Pelaut ADIPATI l Kalitbang INDOMARITIM l Direktur Eksekutif TRUST l Presiden SPI l Volunteer INMETA
Menteri Senior Israel Benny Gantz mengatakan situasi di perbatasan negaranya dengan Lebanon “harus berubah”, mengisyaratkan kemungkinan peningkatan militer dengan kelompok bersenjata Hizbullah. Dimana Israel saat ini tengah mempersiapkan perang darurat dengan semakin tingginya intensitas penembakan terhadap wilayah Israel utara oleh pejuang Hizbullah Lebanon. Solusi diplomatik terhadap pertukaran antara Israel dan kelompok bersenjata di Lebanon selatan untuk menjauhkan Hizbullah dari perbatasan nyatanya tidak akan terpenuhi.
Sebelumnya antara Palestina dengan Hizbullah Libanon memang tidak pernah ada kecocokan mengingat perbedaan antara Sunni dan Syiah. Namun saat ini tengah terjadi koalisi tidak langsung antara kedua negara. Dimana pemerintahan Hamas Palestina mulai melakukan perekrutan tentara pembebasan di Lebanon, walaupun beberapa partai politik dan pejabat utama Lebanon mengecam tindakan tersebut dan menuduh Hamas Palestina melanggar kedaulatan nasional negara mereka. Namun Hizbullah beranggapan hal tersebut akan menguntungkan kepentingan Lebanon untuk memperkuat angkatan bersenjata paralel dalam menghadapi Israel diperbatasan.
Mulai dari 7 Oktober 2023 dan puncaknya hari ini 25 Januari 2024 Hizbullah secara berkelompok tengah melakukan pertempuran gerilya di Lebanon selatan. Sehingga sudah melebar menjadi perang asimetrik. Karena pertarungan dilakukan di wilayah Hezbollah di Lebanon selatan, Hezbollah jelas lebih mengenal medan daripada pihak Israel yang menginvasi. Disatu sisi Israel dengan IDF nya pada posisi bertahan diwilayah Lebanon Selatan, dan melancarkan operasi khusus yang menyasar pembunuhan terhadap pimpinan Hezbollah, sementara disisi Hesbollah Lebanon tetap bisa bertahan hidup sampai IDF kehilangan semangat bertempur dan pulang balik ke Israel. Sebagai pemegang gelar war of attrition,Hezbollah akan membuat IDF kelimpungan.
Perang gerilya adalah perang yang dilancarkan pihak yang lebih lemah terhadap musuh yang lebih kuat dan modern. Perang gerilya berarti mereka bertarung secara hit-and-run, kucing-kucingan, bersembunyi di tengah populasi, dan dengan dukungan rakyat sipil. Perang gerilya biasanya dilakukan oleh pihak yang bertahan dan mereka harus siap jatuh korban banyak. Tujuan dari pihak yang bergerilya adalah membuat pihak lawan sengsara sampai mereka memutuskan untuk mundur, dan memastikan mereka sendiri bertahan hidup selama itu. Hezbollah dan Hamas sama-sama menggunakan kekuatan war of attrition ini, yaitu perang adu durasi siapa yang bertahan lebih lama. Seperti perang gerilya Jenderal besar Soedirman melawan agresi sekutu dimasa kemerdekaan republik Indonesia.
Salah satu cerita heroik terbaik dari perang gerilya Jenderal Sudirman setelah Indonesia merdeka adalah perebutan senjata pasukan Jepang di Banyumas yang menjadi awal penguasaan teritorial bagi pasukan kemerdekaan. Dengan keberhasilannya itulah Sudirman diangkat menjadi Panglima divisi V/Banyumas dengan pangkat Kolonel, sampai 2 Nopember 1945 melalui Konferensi TKR dia terpilih menjadi Panglima Besar TKR/Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia. Sejak itu Jenderal Sudirman memimpin perang gerilya melawan semua pendudukan Inggris yang dimulai Ambarawa sampai ke Semarang. Di usia 34 tahun, seorang Guru Agama Muhammadiyah Cilacap dan pimpinan kepanduan Hizbul Wathan ini telah mengajarkan kepada dunia tentang perang gerilya yang hari ini diadopsi penuh oleh Hezbollah dan Hamas.
Salah satu pelajaran terpenting dari perang gerilya adalah kekuatan informasi, atau dalam istilah militer modern adalah intellijen strategik. Belajar dari kekalahan bangsa arab saat akan mengepung dan menghancurkan israel yang telah mengusir semua warga arab di palestina pada tahun 1967. Saat itu Mesir yang sedang menjadi sekutunya Uni Sovyet mengorganisir Syria dan Yordania, untuk mengajak Irak, Kuwait, Arab Saudi, Sudan, Libanon, Aljazair, serta Tunisia untuk menyerang Israel secara mendadak. Namun informasi ini bocor kepada Mossad intelijen Israel yang akhirnya meneruskan informasi tersebut kepada Amerika, Inggris dan Prancis pada Juni 1967, dan dengan segera Israel melancarkan serangan pada pukul 07.45 ke semua bandara negara-negara arab. Sebanyak 200 jet tempur Israel mengahancurkan semua pesawat di bandara Mesir, Syria dan Irak serta menghancurkan 18 bandara dari liga arab.
Saat itu Mesir kelihalangan 300 pesawat tempur, Syria 60, Yordania 35, Irak 15, Lebanon 1, dan Israel sendiri telah kehilangan 19 pesawat tempurnya. Pertempuran udara yang sesungguhnya justru berlanjut di frekwensi Radio yang dimotori Mesir dan Irak, sementara Radio Israel juga tidak kalah sengit propagandanya dengan mengumandangkan lagu ‘the bridgde on the river kwai’. Dukungan masif Amerika dan Inggris membuat Sinai berhasil dikuasai dan Israel memenangkan pertarungan di udara dengan Syria dengan menjatuhkan 100 pesawat tempur Syria dan menguasai dataran tinggi golan, jalur gaza, dan laut merah.
Kembali pada kondisi terkini Hizbullah di Lebanon yang tengah menjadikan momentum ini sebagai puncak war of attrition kepada Israel dengan bantuan Hamas Palestina. Mengingat posisi Israel yang didukung oleh Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa dengan Resolusi 1701 yang menyerukan zona demiliterisasi dari Sungai Litani, sungai terpanjang di Lebanon yang mengalir dari kota tepi laut selatan Tirus hingga Lembah Bekaa sebagai Garis Biru yang memisahkan Lebanon dari Israel. Pertemuan koalisi perang gerilya Hamas dan Hezbollah jelas menjadikan mereka sebagai Gerilyawan Militer terbesar di abad ini. Bukan saja menguatkan posisi politik Hezbollah dalam konstelasi kenegaraan di Lebanon, tapi juga menjadikan Hamas mendominasi kekuatan politik Palestina atas Fatah.
Siapa yang menyangka posisi geopolitik kawasan Hamas Palestina menguat drastis ditengah jutaan warga palestina yang saat ini hidup di tenda-tenda pengungsian. Berawal dari popularitas tanah Hamas di semua lingkup pengungsian yang dulunya mengacu padatanah Fatahketika Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) di bawah pimpinan Yasser Arafat beroperasi sebagai sebuah negara di dalam negara bagian di Lebanon selatan dari akhir tahun 1960 an hingga awal tahun 1980 an. Saat itu PLO juga menggunakan Lebanon selatan untuk melancarkan serangan terhadap Israel. Walaupun jelas mendapatkan perlawanan dari partai Gerakan Patriotik Bebas, partai Nasionalis Pasukan Lebanon dan partai Kristen tradisional Kataeb.
UNIFIL sendiri sebagai pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon selatan sudah mulai berbenah mengingat IDF selangkah lagi akan menjadikan Beirut seperti Gaza. Menjawab dari rencana pembalasan IDF kepada basis Hizbullah yang telah menyerang pusat komando Israel di dekat Ya’ara dengan drone peledak, yang telah dimulai dari pinggiran Yaroun di Lebanon dengan pesawat tempur IDF dan menewaskan lebih dari ratusan orang di Lebanon. Pusaran ini akan terus membesar dan menggulung dinamika geopolitik kawasan timur tengah yang digawangi Hamas dan Hezbollah. Melalui taktik asimetris maka bentrok aliansi Rusia China Korut lawan Amerika Inggris Prancis kemungkinan akan bertemu di wilayah ini. Kita tunggu saja










Komentar