Washington, indomaritim.com – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio, Selasa (5/5) mengatakan bahwa militer AS di Selat Hormuz tidak akan menembak kecuali lebih dulu diserang. “Ini (Project Freedom) bukan operasi ofensif (penyerangan). Ini adalah operasi defensif (pertahanan). Artinya sangat sederhana, tidak ada penembakan kecuali kami ditembak lebih dulu,” kata Rubio seperti dikutip dari Antara. Pada saat yang sama, Rubio menambahkan bahwa militer AS akan mempertahankan diri dari kemungkinan serangan. “Kami tidak akan membiarkan kapal cepat mendekati kapal kami lalu menembakinya. Kami akan merespons,” ujarnya. AS juga akan menembak jatuh drone dan rudal yang dapat mengancam pasukan militer kami, tambah Rubio. Pada Jumat, Presiden AS, Donald Trump menyampaikan surat kepada Kongres yang menyatakan bahwa permusuhan terhadap Iran yang dimulai pada 28 Februari telah berakhir, meskipun Pentagon tetap memperbarui postur militer di kawasan karena ancaman masih ada. Berakhirnya Operasi Epic Fury juga telah dipastikan oleh Rubio, Selasa sebelumnya. Pada Minggu malam, Trump mengumumkan Project Freedom untuk membantu kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz untuk keluar dari wilayah tersebut. Penyiar IRIB melaporkan, Senin (4/5) bahwa militer Iran mencegah kapal AS memasuki Selat Hormuz dengan menyerang sebuah kapal perang menggunakan dua rudal, yang kemudian dibantah oleh US Central Command. Pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan bersama terhadap target-target di Iran yang menyebabkan kerusakan dan jatuhnya korban sipil. Pada 7 April, Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan. Perundingan lanjutan di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan, dan Trump memperpanjang penghentian permusuhan untuk memberi waktu kepada Iran menyusun “proposal terpadu.” (RR)
Militer AS Tidak Menembak Kecuali Diserang
Menlu AS sebut Project Freedom







Komentar