Pelaut ADIPATI l Kalitbang INDOMARITIM l Direktur Eksekutif TRUST l Presiden SPI l Volunteer INMETA
Peta politik pemilih tidak selalu statis dan dapat berubah seiring waktu berdasarkan peristiwa dan perubahan kontekstual. Perubahan ini sering kali mencerminkan keragaman opini di dalam masyarakat yang dinamis. Debat antar kandidat cawapres saja yang mungkin sebelum ini dianggap tidak akan berpengaruh secara signifikan, kali ini justru akan menjadi salah satu faktor utama perubahan itu. Mengingat bonus demografi gen Z dan milenial yang punya karakter serba instan menjadi mayoritas di pemilih pilpres 2024 nanti. Hal inilah yang mungkin menjadikan Gibran langsung tancap gas untuk berkampanye mengenai pentingnya menyediakan dan memfasilitasi generasi muda yang lihai akan AI (Artificial Intelligence), Blockchain, Crypto hingga Perbankan Syariah dalam debat kandidat Cawapres pertama jumat malam yang lalu.
Mengikuti debat calon wakil presiden yang pertama, yang langsung membahas tema tentang ekonomi. Terlihat sangat jelas ketiga kandidat Cawapres berusaha meyakinkan publik/ pemilih bahwa mereka mengerti dan memahami kebijakan ekonomi yang bisa berdampak banyak bagi masyarakat. Namun hanya Gibran yang terlihat sangat siap menjawab semua pertanyaan dengan segudang istilah ekonomi masa depan yang banyak dibicarakan dilevel internasional. Seakan debat kandidat tengah disiapkan untuk pidato monolog untuk Gibran dihadapan para seniornya Mahfud MD dan Muhaimin, sampai-sampai media Internasional berkomentar khusus akan hal ini. Over all apresiasi kita berikan kepada pemaparan yang tidak asal bunyi dengan dukungan data yang baik dengan fokusnya masing-masing.
Muhaimin menjabarkan kontemplasi dirinya selama berada dalam pemerintahan dan menekankan kebijakan pembangunan kedepan harus mampu dibangun atas skala prioritas. Bukan dengan memaksakan IKN tapi membentuk kota-kota baru selevel Jakarta. Sementara Gibran fokus pada harapan dan fokus pada ekonomi masa depan dengan sasaran pemilih gen Z dan milenial. Terakhir Mahfud MD yang fokus pada masalah fundamental pemberantasan korupsi diberbagai sektor pemerintahan dengan tujuan akhir pemerataan ekonomi. Ketiga kandidat ini terbukti mampu membongkar antusiasme diskusi di media sosial tentang capaian ekonomi, walaupun memang belum menjawab secara langsung pada akar permasalahan ekonomi yang sedang dialami oleh Indonesia.
Misalnya kebijakan yang terkait dengan ketersediaan lapangan kerja, sembako murah dan insentif sosial. Masyarakat sedang terlena sesaat dengan tampilan retorika kandidat, namun akan segera tersadar bahwa diperlukan argumentasi untuk semua dasar kebijakan yang ditawarkan. Misalnya terkait rencana menaikkan dana desa hingga Rp 5 miliar atau program makan siang gratis. Meskipun hal tersebut terasa sangat menyenangkan, namun publik perlu tahu bagaimana pembiayaan program dan darimana asal-muasal anggaran negara untuk membiayai program-program tersebut. Debat hanya membuka ruang penjelasan visi misi tanpa waktu yang cukup untuk membedahnya secara lebih dalam untuk membuat semuanya menjadi rasional. Hal pertama yang belum ada seiring hilangnya marwah para professor panelis yang hanya menjadi petugas pengundi nomer pertanyaan panelis.
Kedua, para kandidat harus memberikan harapan dan solusi atas potensi masalah atau permasalahan yang tengah dihadapi masyarakat Indonesia saat ini. Misalnya atas permasalahan akses kredit yang masih sulit didapatkan masyarakat lapisan bawah atau keterbatasan penyediaan program rumah murah kepada masyarakat kelas bawah. Para kandidat harus mampu menghadirkan harapan atas permasalahan-permasalahan tersebut. Mereka harus tampil sebagai dewa penyelamat atas masalah-masalah yang dihadapi masyarakat. Haram hukumnya bagi semua kandidat jika mereka tidak menghadirkan solusi bagi masalah-masalah rakyat. Meski demikian, sekali lagi, program-program tersebut haruslah masuk akal alias rasional. Tidak boleh program-program tersebut bersifat tidak masuk akal atau bersifat halusinatif. Program-program tersebut harus diwujudkan.
Ketiga atau terakhir, para kandidat seharusnya juga menyodorkan target-target ekonomi yang ingin dicapai, lengkap dengan strategi untuk menggapai hal tersebut. Misalnya agar ekonomi tumbuh 7 persen, kandidat harus menjabarkan strategi dan skema seperti apa yang dibutuhkan. Pun, bagaimana mencapai realisasi penerimaan negara yang hampir mencapai jumlah Rp 2.800 triliun. Para kandidat harus menjabarkan secara lengkap dan rasional atas hal tersebut. Pandangan yang rasional akan memberi dampak yang besar pula bagi pemilih rasional. Para pemilih yang diperkirakan berjumlah sekitar 13 juta orang ini (Sarjana) akan memberikan penilaian dan mengambil keputusan politik untuk memilih kandidat yang dianggap paling rasional. Pemilih rasional adalah mereka yang memang ‘melek politik’ dan memiliki literasi yang kuat atas kebijakan yang benar atau salah di dalam pandangan mereka.
Kita menunggu dinamika paska debat cawapres yang terkesan diatur ini menghadirkan diskusi substansial ekonomi kebangsaan ditengah masyarakat. Seperti ketimpangan kekayaan ekstrem di Indonesia, di mana kekayaan empat orang kaya setara dengan 100 juta rakyat. Dampaknya melibatkan penurunan konsumsi dan kesejahteraan masyarakat, hambatan terhadap kewirausahaan dan inovasi, serta risiko pengaruh politik yang tidak seimbang. Selain itu, ketidakstabilan ekonomi dapat muncul karena sebagian besar populasi memiliki daya beli yang rendah, memicu tindakan pemerintah untuk mengatasi ketidaksetaraan melalui kebijakan pajak, program redistribusi, dan regulasi ekonomi yang lebih ketat. Bagaimana dinamika ini membentuk kesadaran kita untuk memilih pemimpin yang paling tepat diantara semua yang baik. Semoga !!













Komentar