Kuala Lumpur, indomaritim.com – Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KASAL), Laksamana TNI (Purn) Prof. Dr. Marsetio mengungkapkan peran penting kemampuan menguasai kecerdasan buatan, atau artificial intelligence (AI), dan perang siber (cyber warfare) bagi dunia pertahanan Indonesia di masa depan.
Ia mengingatkan publik pada pernyataan Presiden Prabowo Subianto tentang perlunya para perwira paham tentang teknologi, tentang AI dan tentang perang di masa depan. “Pernyataan Presiden Prabowo ini penting sekali tetapi tidak banyak dikutip oleh orang,” ujar Marsetio di sela-sela acara CyberDSA kepada indomaritim.com di Kuala Lumpur, Malaysia, Selasa, 6 Oktober 2026.
“Perang ke depan itu sebenarnya kalau menurut saya pribadi, bukan soal multi-domain. Tapi yang penting perang bagaimana kita menggunakan AI, menggunakan cyber untuk menangkan pertempuran.” kata Prof. Marsetio yang juga guru besar Universitas Pertahanan RI.
CyberDSA, atau lengkapnya Cyber Digital Services, Defence & Security Asia, merupakan pertemuan tingkat regional untuk memajukan topik-topik pertahanan siber, keamanan digital dan transformasi digitral yang terpercaya.
Marsetio berbincang dengan indomaritim.com setelah acara diskusi Cyberstage Forum by Asia Collective sesi pertama yang bertajuk Security (Defence, Cyber Operations, Strategic Competition, Digital Conflict).
Mewakili Indonesia pada sesi ini adalah Kolonel Laut (P) Bagus Jatmiko, S.H., M.Sc., M.Tr.Opsla, Kepala Pusat Olah Yuda pada Sekolah Staf dan Komanda Angkatan Laut (Seskoal).
Menurut Marsetio, perang masa depan tidak lagi berbicara tentang postur, seperti berapa jumlah kapal, pesawat atau pasukan yang kita punya.
Memahami Cyber
Pada kesempatan itu Prof Marsetio mengatakan pentingya memahami cyber. “Tapi yang paling penting adalah bagaimana para prajurit, para perwira memahami tentang cyber. Tanpa memahaminya, kita lihat beberapa perang terakhir di Timur Tengah. Bagaimana Iran, kemudian bagaimana dengan Amerika, bagaimana dengan Israel.” ujarnya.
Marsetio mencontohkan bagaimana Amerika Serikat dapat menargetkan pemimpin nasional Iran dengan tepat. “Jadi membuat orang sadar begitu Ayatollah di bom kemaren itu. Itu orang sadar semua,” katanya.
“Di era saat ini bukan soal misil, bukan soal torpedo, bukan soal lagi berapa kapal perang, berapa kapal. Tapi bagaimana AI itu mendominasi.”
Laksamana Marsetio juga mengatakan saat ini bukan lagi mementingkan platform besar yang terlihat tapi harus sudah mengarah ke penguasaan AI dan siber. “Di era saat ini, multidomain mengkombinasi kemampuan itu semua. Jadi kalau menurut saya pribadi, ini kan masa transisi, peralihan. Dan pada level-level decision maker harus paham dulu tentang ini. Dia paham, nanti baru kita punya postur,” ujarnya.
“Kalau di dalam teori pembangunan kekuatan pertahanan, kita punya doktrin. Maka di era saat ini doktrin harus berubah dulu. Begitu doktrinnya berubah, maka strateginya berubah,” tambahnya.
“Begitu strateginya berubah, makanya postur ikut berubah. Kalau kita bicara ke depan, kita bicara postur kapal, pesawat, tank. Postur yang masuk di dalamnya adalah AI.”
Oleh sebab itu Marsetio menyambut baik hadirnya beberapa perwira TNI generasi muda pada acara CyberDSA untuk menyerap perkembangan dan pengatahuaan terkini di dunia siber. “Yang penting dia punya pemahaman baik tentang AI dan cybernya, dia bisa bahasa Inggris tentunya, kalau dikirim tapi tidak bisa bahasa Inggris, dia diam saja,” kata Laksamana Prof. Marsetio. (PW)







Komentar