Banyuwangi, indomaritim.com – Anggota Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Bambang Haryo Soekartono menyebutkan pemerintah bersama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) mengambil langkah cepat dan segera meningkatkan kapasitas dermaga penyeberangan Ketapang (Banyuwangi)-Gilimanuk (Bali) untuk mencegah terulangnya kemacetan dan antrean panjang.
Hal ini disampaikan setelah rapat koordinasi bersama ASDP, Dinas Perhubungan Jawa Timur, asosiasi perusahaan pelayaran, Organda, dan pihak terkait lainnya, mencari solusi persoalan kemacetan dan antrean panjang yang kerap terjadi di lintasan Ketapang-Gilimanuk selama ini.
“Dari hasil rapat hari ini, langkah cepat yang akan segera dieksekusi oleh pemerintah dan ASDP secara bertahap yakni penambahan kapasitas beban dermaga movable bridge (MB) dari semula 35 ton menjadi 50 ton, baik di Ketapang maupun di Gilimanuk,” kata Bambang kepada wartawan usai rapat di Kantor ASDP Cabang Ketapang, Banyuwangi, Sabtu seperti dikutip dari Antara.
Peningkatan kapasitas beban dermaga menjadi 50 ton ini, lanjut dia, dilakukan secara bertahap tiap tahun satu pasang, baik di dermaga Pelabuhan Ketapang dan Pelabuhan Gilimanuk untuk antisipasi lonjakan beban kendaraan di masa depan.
Untuk menjaga keseimbangan arus penyeberangan di Selat Bali itu, kata Bambang, saat ini pemerintah dan ASDP tengah mencari alternatif lokasi baru pembangunan dermaga tambahan di Gilimanuk.
“Rencananya di Pelabuhan Gilimanuk akan dibangun dermaga tambahan, yang nantinya akan dipasangkan secara operasional dengan Dermaga IV dan Dermaga Bulusan (Ketapang),” kata dia.
Menurut Bambang, pemicu utama terjadinya penumpukan kendaraan dan antrean panjang hingga terjadi kemacetan panjang saat Lebaran, libur sekolah, libur Natal dan tahun baru, adalah minimnya jumlah dermaga dibandingkan dengan total armada kapal feri di lintasan Ketapang-Gilimanuk tersebut.
“Sampai saat ini kapal feri yang beroperasi baru 50 persen dari total armada yang ada, karena keterbatasan daya tampung dermaga di penyeberangan Ketapang-Gilimanuk,” katanya.
Sementara Ketua Umum Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (Gapasdap) Khoiri Soetomo menegaskan bahwa kemacetan dan antrean panjang di penyeberangan Ketapang-Gilimanuk disebabkan bukan karena kekurangan armada kapal feri, melainkan karena keterbatasan dermaga.
“Dari 56 armada kapal feri yang ada, baru 28 kapal yang beroperasi, atau 50 persen, sedangkan kapal lainnya menunggu giliran,” katanya. (Dul)













Komentar