Pelaut ADIPATI l Kalitbang INDOMARITIM l Direktur Eksekutif TRUST l Presiden SPI l Volunteer INMETA
Tantangan dalam transisi energi yang berkelanjutan di Asia Tenggara menjadi sorotan utama bagi Indonesia dan negara-negara lain di kawasan ini. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat, permintaan energi pun meningkat secara signifikan. Namun, di balik pertumbuhan ini, muncul berbagai tantangan terkait dampak lingkungan dan ketahanan energi.
Indonesia, sebagai anggota kunci ASEAN dengan populasi besar dan sumber daya alam yang melimpah, memiliki peran sentral dalam upaya transisi energi bersih. Salah satu fokus utama adalah peningkatan penggunaan energi terbarukan, seperti energi panas bumi, tenaga surya, dan biomassa. Namun, tantangan teknis, politik, dan keuangan sering kali menghalangi upaya-upaya tersebut.
Penghapusan subsidi bahan bakar fosil menjadi langkah penting dalam transisi energi menuju sumber daya yang lebih bersih. Meskipun ASEAN telah mengenal perlunya mengurangi subsidi ini untuk mendorong penggunaan energi bersih yang lebih berkelanjutan, tantangan politik sering kali muncul di tingkat nasional.
Selain itu, Indonesia juga dihadapkan pada tantangan unik terkait dengan penggunaan lahan dan industri pertanian yang besar. Keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan menjadi kunci di sini, terutama dalam konteks pemanfaatan lahan untuk pertanian dan industri lainnya.
Kerjasama antarnegara di ASEAN menjadi kunci dalam mencapai tujuan transisi energi. Indonesia dapat memanfaatkan hubungan regionalnya untuk bertukar pengetahuan, teknologi, dan sumber daya dengan negara-negara tetangganya. Langkah-langkah ini akan membantu mempercepat transisi energi di seluruh kawasan.
Meskipun beberapa negara di ASEAN telah membuat kemajuan dalam mengembangkan energi terbarukan, pertumbuhan ini perlu dipercepat jika kawasan ini ingin memenuhi komitmen iklimnya. Tantangan implementasi kebijakan dan pengurangan biaya akan diperlukan untuk mempercepat transisi energi ASEAN.
Dalam sebuah Forum Group Discussion yang diselenggarakan oleh Meratus Tangguh Institut pada awal Mei 2024, DR. Arif Zulkifli, pakar Lingkungan Hidup dari Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa komitmen Indonesia untuk transisi energi yang berkelanjutan memberikan harapan bagi masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan, tidak hanya bagi negara itu sendiri, tetapi juga bagi seluruh kawasan ASEAN.
Namun, tantangan besar masih menghadang. Selama periode 2000–2018, bahan bakar fosil menyumbang 85% dari pertumbuhan permintaan energi primer di ASEAN, sementara kontribusi energi terbarukan stagnan. Target ambisius untuk memiliki sumber energi terbarukan menyumbang 23% dari total pasokan energi primer pada tahun 2025 mungkin terancam tidak tercapai, terutama dengan inklusi kata “aspirasional” di depannya.
Kemajuan dalam penggunaan energi terbarukan di ASEAN juga beragam. Negara seperti Vietnam telah berhasil mengembangkan penggunaan energi hidro, sementara negara lain masih bergantung pada batu bara. Meskipun potensi energi terbarukan di ASEAN besar, tantangan nyata masih menghadang, termasuk ketergantungan pada sumber daya fosil dan kurangnya investasi dalam energi terbarukan.
Untuk mengatasi tantangan ini, ASEAN harus meningkatkan koordinasi regional dalam menghadapi perubahan iklim dan mempromosikan investasi dalam energi terbarukan. Langkah-langkah seperti menghapus subsidi bahan bakar fosil, meningkatkan konektivitas energi regional, dan mengakui transisi energi sebagai peluang bisnis dapat membantu menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan bagi ASEAN. Dalam hal ini, Indonesia, dengan peran kuncinya dalam kawasan, memiliki tanggung jawab besar untuk memimpin arah ini dan mendorong kerjasama yang lebih erat di antara negara-negara anggota ASEAN.













Komentar