Kapal Rumah Sakit Beri Harapan Kesembuhan untuk Warga Pulau Terluar

Daerah, Info Maritim1223 Dilihat

Kei Besar, Maluku, indomaritim.com – Asap masih tebal menyelimuti Pulau Kei Besar, Maluku, pada siang hari itu. Meski langit masih dalam kondisi yang tidak biru usai wilayah itu dilanda kebakaran hutan dan lahan (karhutla), masyarakat tetap mengantre demi mendapatkan pengobatan gratis dari Rumah Sakit Kapal (RSK) Nusa Waluya II yang bersandar di Pelabuhan Elat sejak 8 September 2026.

Satu per satu petugas memanggil nama-nama mereka yang datang dengan berbagai keluhan, mulai dari sakit yang tidak membutuhkan penanganan serius, seperti batuk, pegal di pinggang sebelah kiri, hingga penyakit kulit yang membutuhkan pengobatan khusus.

Bagi Rindung (60), warga Desa Wakol, Pulau Kei Besar, Maluku Tenggara, mendapatkan pengobatan yang tepat bagi anaknya bukan perkara mudah. Selama setahun terakhir, ia harus menghadapi kenyataan bahwa penyakit kulit yang diderita anaknya tak kunjung sembuh meski sudah beberapa kali mendapatkan pengobatan.

Rindung memiliki anak berkebutuhan khusus yang berusia 12 tahun bernama Risdal. Setelah tiga kali membawa anaknya berobat ke rumah sakit di Desa Wakol, kondisi anaknya tidak kunjung membaik karena keterbatasan dokter spesialis kulit di fasilitas kesehatan yang selama ini didatangi.

Setelah diperiksa oleh dokter spesialis kulit yang kebetulan bertugas di RSK itu, Risdal ternyata didiagnosis scabies atau kudis. Setelah dua kali datang ke RSK, ia akhirnya berhasil mendapatkan salep pengobatan yang menyembuhkan rasa gatal dan infeksi di kedua tangannya. Berkat salep yang diberikan oleh dokter, Rindung mengaku penyakit yang diderita anaknya sudah tidak separah sebelumnya.

“Hari ini, alhamdulillah dokter di sini bilang anak saya sudah lebih baik kondisinya,” kata Rindung, saat ditemui setelah menjalani pemeriksaan seperti dikutip Antara.

Baginya, kehadiran rumah sakit kapal bukan sekadar menyediakan pengobatan gratis, melainkan juga memberikan kesempatan bagi anaknya untuk mendapatkan penanganan medis yang sebelumnya sulit dijangkau.

Pengalaman Rindung menggambarkan persoalan yang masih dihadapi masyarakat di wilayah kepulauan, yakni keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan, terutama untuk kebutuhan pemeriksaan dan penanganan oleh dokter spesialis.

Rawat inap hingga bedah gratis

Relawan dokter dari Indonesia Healthcare Corporation (IHC), dr Nunung Agustiarini, mengatakan penyakit kulit menjadi salah satu keluhan yang banyak ditemukan selama pelayanan kesehatan di Kepulauan Kei.

Selain itu, tim medis juga menemukan cukup banyak kasus infeksi saluran pernapasan, penyakit yang membutuhkan tindakan bedah, serta penyakit degeneratif, seperti hipertensi dan diabetes melitus.

Sejumlah pasien, bahkan datang dengan kondisi penyakit yang telah berlangsung cukup lama. Keterbatasan fasilitas kesehatan dan tenaga medis menjadi salah satu faktor yang menyebabkan masyarakat belum memperoleh penanganan sesuai kebutuhan medisnya.

Hal serupa diungkapkan oleh dr Daniel, yang ditemui saat tengah menjalankan operasi bedah hernia atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai turun berok pada seorang pasien berusia 60 tahun.

Sambil menjahit pasien, ia bercerita bahwa banyak masyarakat di Kepulauan Kei yang datang dengan kondisi sudah parah, menandakan mereka yang selama ini sebagian besar bekerja di kebun terlalu sering mengangkat beban-beban berat.

Direktur RSK Nusa Waluya II dr Tasia Risma Lidya Simaremare menjelaskan kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat di Kepulauan Kei cukup beragam. Tidak sedikit pasien yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut maupun tindakan medis yang memerlukan fasilitas khusus.

“Ada yang penyakitnya sudah cukup lama, sudah bertahun-tahun, tapi mungkin karena fasilitas kesehatannya tidak memadai, sehingga mereka belum berobat,” katanya.

Selain keterbatasan fasilitas, perbedaan bahasa, kultur, dan akses pendidikan juga menjadi tantangan tersendiri bagi tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan. Oleh karena itu, edukasi menjadi bagian penting agar masyarakat dapat memahami kondisi kesehatan serta penanganan yang diperluka

Pulau-pulau terluar

Sejak mulai beroperasi pada September 2026, RSK Nusa Waluya II telah melayani 6.195 penerima manfaat hingga Oktober. Jumlah tersebut masih berpotensi bertambah karena pelayanan dijadwalkan berlangsung hingga 8 November 2026.

Penanggung Jawab Sementara Corporate Social Responsibility (CSR) Manager Pertamina International Shipping (PIS) Gusthida Budhiartie mengatakan jumlah pasien di Kepulauan Kei menjadi yang tertinggi selama tiga tahun kolaborasi perusahaan dengan Yayasan Dokter Peduli (doctorSHARE).

Tingginya jumlah pasien menunjukkan besarnya kebutuhan, sekaligus antusiasme masyarakat terhadap layanan kesehatan yang lebih dekat dengan tempat tinggal mereka.

Indonesia sebagai negara kepulauan dengan sekitar 70 persen wilayah berupa lautan membutuhkan konektivitas yang tidak hanya mendukung distribusi energi, tetapi juga memungkinkan masyarakat di wilayah terpencil memperoleh akses terhadap layanan dasar.

“Jadi konektivitas ini penting dalam kehidupan bermasyarakat Indonesia, baik dalam menyalurkan energi maupun menyediakan akses kesehatan seperti yang dilakukan oleh doctorSHARE,” ujar Gusthida.

RSK Nusa Waluya II memiliki kapasitas 26 tempat tidur dan fasilitas pelayanan setara rumah sakit umum daerah tipe C. Layanan yang tersedia meliputi poliklinik spesialis, dokter umum, rawat inap, unit gawat darurat, hingga ruang operasi untuk menangani kebutuhan tindakan medis.

Kehadiran rumah sakit kapal tersebut merupakan hasil kolaborasi Pertamina Group, yang melibatkan PT Pertamina (Persero), PIS, dan IHC bersama doctorSHARE. Dukungan pemerintah daerah, puskesmas, serta kepala desa turut membantu kelancaran operasional, termasuk penyediaan air bersih dan transportasi bagi pasien.

Meski sempat menghadapi kendala kabut asap yang mengganggu operasional penerbangan yang mengakibatkan kedatangan sejumlah dokter spesialis harus mengalami penundaan, pelayanan tetap berjalan berkat dukungan berbagai pihak dan tingginya antusiasme masyarakat.

Bagi Rindung dan masyarakat yang selama ini menghadapi keterbatasan akses kesehatan, keberadaan rumah sakit kapal menjadi pengingat bahwa jarak geografis semestinya tidak menjadi penghalang untuk memperoleh pengobatan yang layak. (Hes)

PERINGATAN!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel/gambar/video/infografis tanpa izin tertulis dari redaksi indomaritim.com.

Komentar