Polemik Pemilu Proporsional Terbuka yang dipaksa Tertutup

Catatan Diplomasi Politik Pelaut Nuswantara

Kolom, Nasional, Politik1683 Dilihat

Pelaut ADIPATI  l Kalitbang INDOMARITIM  l  Direktur Eksekutif TRUST  l Presiden SPI  l  Volunteer INMETA  

Hasil survei Trust Indonesia di februari 2023 ini menemukan bahwa mayoritas pemilih parpol khususnya partai yang ada diparlemen menginginkan pemilu tetap dilaksanakan dengan sistem proporsional terbuka. Dalam cross tabulasi survei terlihat justru 60 % lebih pemilih dari PDIP, PBB dan PPP menyatakan tidak setuju dengan sistem proporsional tertutup. Maka jika beberapa parpol ini tetap mendorong kepada sistem proporsional tertutup, kemungkinan besar pemilih yang tergolong bukan pemilih loyal atau bukan kategori strong voters akan pindah ke Parpol lain. Begitu juga dengan jumlah golput di pemilu 2024 yang akan bertambah terutama dari pemilih yang memilih Parpol dikarenakan tertarik pada figur Caleg. Analisis ini tentunya berdasarkan pada temuan survei Trust Indonesia, dimana sebanyak 8,1 % pemilih  yang memilih partai politik dikarenakan tertarik pada figur Caleg partai.

Jadi mengapa pemilih mayoritas memilih sistem proporsional terbuka, karena keuntungannya  adalah :

  1. Terbangunnya kedekatan antara pemilih dengan kandidat.
  2. Pemilih dapat memberikan suaranya secara langsung kepada kandidat yang dikehendakinya.
  3. Partisipasi dan kendali masyarakat meningkat, sehingga mendorong peningkatan kinerja partai dan parlemen.

Kerugian sistem proporsional tertutup dari sudut pandang pemilih adalah :

  1. Pemilih tidak punya peran dalam menentukan siapa kandidat caleg yang dicalonkan dari partai politik.
  2. Tidak responsif terhadap perubahan yang cukup pesat.
  3. Menjauhkan hubungan antara pemilih dan wakil rakyat pasca pemilu.

 

 

PERINGATAN!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel/gambar/video/infografis tanpa izin tertulis dari redaksi indomaritim.com.

Komentar