Rumah Konservasi Penyu di Bengkulu Tetaskan 3.000-an Tukik pertahun

Daerah, Info Maritim1372 Dilihat

Bengkulu, indomaritim.com – Rumah Konservasi Komunitas Pelestarian Penyu Alun Utara Kabupaten Bengkulu Tengah, Provinsi Bengkulu mampu menetaskan sekitar 2.000 hingga 3.000 tukik per tahun dari telur penyu yang dikumpulkan dan ditetaskan melalui kegiatan konservasi.

“Kalau untuk tahun-tahun yang sudah-sudah bisa mencapai ribuan. Kalau per bulannya bisa mencapai 200 atau 300 penyu yang menetas,” kata Pelestari Penyu Rumah Konservasi Komunitas Pelestarian Penyu Alun Utara Kabupaten Bengkulu Tengah Zul Karnedi di Bengkulu, Selasa.

Zul mengatakan kegiatan penetasan penyu dilakukan untuk menjaga keberlangsungan populasi penyu di wilayah pesisir Bengkulu. Penyu yang ditetaskan di rumah konservasi berasal dari telur yang ditemukan di sejumlah kawasan pantai.

Menurut dia jenis penyu yang saat ini berada dalam kegiatan konservasi di tempatnya meliputi penyu sisik, penyu hijau, Dan penyu lekang. Penyu yang telah menetas selanjutnya dirawat sebelum dilepasliarkan sesuai kondisi dan kebutuhan konservasi.

Dia mengatakan keberadaan rumah konservasi juga membantu mengurangi risiko telur penyu dimanfaatkan untuk konsumsi. Sebab, masih terdapat masyarakat yang menemukan telur penyu dan menjualnya karena belum memahami pentingnya menjaga satwa tersebut.

“Kalau telur-telurnya oleh pemburu-pemburu telur yang belum punya kesadaran masih tetap dijadikan untuk konsumsi secara pribadi,” ucapnya seperti dikutip dari Antara.

Zul mengatakan pihaknya menerima telur penyu yang ditemukan masyarakat untuk ditetaskan. Bagi masyarakat yang menyerahkan telur, pengelola memberikan biaya kompensasi sebagai bentuk penggantian biaya yang dikeluarkan saat menemukan dan mengantarkan telur, bukan melalui mekanisme jual beli telur penyu.

“Kalau menurut aturan itu kan tidak bisa dijual-beli. Tetapi karena mereka menemukannya, tetap kita kasih biaya kompensasi,” katanya.

Menurut Zul telur penyu yang diterima rumah konservasi tidak hanya berasal dari kawasan sekitar Alun Utara. Sebagian telur juga berasal dari wilayah Pulau Tikus dan Teluk Sepang Kota Bengkulu. Telur tersebut diserahkan oleh masyarakat yang telah memiliki kesadaran untuk menjaga telur penyu.

Dia mengatakan kondisi populasi penyu di wilayah Bengkulu mulai menunjukkan perkembangan dibandingkan sebelumnya. Pemantauan juga dilakukan bersama nelayan yang berada di sekitar kawasan pesisir.

“Kalau dulu-dulunya penyunya memang berkurang, tapi sekarang sudah lumayan bertambah. Karena dulu penyu-penyu tidak ada di karang-karang yang ini (dekat rumah konservasi) sekarang sudah banyak di karang,” kata Zul.

Selain rumah konservasi, nelayan di kawasan pesisir juga membuat kawasan yang mereka sebut sebagai Karang Penyu di arah depan Pantai Malabero sebagai bagian dari kepedulian terhadap keberadaan penyu.

Zul mengatakan penguatan fasilitas rumah konservasi dibutuhkan agar kegiatan penetasan dan perawatan tukik dapat berjalan lebih optimal. Sebelumnya, sejumlah bangunan yang digunakan untuk kegiatan konservasi rusak akibat abrasi.

“Kemarin kami dapat bantuan dari perusahaan otomotif, tetapi karena musibah alam sehingga bangunan-bangunan bantuan itu banyak sudah hancur. Nah sekarang kami baru dapat bantuan dari PT Pelindo,” katanya.

Dia berharap bantuan pembangunan rumah konservasi tersebut dapat dimanfaatkan sebaik mungkin untuk mendukung kegiatan pelestarian penyu, termasuk penetasan telur dan perawatan tukik sebelum dilepasliarkan. (Edo)

PERINGATAN!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel/gambar/video/infografis tanpa izin tertulis dari redaksi indomaritim.com.

Komentar