Banjarmasin, indomaritim.com – Basarnas menyebut tim penyelam gabungan berhasil mengevakuasi 50 jasad korban kecelakaan KM Virgo Transport 8 yang tenggelam di Laut Jawa hingga hari ke-21 operasi pencarian dan pertolongan (SAR), Sabtu, meskipun pelaksanaan pencarian bawah air menghadapi berbagai keterbatasan di lokasi.
“Penyelaman merupakan salah satu upaya penting dalam proses pencarian dan evakuasi korban. Dari hasil evaluasi pelaksanaan penyelaman, dilaksanakan rata-rata empat sampai lima sortie per hari. Setiap sortie dikerahkan dua sampai tiga tim dengan kekuatan lima penyelam tiap tim,” kata Kepala Basarnas Mohammad Syafii dalam konferensi pers di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Sabtu malam.
Menurut Antara, dalam konperensi pers perkembangan operasi SAR hari ke-21 kecelakaan KM Virgo Transport 8, disebutkan bahwa sejak kecelakaan pada Minggu (13/9), kegiatan penyelaman dilaksanakan sekitar hari ketiga mulai pukul 09.00 sampai dengan 16.00 WITA, dengan hasil hingga operasi SAR hari ke-21 sebanyak 50 korban dalam kondisi meninggal dunia telah dievakuasi oleh penyelam.
“Metode penyelaman memberikan kontribusi yang signifikan terhadap proses pencarian dan evakuasi korban, meskipun pelaksanaannya dihadapkan pada keterbatasan kondisi cuaca maupun kondisi lokasi pelaksanaan operasi SAR underwater,” ucapnya.
Basarnas juga mengevaluasi bahwa semakin jauh operasi penyelaman dilakukan ke bagian dalam kapal, semakin kompleks risiko yang dihadapi. Karena itu, diperlukan keseimbangan antara strategi dan upaya pencarian dengan keselamatan personel.
Dalam operasi tersebut, penyelam telah melakukan penetrasi sekitar 10 hingga 15 meter ke dalam kapal, tetapi penetrasi lebih jauh terhambat banyaknya barang, material, dan debris di dalam kapal.
“Beberapa jendela sudah dibuka dan dapat dimasuki penyelam, namun setelah hari ke-19 operasi SAR tidak ditemukan lagi korban dari akses tersebut,” tuturnya.
Syafii menyebutkan risiko penyelaman juga dipengaruhi struktur kapal yang tidak stabil karena posisi kapal masih dapat mengalami perubahan trim dan kemiringan yang dikhawatirkan meningkatkan risiko apabila perubahan kemiringan terjadi secara tiba-tiba saat penyelam berada di dalam kapal.
Selain itu, visibilitas sangat rendah akibat sedimen dan debris yang tidak hanya menghambat pencarian, tetapi juga meningkatkan risiko disorientasi penyelam, kemudian terdapat pula banyak benda tajam yang dapat menyebabkan luka maupun cedera serta potensi bahaya kimia akibat tumpahan minyak dan kontaminasi lainnya.
“Pada kedalaman sekitar 27 meter, kondisi gas juga menjadi salah satu faktor pembatas waktu kerja penyelam. Dengan penggunaan Scuba, waktu kerja diperkirakan tidak lebih dari 20 menit dalam setiap penyelaman, sehingga kondisi kapal, lingkungan bawah air, visibilitas, debris, kontaminasi, kedalaman, dan waktu kerja menjadi pertimbangan dalam operasi SAR underwater,” ujarnya.
Hingga hari ke-21 operasi SAR, Sabtu, pukul 22.00 WITA, Basarnas mengonfirmasi sebanyak 188 orang telah ditemukan, terdiri atas 108 orang selamat dan 80 orang meninggal dunia, sementara 55 korban lainnya masih proses pencarian dari total 243 orang dalam manifes KM Virgo Transport 8.
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan setelah melakukan evaluasi pada hari ke-21, Basarnas memutuskan tetap melanjutkan operasi SAR dengan waktu yang fleksibel sesuai perkembangan di lapangan dan menyesuaikan dengan jumlah personel, namun tetap dengan unsur instansi yang telah terlibat sejak awal pelaksanaan operasi SAR. (Edo)














Komentar