Gorontalo, indomaritim.com – Pengelolaan wisata hiu paus di Desa Botubarani, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo, menjadi contoh pengembangan ekonomi masyarakat pesisir yang menggabungkan aktivitas wisata dengan upaya konservasi laut.
Ketua Pokdarwis Hiu Paus Botubarani Wahab Matoka mengatakan seluruh aktivitas wisata di kawasan tersebut dikelola oleh masyarakat setempat dengan tetap mengikuti aturan kawasan konservasi.
“Karena wisata ini berbasis masyarakat, otomatis semua pemangku kepentingan maupun panitia yang ada di sini adalah orang-orang sini semua,” kata Wahab di Gorontalo, Jumat seperti dikutip dari Antara.
Ia menjelaskan manfaat ekonomi dari wisata hiu paus tidak hanya dirasakan oleh pengelola utama, tetapi juga masyarakat melalui berbagai aktivitas pendukung.
Menurut dia, pendapatan yang diperoleh dari wisata juga dimanfaatkan untuk kegiatan sosial masyarakat, seperti pemberian bantuan menjelang bulan Ramadhan, kegiatan keagamaan, hingga pembagian daging kurban kepada warga.
“Semua masyarakat kebagian, mau kaya, mau miskin, semua itu kebagian manfaatnya karena memang untuk mendukung aktivitas masyarakat,” katanya.
Wahab mengatakan pengelolaan ekonomi wisata tetap diarahkan agar keberadaan hiu paus terjaga. Pihaknya menyediakan dana untuk kebutuhan konservasi, termasuk pemeliharaan fasilitas pendukung yang membantu keberlangsungan habitat hiu paus.
Ia menjelaskan salah satu upaya yang dilakukan adalah menyediakan rakit dengan lampu tenaga surya yang membantu menarik plankton sebagai sumber makanan hiu paus.
“Satu rakit ada 10 lampu, jadi tiga rakit ada 30 lampu yang menyala. Itu memancing plankton yang menjadi makanan hiu paus,” ujarnya.
Selain menjaga habitat, pengelola juga menerapkan aturan ketat bagi wisatawan, seperti larangan menyentuh hiu paus dan penggunaan perahu bermesin di kawasan konservasi.
Wahab mengatakan edukasi kepada wisatawan dilakukan sebelum berinteraksi dengan hiu paus untuk menjaga keselamatan pengunjung terhindar dari bakteri yang menempel di hiu paus sekaligus melindungi satwa tersebut agar tidak lecet tubuhnya.
“Kami selalu memberikan petunjuk apa yang bisa dilakukan dan tidak bisa dilakukan, termasuk jangan menyentuh hiu paus,” katanya.
Ia menambahkan pengelolaan wisata juga bekerja sama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Gorontalo untuk menjaga kawasan konservasi Teluk Gorontalo yang membentang dari laut Olele hingga kawasan Botubarani. (Dul)








Komentar