol Dizha menegaskan, penyelidikan akan terus dilakukan untuk memperoleh gambaran lengkap mengenai peristiwa tersebut. Polisi bakal berkoordinasi dengan pihak RSUDZA terkait hasil pemeriksaan forensik dan CT scan jenazah.

Selain itu, penyidik juga segera meminta keterangan dari pihak Poltekpel Malahayati Aceh serta sejumlah saksi, termasuk pihak yang mengetahui kondisi korban sebelum dirujuk ke rumah sakit.

“Penyelidikan ini untuk melengkapi keterangan dan memastikan rangkaian peristiwa sebelum korban meninggal dunia,” kata Kompol Dhiza.

Sementara itu, Poltekpel Malahayati membantah keras terkait isu dugaan korban mendapatkan kekerasan saat mengikuti orientasi di kampus setempat, dan menyerahkan masalah ini ke aparat kepolisian.

“Tidak benar adanya (kekerasan). Masih dalam tahap pemeriksaan ya, sejauh ini sedang proses,” kata Pengelola Kehumasan Poltekpel Malahayati Aceh, Andriyan saat dikonfirmasi. (Dul)

PERINGATAN!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel/gambar/video/infografis tanpa izin tertulis dari redaksi indomaritim.com.

Komentar