Sebanyak 100 Tukik Dilepasliarkan di Pantai Kuta, Bali

Info Maritim52 Dilihat

Badung, indomaritim.com – Sebanyak 100 tukik dilepas di Pantai Kuta, Kabupaten Badung, Bali, sebagai bentuk komitmen pelestarian lingkungan dan keberlanjutan ekosistem laut yang dilakukan sebuah perusahaan bekerja sama dengan komunitas konservasi penyu lokal.

“Melalui kegiatan pelepasan 100 tukik dan bantuan konservasi ini, BRI Life ingin turut mengambil bagian dalam menjaga keberlangsungan ekosistem laut Indonesia. Apa yang dilakukan hari ini bukan hanya tentang melepas tukik, tapi kami berupaya untuk memperkuat populasi penyu sebagai salah satu spesies yang terancam punah” ujar Direktur Legal dan Kepatuhan BRI Life Aestika Oryza Gunarto di Pantai Kuta, Bali, Sabtu, seperti dikutip Antara.

Sementara Direktur Pemasaran BRI Life Tina Meilina meambahkan penyu adalah salah satu indikator kesehatan laut. “Melalui kegiatan ini, kami ingin berkontribusi nyata menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus mendukung masyarakat lokal yang telah konsisten menjaga habitat penyu,” ucapnya.

Pihaknya berharap kegiatan ini tidak hanya membantu upaya konservasi, tetapi juga memberikan edukasi kepada masyarakat pentingnya menjaga lingkungan laut serta menjadi inspirasi bagi lebih banyak pihak untuk semakin peduli terhadap lingkungan dan bersama-sama menjaga kelestarian alam Indonesia bagi generasi mendatang.

Adapun Bali dipilih sebagai lokasi kegiatan konservasi, karena Bali merupakan salah satu wilayah penting habitat peneluran alami penyu di Indonesia, khususnya untuk spesies Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea), yang termasuk satwa dilindungi dan berstatus rentan (vulnerable).

Pantai Kuta, Pantai Serangan, Pantai Saba, hingga kawasan Sanur, tercatat menjadi area pendaratan dan peneluran alami penyu di Bali.

Di tempat yang sama, Ketua Kelompok Pelestarian Penyu Pantai Kuta I Gusti Ngurah Krisna mengatakan tukik yang menetas secara alami harus segera dikembalikan ke habitatnya agar lebih adaptif saat berada di laut.

Menurutnya, dari sekitar seribu tukik yang dilepasliarkan, hanya satu yang mampu bertahan hidup hingga dewasa berdasarkan hasil riset, sehingga penyu dikategorikan sebagai satwa yang terancam punah.

Menurutnya, kondisi abrasi pantai dan persoalan sampah di Bali menjadi tantangan serius karena pantai merupakan habitat penting bagi penyu untuk berkembang biak.

Krisna mengungkapkan populasi penyu yang datang ke kawasan Pantai Kuta saat ini mengalami penurunan hingga sekitar 75 persen dibandingkan tahun lalu. Hal itu dipengaruhi oleh aktivitas manusia, abrasi hingga sampah laut.

Ia mengaku prihatin dengan kondisi tersebut, namun tetap berkomitmen bersama kelompok pelestari dan tim penyelamat penyu yang telah bekerja secara sukarela selama 26 tahun terakhir demi menjaga kelestarian penyu di Pantai Kuta.

Di Bali sendiri, kawasan Pantai Kuta secara rutin menjadi lokasi penyelamatan telur penyu dan pelepasan tukik, terutama pada musim peneluran antara Mei hingga Oktober. (RR)

PERINGATAN!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel/gambar/video/infografis tanpa izin tertulis dari redaksi indomaritim.com.

Komentar