Seruan Moral BKPRMI: Menjaga Kedamaian di Tengah Gejolak Bangsa

Badan Kerukunan Pemuda Remaja Masjid Indonesia

Berita, Nasional, Politik787 Dilihat

Jakarta, indomaritim.com – Dalam beberapa pekan terakhir, ruang publik Indonesia kembali diramaikan oleh dinamika politik yang menguji ketahanan sosial bangsa. Demonstrasi yang berlangsung di sejumlah kota, silang narasi di media sosial, hingga isu-isu sektoral yang dibesar-besarkan, telah menciptakan suasana panas dan penuh ketidakpastian. Dalam konteks inilah Dewan Pengurus Pusat Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) mengeluarkan seruan moral: tetap tenang, menjaga kondusivitas, dan tidak mudah terprovokasi.

Ketegangan yang Menguat

Situasi ini berawal dari gelombang kritik terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap tidak populer. Isu sosial-ekonomi dan politik segera merembet ke jalanan. Di tengah riuh itu, media sosial menjadi ladang subur penyebaran kabar simpang siur. Tak jarang, provokasi terselubung memperkeruh keadaan dengan memancing amarah massa.

Dalam beberapa aksi, muncul pula gesekan antara aparat dan demonstran. Video potongan peristiwa beredar luas, sering kali tanpa konteks lengkap, menimbulkan persepsi liar dan memperuncing perdebatan publik. Bagi organisasi seperti BKPRMI, kondisi ini mengandung risiko besar: jika dibiarkan, ia bisa menjelma menjadi konflik horizontal dan mengancam keutuhan bangsa.

Jangan Terjebak Provokasi

Menjawab situasi itulah BKPRMI menyerukan agar umat, khususnya generasi muda masjid, tidak ikut terjerumus dalam lingkaran anarkisme. “Segala bentuk penganiayaan dan kezhaliman kita serahkan sepenuhnya kepada pemerintah yang berwenang,” demikian seruan mereka. Pesan ini menggarisbawahi pentingnya disiplin moral dan kepercayaan pada hukum, di saat sebagian kelompok justru tergoda dengan “hukum jalanan.”

BKPRMI menegaskan, tindakan main hakim sendiri hanya akan memicu kerugian yang jauh lebih besar bagi masyarakat. Dalam logika sederhana, api tidak bisa dipadamkan dengan api. Jalan damai, ketenangan, dan doa justru menjadi energi konstruktif yang mampu menyejukkan situasi.

Doa, Spiritualitas, dan Harapan Politik

Lebih jauh, BKPRMI mengingatkan pentingnya spiritualitas. Doa bagi keselamatan bangsa menjadi kunci moral yang harus dipelihara. Seruan doa ini bukan sekadar simbol, melainkan strategi kultural: mengembalikan kesadaran publik bahwa Indonesia berdiri di atas fondasi keimanan, kebersamaan, dan persaudaraan.

Seruan moral ini juga memuat dimensi politik: harapan besar kepada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. BKPRMI menyampaikan optimisme bahwa Indonesia bisa bergerak menuju negara yang maju, mandiri, dan makmur jika kedamaian tetap terjaga. Dalam pandangan mereka, pemuda masjid adalah benteng sosial yang mampu merawat cita-cita kebangsaan sekaligus menjembatani potensi perpecahan.

Cahaya di Tengah Badai

Seruan BKPRMI ini hadir seperti cahaya di tengah badai: mengingatkan publik bahwa menjaga kedamaian adalah tanggung jawab bersama. Di tengah riuh rendah politik, suara moral dari komunitas keagamaan tetap diperlukan untuk meneguhkan arah bangsa.

Sebagaimana yang mereka serukan: Indonesia tidak boleh runtuh oleh fitnah, provokasi, atau perpecahan. Yang dibutuhkan adalah kesabaran, doa, dan komitmen pada keutuhan negara.

Jakarta, 29 Agustus 2025
Dewan Pengurus Pusat BKPRMI

PERINGATAN!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel/gambar/video/infografis tanpa izin tertulis dari redaksi indomaritim.com.

Komentar