Banda Aceh, indomaritim.com – Pemerintah Aceh menginginkan temuan gas Blok Andaman oleh Mubadala Energy dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi di provinsi paling barat Indonesia itu.
“Gubernur Mualem menginginkan Blok Andaman menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi Aceh,” kata Juru Bicara Pemerintah Aceh Nurlis Effendi di Banda Aceh, Rabu seperti dikutip Antara.
Seperti diketahui, Mubadala Energy telah menemukan cadangan gas di lepas pantai (offshore) Blok Andaman. Kemudian, untuk target produksi perusahaan tersebut pada tahapan awal ini sekitar 300 atau juta standar kaki kubik per hari (million standard cubic feet per day/MMSCFD).
Nurlis mengatakan Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau yang akrab disapa Mualem mengakui bahwa Blok Andaman menjadi peluang yang sangat besar untuk membangun ekonomi Aceh. Karena itu, hilirisasinya dipastikan harus berjalan baik.
“Gas alam melimpah, kita harus persiapkan diri dengan matang. Lampu hijau hilirisasi sudah kita dapatkan,” ujar dia
Ia menyebutkan, terdapat enam blok migas utama di Aceh, yaitu Andaman I, Andaman II, Andaman III, Central Andaman, South Andaman, dan South West Andaman. Untuk tahap awalnya adalah lapangan gas Tengkulo di wilayah kerja South Andaman yang dikerjakan Mubadala Energy.
Hilirisasi, kata dia, dimulai dari Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun Lhokseumawe, sehingga bisa linier dengan program strategis nasional. Apalagi, Presiden Prabowo Subianto sudah merancang 77 proyek strategis nasional yang tertuang dalam dalam RPJMN 2025-2029, salah satunya adalah pengembangan KEK Arun Lhokseumawe.
“Langkah hilirisasi itu sangat masuk akal. Sebab didukung gas dan kondensat yang melimpah dari Lapangan gas Tengkulo di wilayah kerja South Andaman,” katanya.
Nurlis menjelaskan, gas tersebut dapat menghasilkan metanol dan hidrogen. Maka, sudah semestinya dibuatkan persiapan membangun pabrik metanol di Aceh.
Terlebih, lanjutnya, metanol masuk dalam program strategis nasional biodiesel, di mana biodiesel dari kelapa sawit membutuhkan campuran metanol.
Kemudian, 7.500 barel kondensat per hari dari wilayah kerja South Andaman juga dapat menghasilkan nafta dan kerosin yang dibutuhkan pabrik cat, serta gasoline untuk bahan bakar minyak seperti solar dan premium.
“Jadi kondensat ini mendorong berdirinya refinery. Dampak ekonomi terjadi setelah berdirinya berbagai industri tersebut,” ujar dia.
Maka dari itu, Aceh membutuhkan SDM yang tidak sedikit dalam rangka pengelolaan hilirisasi migas tersebut. Pemerintah daerah berharap, Mubadala Energy dapat berperan mendidik sumber daya manusia (SDM) Aceh.
“Oleh sebab itu, Gubernur Mualem menginginkan persiapan perencanaan yang matang, dan berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk kepentingan Aceh masa depan,” kata Nurlis.
Sebagai informasi, Gubernur Aceh sebelumnya telah menyurati Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) terkait permintaan agar pengolahan gas temuan Mubadala Energy tidak dilakukan melalui skema Floating production, storage, and offloading (FPSO) atau pengolahan di laut lepas (offshore). Melainkan, secara onshore receiving facility (ORF) di darat yaitu KEK Arun Lhokseumawe.
Dalam suratnya, Gubernur Aceh juga meminta pengalokasian gas Mubadala tersebut bisa dipakai untuk industri di Aceh. Serta, permohonan penundaan sementara Plan of Development (PoD) atau dokumen perencanaannya karena masih ada perbedaan pendapat antara pemerintah pusat dan Aceh.
Mengenai hal itu, Pemerintah Aceh juga menyurati langsung Presiden Prabowo Subianto terkait temuan cadangan gas di Blok Andaman tersebut agar dapat di hilirisasi atau diolah pada Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun Lhokseumawe, Aceh. (Dul)








Komentar