Rekor MURI Pecah: 8.100 Batang Bangrove Ditanam di Kota Probolinggo

Daerah9 Dilihat

Kota Probolinggo, indomaritim.com – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama masyarakat menanam 8.100 batang mangrove di Bee Jay Bakau Resort Kota Probolinggo dengan berhasil memecahkan Rekor MURI dalam Festival Mangrove Jatim 2026, Selasa (3/11) sore.

“Kami kembali menggalakkan gerakan sedekah oksigen melalui Festival Mangrove Jawa Timur ke-11 Tahun 2026 di Bee Jay Bakau Resort Kota Probolinggo,” kata dia dalam keterangan di Kota Probolinggo, Rabu.

Dengan mengusung tema “Mangrove Lestari, Masyarakat Sejahtera”, festival tersebut diisi dengan penanaman 8.100 batang bibit mangrove yang melibatkan pelajar, mahasiswa, kelompok tani hutan, komunitas, serta mitra pembangunan.

Penanaman mangrove tersebut juga dilakukan Gubernur Khofifah bersama Wali Kota Probolinggo Aminuddin, Bupati Probolinggo Muhammad Haris, dan vokalis band rok Indonesia, Slank, Kaka Slank.

“Kami menegaskan sedekah oksigen melalui pelestarian mangrove sebagai investasi ekologis jangka panjang dan penguat ketahanan pesisir,” katanya seperti dikutip Antara.

Selain penanaman mangrove, kegiatan pemulihan ekosistem dirangkai dengan pelepasliaran enam ekor burung pecuk padi hitam dan 300 ekor kepiting.

Menurut dia, kesadaran menanam dan melestarikan mangrove langkah penting menghadapi perubahan iklim global karena gerakan sedekah oksigen menjadi wujud kepedulian terhadap keberlangsungan lingkungan dan kehidupan masyarakat pesisir.

“Itu adalah cara memperkuat ketahanan kawasan pesisir sekaligus investasi ekologis jangka panjang karena selagi yang ditanam tumbuh dan bisa menyerap karbondioksida berarti menghasilkan oksigen maka saat itu kita bersedekah oksigen,” ujarnya.

Hutan mangrove acapkali disebut sebagai pahlawan super dalam menjaga ekosistem pesisir karena kemampuan luar biasa dibandingkan dengan hutan daratan biasa, sedangkan di Jawa Timur upaya pelestarian mangrove menunjukkan tren positif.

Berdasarkan Peta Mangrove Nasional Tahun 2025, luas mangrove eksisting di Jawa Timur mencapai 31.067 hektare, meningkat 3.846 dibandingkan dengan pada 2021 seluas 27.221 hektare.

“Peningkatan itu merupakan hasil dari berbagai upaya pelestarian yang perlu terus dijaga. Festival Mangrove turut menjadi wadah untuk mempertemukan para pihak, memperkuat dukungan, dan mendorong kesinambungan aksi perlindungan serta rehabilitasi mangrove,” katanya.

Meski menunjukkan hasil capaian yang baik, Khofifah mengatakan untuk tidak cepat berpuas diri karena keberhasilan rehabilitasi mangrove tidak hanya diukur dari bertambah luas kawasan atau jumlah bibit yang ditanam, tetapi juga dari kualitas ekosistem dan keberhasilan pemulihan.

“Rehabilitasi harus dilaksanakan secara terencana dengan memperhatikan kesesuaian lokasi, pemilihan jenis tanaman, kondisi lingkungan serta pemeliharaan dan pemantauan pasca-tanam sehingga kita dapat memastikan mangrove tumbuh optimal dan fungsi ekologisnya tetap terjaga,” katanya.

Pelestarian mangrove juga sejalan dengan pengembangan ekonomi hijau (green economy) dan ekonomi biru (blue economy) di Jawa Timur. Ekosistem mangrove yang terjaga membuka peluang ekonomi melalui perikanan berkelanjutan, ekowisata, serta pengembangan usaha kreatif masyarakat pesisir.

Ia mencontohkan Bee Jay Bakau Resort Kota Probolinggo yang diresmikan memadukan wisata, edukasi dan kepedulian lingkungan. Model pengembangan seperti itu menunjukkan pelestarian alam dapat berjalan seiring dengan penguatan ekonomi lokal, tanpa mengabaikan daya dukung ekosistem.

“Saya mendorong sinergi pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, komunitas dan masyarakat, termasuk generasi muda terus memperkuat rehabilitasi mangrove dan pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir,” katanya.

Sejak 2022, Festival Mangrove Jatim diselenggarakan secara berkesinambungan sebagai wadah kolaborasi multi-pihak untuk menjaga ekosistem mangrove. Konsistensi penyelenggaraan festival tersebut memperoleh pengakuan MURI atas penyelenggaraan “Festival Mangrove secara Seri Terbanyak dalam Waktu 5 Tahun”.

“Pengakuan itu menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas dan dampak gerakan pelestarian mangrove yang dibangun secara kolektif dan berkelanjutan mampu menjaga kesinambungan agenda dan memperkokoh kerja bersama lintas pihak,” ujarnya.

Khofifah berharap, Festival Mangrove Jatim ke-11 semakin memperkuat komitmen bersama mewujudkan rehabilitasi mangrove yang terukur, berkelanjutan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat pesisir.

“Mari kita pastikan bahwa mangrove yang ditanam tumbuh menjadi warisan kehidupan bagi generasi mendatang,” ujarnya.

Wakil Kepala Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN) Mayjend TNI Sriyanto Muntasram mengapresiasi Festival Mangrove Jatim dan direncanakan diajukan menjadi festival mangrove nasional karena mangrove berdampak luar biasa bagi kehidupan. (Dul)

PERINGATAN!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel/gambar/video/infografis tanpa izin tertulis dari redaksi indomaritim.com.

Komentar