Pelaut ADIPATI l Kalitbang INDOMARITIM l Kalitbang APUDSI I CEO TRUST l Presiden SPI l Volunteer INMETA
Pekan terakhir Juni 2025 ditandai oleh gelombang baru pembersihan militer di Tiongkok. Nama-nama besar seperti Jenderal Miao Hua, Wakil Laksamana Li Hanjun, dan ilmuwan nuklir Liu Shipeng dilengserkan dari jabatan strategis — tidak hanya dari struktur militer, tetapi juga dari lembaga politik seperti Kongres Rakyat Nasional. Bagi sebagian pengamat luar, ini terlihat sebagai kelanjutan dari kampanye anti-korupsi Presiden Xi Jinping. Namun bagi mereka yang mengikuti dinamika internal PLA (People’s Liberation Army), ini adalah tanda dari sesuatu yang lebih dalam dan lebih serius: penguatan model authoritarian militarism di tengah tekanan geopolitik global yang semakin memuncak.
Bukan Soal Korupsi Semata
Kampanye pembersihan dalam tubuh militer Tiongkok bukanlah hal baru. Sejak awal masa kepemimpinannya, Xi Jinping telah menargetkan figur-figur militer yang dianggap tidak cukup loyal atau terlalu independen. Namun pembersihan terbaru ini terasa berbeda. Sasarannya mencakup tokoh-tokoh yang selama ini dikenal sebagai teknokrat profesional — bukan sekadar birokrat politik.
Contohnya, Liu Shipeng, salah satu otak di balik modernisasi sistem nuklir strategis Tiongkok. Atau Jenderal Miao Hua, yang selama bertahun-tahun memimpin urusan politik militer dengan reputasi relatif bersih. Jika mereka bisa disingkirkan, maka jelas bahwa loyalitas ideologis kini mengalahkan semua bentuk kredensial profesional.
Gejala dari Model Baru: Authoritarian Militarism
Istilah ini mengacu pada model militer di bawah rezim otoriter yang semakin menolak otonomi institusi militer, bahkan dalam hal teknis dan profesional. Dalam konteks Tiongkok, ini berarti PLA tidak hanya harus tunduk pada partai, tetapi juga tidak boleh menunjukkan tanda-tanda berpikir mandiri, apalagi menyampaikan informasi yang bertentangan dengan garis resmi. Beberapa tahun lalu, dalam sebuah diskusi tertutup di Beijing, seorang akademisi yang memiliki kedekatan dengan lingkaran militer menyatakan:
The greatest threat to China’s rise is not America, but internal hesitation in its own chain of command
Ucapan ini mungkin terdengar hiperbolik saat itu, tetapi kini menjadi refleksi dari realitas baru: Xi tidak takut pada kekuatan luar. Ia takut pada kelemahan dalam. Dan kelemahan itu, menurut dia, berasal dari setiap titik di mana PLA mulai berpikir sendiri, bereksperimen, atau mempertanyakan.
Mengapa Sekarang?
Langkah-langkah drastis ini tampaknya merupakan respons langsung terhadap tekanan eksternal yang semakin tajam. Ketegangan di Selat Taiwan, kerja sama pertahanan Quad dan AUKUS, serta penguatan kehadiran militer AS di kawasan Indo-Pasifik menambah urgensi bagi Beijing untuk merapikan barisan. Tapi alih-alih mendorong profesionalisme militer, Xi justru menggandakan kontrol ideologis. Strategi ini tampaknya berangkat dari satu prinsip lama dalam doktrin keamanan Tiongkok:
Internal stability precedes external strength
Dalam arti lain: sebelum bisa menghadapi tantangan dari luar, sistem harus disterilkan dari dalam.
Harga dari Total Kontrol
Masalahnya, pendekatan ini membawa risiko tinggi. Ketika pengambilan keputusan di lapangan dibayangi oleh ketakutan terhadap hukuman politik, efektivitas militer bisa runtuh. Dalam dunia militer modern, adaptasi cepat, keterbukaan informasi, dan keberanian untuk menyampaikan skenario buruk adalah syarat kemenangan. Tapi dalam sistem yang terlalu dikunci, hal-hal itu justru dianggap sebagai ancaman.
Seorang perwira senior PLA pernah mengatakan bahwa para komandan lapangan enggan melaporkan simulasi kegagalan operasi invasi Taiwan karena khawatir akan dicap sebagai tidak patriotik. Budaya seperti ini bisa mematikan refleks strategis sebuah militer — bahkan sebelum peluru pertama ditembakkan.
Otoritarianisme Tidak Melahirkan Keberanian
Dalam jangka pendek, *authoritarian militarism* mungkin terlihat stabil: tidak ada pembangkangan, tidak ada opini yang bertentangan. Tapi justru di situlah letak kerapuhannya. Ketika semua orang berpura-pura sepakat, tidak ada ruang untuk inovasi. Ketika semua laporan disesuaikan agar menyenangkan atasan, realitas menjadi kabur. Dan ketika militer tidak lagi diberi ruang untuk jujur, maka ia akan gagal bukan karena kekurangan senjata — tetapi karena kehilangan keberanian untuk berpikir.
Xi Jinping sedang membangun apa yang ia yakini sebagai fondasi kekuatan militer modern Tiongkok. Tapi fondasi itu dibentuk dari ketakutan, bukan kepercayaan. Jika sejarah militer dunia mengajarkan sesuatu, itu adalah: pasukan yang hebat tidak dibangun dari kontrol total, melainkan dari keberanian individu di setiap tingkatan untuk berkata yang benar, berpikir mandiri, dan bertindak saat krisis. Dan dalam hal itu, Tiongkok saat ini sedang mengambil arah yang berisiko — kuat di luar, tapi rapuh dari dalam.








Komentar