Surabaya, indomaritim.com – PT Pelindo Terminal Petikemas masif melakukan modernisasi dan penguatan kapasitas pelabuhan peti kemas melalui penambahan dan relokasi alat bongkar muat di sejumlah terminal strategis.
“Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan efisiensi logistik dan mempercepat distribusi barang,” kata Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas Widyaswendra di Surabaya, Rabu seperti dikutip dari Antara.
Sejumlah alat utama bahkan telah tiba di terminal tujuan seperti tambahan empat unit Quay Container Crane (QCC) di TPK Semarang dan satu unit QCC di IPCTPK Panjang.
Terminal Petikemas Surabaya juga memperoleh tambahan 14 unit Rubber Tyred Gantry (RTG) dan empat unit QCC untuk memperkuat kapasitas bongkar muat.
Penguatan fasilitas turut dilakukan di terminal regional seperti pengiriman satu unit RTG ke TPK Kendari, empat unit RTG ke TPK Banjarmasin, dan satu unit RTG ke TPK Nilam guna mendukung konektivitas logistik antardaerah.
Selain itu, sejumlah alat tengah dalam proses produksi yakni dua unit QCC dan empat unit RTG untuk TPK Belawan, dua Unit QCC untuk TPK Perawang, dan dua unit RTG untuk Terminal Kijing.
Optimalisasi juga dilakukan melalui relokasi alat antarterminal termasuk pemindahan dua unit QCC dari TPS Surabaya ke TPK Berlian.
Selain relokasi alat dari terminal yang tingkat utilisasinya lebih rendah, Pelindo sekaligus melakukan retrofitting atau pembaruan alat lama untuk memperpanjang usia operasional dan meningkatkan performa.
Penguatan kapasitas di terminal regional dinilai strategis seperti di Terminal Kijing dengan lonjakan aktivitas logistik sepanjang 2025 tercermin dari peningkatan kunjungan kapal hingga 15 persen atau mencapai 741 panggilan kapal.
“Terminal Kijing mengalami lonjakan kunjungan kapal dengan volume kargo nonpetikemas yang cukup besar, baik curah kering maupun curah cair dari industri hilirisasi kelapa sawit dan alumina,” ujarnya.
Ia menyebut selama ini operasional peti kemas di Kijing masih banyak bergantung pada Harbour Mobile Crane (HMC) dan Reach Stacker sehingga tambahan alat dinilai penting untuk meningkatkan produktivitas layanan.
Sementara itu, TPK Banjarmasin disebut menjadi salah satu urat nadi logistik utama di Kalimantan dengan arus barang domestik yang terus menunjukkan pertumbuhan.
Arus barang domestik di koridor ini menunjukkan resiliensi yang kuat terutama dipicu konsumsi domestik dan kebutuhan industri hinterland pendukung pertambangan.
Dampaknya, frekuensi kunjungan kapal peti kemas domestik terus meningkat dan mulai memberi tekanan terhadap kapasitas lapangan penumpukan.
Adapun di Kendari, kebutuhan penguatan kapasitas terminal meningkat sejak operasional dipindahkan ke Bungkutoko atau Kendari New Port.
Sejak operasional dipindahkan ke Bungkutoko, kapasitas terminal melonjak signifikan hingga menyentuh kisaran 116.000 TEUs. (RR)








Komentar