Pameran Empat Perupa Senior Mengenang Masa Lalu

Daerah560 Dilihat

Yogyakarta.indomaritim.com – Ketika usia semakin menua, energi makin berkurang, tapi semangat berkesenian masih membara. Empat perupa senior menggelar pameran bersama di Rumah DAS Yogyakarta, 21 Juni – 21 Juli 2025. Keempatnya adalah: Hari Budiono (1956), Dyan Anggraini (1957), Alex Luthfie R (1958), dan Boyke Aditya Khrisna S (1958).

Pameran bertajuk Box to Box ini membawa pengunjung pameran pada karya lukis pada masa mereka masih berjuang menancapkan nama di atmosfir seni rupa, saat keempat pelukis ini belum lama menyelesaikan pendidikan seni rupa di Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI) ASRI, Yogyakarta.

Ada Dyan Anggraini pada 1978 mulai intens melukis setelah dua tahun belajar seni lukis di STSRI ASRI dengan menghadirkan objek simbolik seperti, boneka, topeng, dan bentuk tumbuhan yang dihadirkan dalam wujud baru (Skenario, 1979).

Seiring perkembangan kreativitas, tema dan ide seninya, Dyan mulai fokus pada sosok perempuan,
dipadu dengan citraan perahu kertas, peniti, lebah, dan bunga. Objek simbolik ini menjadi subjek yang berkaitan dengan tema sosial dan nilai humanis dengan ciri khas dominan warna putih, sebagai simbol kesucian, kebebasan, dan keterbukaan.

Teknik kolase yang sudah dikerjakan Dyan sejak tahun 1979, kemudian dielaborasi dengan teknik sapuan kuas yang lembut, drawing dan torehan teks. Hasilnya karakter yang kuat pada objek manusia bertopeng, sehingga lukisannya tampak unik dan simbolik (Penari, 1981). “Ide dan narasi lukisan saya berkisah tentang kasih sayang, kritik dan isu lingkungan,” ujar Dyan. Selama 47 tahun berkesenian Dyan Anggraini konsisten dengan konsep seninya dan makin kreatif memperkaya perbendaharaan objek serta teknik melukis termasuk menggarap karya tiga dimensi (Sembilan, 2025).

Adapun Alex Luthfie (1958) mulai aktif melukis pada 1979 dengan menjelajah berbagai tema, corak serta teknik melukis dalam komposisi warna yang kuat. Dalam masa proses pembentukan diri sampai pada tahun 1994, dia menetapkan pikiran bahwa seni sebaiknya punya konteks dengan perkembangan situasi sosial dan budaya. Tahun 1995 tema lukisannya tentang kekuasaan, keadilan, korupsi, teror, dan memecah kerukunan berbangsa dengan menggunakan simbol figur berkepala babi pada karya drawing (Menjilat, 1995).

Selama kurun waktu 29 tahun berproses sudah menghasilkan beragam jenis karya seni visual dan audio visual. Kreatifitas Alex terus bergerak. Pada tahun 2021 dia mulai melakukan studi pola penceritaan wayang beber yang dia terapkan dalam karya seni lukis drawing di atas media logam aluminium lewat karya seri wayang (Black – Badai Politik, 2025). “Penggambaran yang merupakan interpretasi kejadian, yakni proses pemberian makna dan penafsiran terhadap suatu peristiwa,” kata dosen Fakultas Seni Media Rekam ISI Yogyakarta ini.

Dari empat perupa senior ini, Boyke (1958) lah yang fokus mengeksplorasi narasi kehidupan alam semesta pada karya lukisnya. Misteri alam semesta dengan segala isinya; manusia, binatang, tumbuhan, tanah, batu, dan air, menjadi objek sekaligus sumber inspirasi yang tidak pernah habis digali. Bidang kanvasnya sarat dengan suasana hamparan alam. Imajinasinya bergerak liar tanpa batas. Makhluk hidup berupa manusia, hewan, dan tumbuhan (biotik), serta benda mati seperti tanah, air, dan batu (abiotik), dalam pikirannya menjadi pemicu munculnya ide kreatif, dan semua objek itu dideformasi menjadi bentuk baru yang sangat personal.

Semua bermula pada tahun 1982 ketika Boyke studi tur ke Bali bersama teman satu angkatan (tahun 1979 STSRI-ASRI Yogyakarta), dia mendapat pengetahuan baru tentang metode dan teknik melukis dekoratif tradisional Bali. Garis menjadi elemen penting yang bisa menguatkan karakter lukisannya, diimbuhi warna pastel yang senada, nuansa hijau, biru, kuning, merah, ungu dan coklat tanah, mengisi semua bidang kanvasnya. Lukisan dekoratif yang dikerjakan dengan teknik sungging dan gradasi, menciptakan ruang ilusi yang dalam pada subjek lukisannya.

Karakter lukisan yang beragam muncul dalam perjalanan berkesenian Hari Budiono. Perupa paling senior dari tiga rekannya dalam pameran ini tidak terpaku pada satu metode, bentuk, media dan teknik melukis. Proses kreatifnya berjalan dinamis, dengan beberapa gaya dan corak seni lukis, semuanya lahir dari kegelisahan kreatif.

Lukisan dengan corak realis dia tekuni sejak tahun 1977 ketika masih studi di STSRI-ASRI Yogyakarta. Salah satu karyanya saat itu lewat karya bercorak pop art (Kurebut Marilyn dari Warholl, 1978). Pada tahun 1990-an corak realis Hari Budiono makin menguat. Salah satu karya lukisnya saat itu menampilkan sosok bocah bertubuh kurus kering terbalut pakaian compang-camping dalam posisi seperti akan terjatuh (Times, 1995).

Hari makin mengeksplorasi teknik realisnya lewat corak hyper realist lewat karya lukis berupa sosok perempuan dengan ekspresi wajah datar memegang pisau dan garpu di tangan di hadapan kepala potongan kambing yang tersaji di atas piring (Putri Cina, 2006). Bahkan karyanya juga menyentuh corak surealis lewat penggambaran figur Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti bertubuh ikan duyung yang bersayap dengan wajah tersenyum memegang senjata mesin dan pedang di belakang tubuhnya bak siap bertempur melawan nelayan asing pencuri ikan (Susi Duyung, 2014).

Kini Hari Budiono malah sedang suntuk menggarap objek tunggal lewat torehan garis dan sapuan kuas yang eskpresif dalam komposisi warna yang kuat lewat karya seri wajah (Wajah #1, #2, #3, #4, 2025).

Pameran empat perupa senior ini menampilkan jejak berkesenian mereka sepanjang 45 tahun berkarya di tengah kegiatan mereka sebagai pegawai negeri, dosen seni rupa, hingga profesi sebagai wartawan. “Pameran ini sarat makna, menjadi momen penting untuk penanda waktu hidup,” ujar Alex Lutfhi.■ Raihul Fadjri

Adv Banner

Komentar