Jakarta, indomaritim.com – Sebotol minyak jelantah yang biasanya berakhir di saluran pembuangan ternyata dapat diolah menjadi sabun. Kardus bekas yang dianggap tidak bernilai juga bisa dimanfaatkan sebagai media budidaya jamur.
Di tangan masyarakat yang kreatif, sesuatu yang semula dipandang sebagai limbah dapat berubah menjadi sumber penghasilan sekaligus solusi persoalan lingkungan.
Praktik-praktik sederhana tersebut menjadi bagian dari cerita besar tentang bagaimana masyarakat dapat mengambil peran dalam menghadapi krisis iklim. Kepedulian ekologis tidak harus selalu dimulai dengan teknologi mahal atau proyek berskala besar. Inovasi berbasis potensi lokal justru dapat membuka jalan bagi ekonomi yang lebih berkelanjutan.
Gagasan itu mengemuka dalam kegiatan SMILE: Learning and Shaping the Future—Pembelajaran dan Masa Depan Anak Muda untuk Keadilan Iklim yang diselenggarakan Eco Bhinneka Muhammadiyah di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Kamis (29/10/2026).
Melalui program SMILE (Strengthening Youth Multifaith Leader Initiative on Climate Justice through Ecofeminism), Eco Bhinneka Muhammadiyah mendorong anak muda lintas iman mengembangkan kemampuan mengolah persoalan lingkungan menjadi peluang ekonomi dan gerakan sosial.
Selama dua tahun, program yang didukung Ford Foundation dan Kementerian Dalam Negeri tersebut melibatkan pemuda di sembilan wilayah Indonesia. Tiga pendekatan yang dikembangkan meliputi ekoliterasi, ekososiopreneurship, serta advokasi dan kampanye.
Salah satu pendekatan yang mendapat perhatian adalah ekososiopreneurship, yakni pengembangan usaha yang tidak semata-mata mengejar keuntungan ekonomi, tetapi juga memperhatikan dampak sosial dan lingkungan.
Dalam sesi refleksi lintas iman, Susilawati dari ‘Aisyiyah DKI Jakarta mengangkat contoh pemanfaatan minyak jelantah menjadi sabun serta kardus bekas sebagai media budidaya jamur. Dua praktik tersebut memperlihatkan bahwa persoalan sampah dapat didekati melalui inovasi yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Minyak jelantah, misalnya, merupakan limbah rumah tangga yang berpotensi mencemari lingkungan apabila dibuang sembarangan. Pengolahannya menjadi produk bermanfaat dapat mengurangi beban pencemaran sekaligus membuka peluang kegiatan ekonomi produktif.
Demikian pula kardus bekas. Dengan pengelolaan yang tepat, bahan yang sebelumnya dianggap tidak berguna dapat dimanfaatkan kembali dalam kegiatan budidaya. Pendekatan semacam ini memperlihatkan bahwa ekonomi sirkular dapat dibangun melalui kebiasaan dan keterampilan sederhana di tingkat komunitas.
Perempuan dan pemuda sebagai penggerak ekonomi hijau
Pendekatan ekososiopreneurship juga memiliki dimensi pemberdayaan. Perempuan dan anak muda bukan hanya ditempatkan sebagai penerima edukasi lingkungan, melainkan sebagai pelaku yang mampu menciptakan solusi.
Perempuan, misalnya, memiliki pengalaman dan pengetahuan penting dalam pengelolaan rumah tangga, konsumsi, serta pemanfaatan sumber daya sehari-hari. Pengalaman tersebut dapat menjadi modal untuk mengembangkan usaha berbasis lingkungan.
Sementara itu, anak muda memiliki peluang untuk mengembangkan kreativitas, teknologi, dan jaringan pemasaran agar produk ramah lingkungan dapat menjangkau pasar yang lebih luas.
Dalam sesi pembelajaran tematik, peserta membahas pengembangan usaha berbasis potensi lokal serta pemanfaatan limbah untuk menciptakan nilai tambah. Pembahasan ini memperluas pemahaman bahwa aksi iklim tidak hanya berkaitan dengan pengurangan emisi, tetapi juga menyangkut bagaimana masyarakat memperoleh penghidupan yang layak tanpa merusak lingkungan.
Direktur Eco Bhinneka Muhammadiyah, Hening Parlan, menekankan pentingnya menjaga kolaborasi sebagai fondasi keberlanjutan gerakan.
“Indonesia tidak cukup dikerjakan oleh satu agama. Bumi kita satu, satu untuk semua, dan kita semua hidup di dalam bumi yang satu. Dalam kerja-kerja kemanusiaan, tidak seharusnya ada batas yang memisahkan,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan ekonomi ramah lingkungan juga membutuhkan kerja sama lintas kelompok. Pengalaman, keterampilan, dan sumber daya yang dimiliki berbagai komunitas dapat saling melengkapi.
Dari praktik lokal menuju perubahan lebih luas
Dalam kegiatan tersebut, berbagai praktik baik juga ditampilkan melalui gallery walk. Pameran ini menjadi ruang berbagi pengalaman mengenai inisiatif lingkungan yang telah dikembangkan komunitas di berbagai wilayah.
Pembelajaran kemudian diperluas melalui sesi ekoliterasi yang membahas pendidikan lingkungan melalui keluarga, sekolah, media kreatif, board book, gamifikasi, dan dialog lintas iman.
Adapun sesi advokasi dan kampanye membahas pengorganisasian masyarakat, penguatan jejaring pemuda lintas iman, penyusunan rekomendasi kebijakan, serta upaya mendorong perubahan dalam pengelolaan lingkungan.
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Syafiq A. Mughni, dalam pidato kunci mengingatkan bahwa tindakan kecil memiliki arti dalam kehidupan. Ia mengutip ajaran Al-Qur’an mengenai balasan atas setiap kebaikan dan keburukan, bahkan yang seberat zarah.
Pesan tersebut relevan dengan upaya membangun ekonomi hijau. Mengolah limbah, mengurangi konsumsi plastik sekali pakai, dan memanfaatkan kembali barang bekas mungkin tampak sederhana. Namun, apabila dilakukan secara konsisten dan melibatkan banyak orang, praktik tersebut dapat menghasilkan perubahan yang lebih luas.
Farah Sofa dari Ford Foundation menambahkan bahwa keberlanjutan gerakan sosial dan lingkungan membutuhkan kepemilikan lokal, dampak yang terukur, serta narasi yang kuat.
“Ini seperti benih yang ditanam, yang akan tumbuh menjadi pohon,” ujarnya.
Melalui SMILE Eco Bhinneka Muhammadiyah, inisiatif ekonomi berbasis lingkungan diharapkan berkembang menjadi gerakan yang lebih luas. Bukan hanya mengurangi timbulan sampah, melainkan juga memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat, terutama perempuan dan generasi muda.
Pada akhirnya, ekonomi hijau bukan semata-mata tentang menghasilkan produk yang ramah lingkungan. Lebih dari itu, ekonomi hijau adalah upaya membangun kehidupan yang menyejahterakan manusia tanpa mengorbankan keberlanjutan bumi. (As)








Komentar