Lawang Sewu, Gedung Seribu Kisah di Semarang

Lifestyle4849 Dilihat

Dari Gedung NIS Menjadi Penjara

Lawang Sewu kemudian dijadikan penjara oleh tentara kolonial Belanda. Fungsi sebagai penjara diteruskan saat pendudukan Jepang. Gedung megah dua lantai ini kemudian disulap menjadi sekat-sekat ruangan untuk berbagai keperluan.

Ada ruangan khusus untuk interogasi tahahan, ada yang dijadikan sel tahanan, ada pula ruang penyiksaan dan eksekusi. Dalam satu sel kerap dimasukkan puluhan tahanan, sehingga mereka harus berdiri berdesakan.

Banyak tahanan yang belum menjalani persidangan mati karena tak mendapat makanan, kelelahan, sakit, atau kekurangan oksigen untuk bernafas.

Di beberapa bagian, ruang tahanan sengaja dibuat beratap rendah. Para
tahanan yang berjubel menghuni sel ini harus jongkok karena tinggi ruangan tak sampai satu meter. Di sini, nyaris semua tahanan tersiksa lalu meninggal.

Gedung Lawang Sewu Semarang. FotoL Herigate KAI id
Lorong bawah tanah Gedung Lawang Sewu Semarang. FotoL Herigate KAI id

Penjara bawah tanah ini juga memiliki ruang sempit yang digenangi air. Tahanan yang dikurung disini harus merasakan tubuhnya dingin terendam air kotor selama berjam-jam, bahkan berhari-hari. Keadaan ini membuat tahanan dengan cepat kehilangan daya tahan tubuhnya, karena terendam air di ruangan sempit yang lembab.

Baca Juga: Tegal, Kota Kuliner di Pesisir Jawa

Pada masa pendudukan Jepang, Gedung NIS menjadi pusat kegiatan polisi rahasia kempetai dan kidobutai di Semarang. Gedung NIS menjadi penjara yang mengerikan bagi pejuang kemerdekaan dan rakyat biasa.

Berbagai metode penyiksaan brutal dijalankan polisi rahasia Jepang untuk mengorek keterangan. Saking brutalnya penyiksaan, banyak tahanan yang menjalani pemeriksaan berujung pada kematian meskipun belum terbukti bersalah.

Penderitaan dan kematian yang memenuhi ruang penjara ini yang kemudian membuat Lawang Sewu berkesan mistis dan berhantu. Bukan hal aneh jika kerap terdengar jeritan orang kesakitan di malam hari, atau hilir mudik orang berjalan mirip berbaris di koridor yang sepi jelang sore hari hingga dini hari.

Selanjutnya: Dari Saksi Sejarah Perang Kemerdekaan Jadi Tempat Wisata

PERINGATAN!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel/gambar/video/infografis tanpa izin tertulis dari redaksi indomaritim.com.