Lawang Sewu, Gedung Seribu Kisah di Semarang

Lifestyle4851 Dilihat

Arsitektur Megah Gedung Lawang Sewu

Gedung utama Lawang Sewu memiliki tiga lantai lengkap dengan dua sayap bangunan yang melebar ke bagian kanan dan kiri. Kalau pengunjung memasuki gedung utama, akan menemukan tangga besar menuju ke lantai dua.

Di antara tangga terdapat kaca gelas berukuran besar dengan gambar dua wanita muda Belanda. Semua bentuk bangunan, pintu hingga jendela, bergaya arsitektur Belanda.

Pintu-pintu dan jendelanya berukuran besar, lebar. Ada sekitar 200 daun pintu, satu pintu memiliki dua hingga empat daun pintu, di antaranya daun pintu geser. Banyaknya pintu dan jendela ini ditengarai sebagai upaya aristek Belanda untuk beradaptasi dengan iklim tropis dan keadaan kota Semarang yang panas karena berada di pesisir pantai.

Pintu yang saling berhadapan juga mempermudah pekerja NIS untuk bergerak dari satu ruangan ke ruangan lain, menjalankan operasional kereta api yang sibuk waktu itu. Ketangguhan rancangan dan bahan konstruksinya terbukti setelah lebih dari seratus tahun bangunan tetap kokoh berdiri.

Gedung Lawang Sewu Semarang. FotoL Herigate KAI id
Museum di gedung Lawang Sewu Semarang. FotoL Herigate KAI id

Memasuki lantai pertama, pengunjung akan menjumpai beberapa ruangan yang berisi dokumentasi sejarah panjang perkeretaapian Indonesia. Di ruangan lain ada dokumentasi tentang sejarah gedung yang menyimpan jejak rekam pembangunan kantor NIS.

Di koridor, pengunjung akan melewati ruangan penuh pintu. Setiap ruangan sengaja dibuat memiliki pintu sejajar yang berfungsi sebagai penghubung ke ruangan lainnya.

Baca Juga: Intip Tujuh Destinasi Wisata Sejuk Untuk Mengisi Liburan Singkat di Bogor

Di sudut lantai pertama, akan terlihat sebuah tangga menurun menuju penjara bawah tanah. Di penjaran bawah tanah, setiap sel berukuran dua kali meter, tempat para tahanan dikurung berdesak-desakan. Ada juga ruang penyiksaan, dan ruang eksekusi.

Ruangan di lantai dua tak jauh berbeda dengan ruangan di lantai satu. Namun kaca jendelanya dibuat terbalik untuk menghindari masuknya air hujan. Ada aula besar yang dulu dijadikan bangsal pesta dan aula dansa.

Di sudut ruangan ada wastafel kuno, peninggalan awal saat gedung baru dibangun. Di lantai tiga ada ruangan besar berjendela yang dulu berfungsi sebagai tempat olahraga pegawai NIS.

Aula olahraga ini dilengkapi dengan toilet. Dari lantai tiga pengunjung
dapat menyaksikan pemandangan seputar Tugu Muda, Semarang. Kawasan ini dirancang sebagai pusat kegiatan kota Semarang. Tak herang bila banyak bangunan yang menghadap ke Tugu Muda yang dilengkapi area luas sebagai lapangan serbaguna.

Jika berkunjung di sore hingga malam hari, maka Anda dapat menyaksikan sekawanan kelelawar beterbangan sebelum hinggap di atap gedung. Kelelawar ini menjadikan bangunan gedung sebagai rumah, tempat hinggap saat pagi hingga sore hari. Sebelum keluar dari berbagai sudut bangunan gedung untuk mencari makan.

Di malam hari, walau banyak lampu menyala, kesan angker Lawa Sewu masih gahar. Coba saja berjalan sendiri sepanjang lorong, atau turun ke ruang penjara bawah tanah, bulu kuduk akan berdiri dan badan merinding.

Itu sebabnya tayangan acara dimensi lain kerap menjadikan Lawang Sewu sebagai lokasi syuting acara televisi tentang mistis.

Namun, kesan mistis Gedung Lawang Sewu tak menghilangkan fakta sejarah keberadaanya di Indonesia. Lawang Sewu pernah menjadi pusat kegiatan pengendalian operasional kereta api tersibuk dan termodern pada masanya. Sekaligus, menjadi bukti bahwa Indonesia pernah menjadi negara termaju dalam industri transportasi massal berbasis rel di Asia.

Reporter: Mulyono Sri Hutomo
Editor: 
Rajab Ritonga

PERINGATAN!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel/gambar/video/infografis tanpa izin tertulis dari redaksi indomaritim.com.