Yogyakarta, indomaritim.com – Melukis di ruang terbuka secara langsung berhadapan obyek alam merupakan salah satu proses kreatif perupa. Praktek kreatif ini dilakukan secara rutin oleh 10 perupa yang tergabung dalam kelompok Tambo Arts Center (TAC) dalam empat tahun belakangan ini. Hasil melukis secara on the spot ini kemudian dipamerkan di Sakato Art Space, Yogyakarta, 4 – 30 Juli 2026.
Kegiatan melukis on the spot yang mereka sebut sebagai Art Camp ini sebagai satu konsep berkumpul bersama yang menjadi rangkaian kegiatan untuk menyalurkan semangat berkarya sembari merasakan momen langsung hadir bersama alam, maota (ngobrol), berdiskusi dan berinteraksi dengan masyarakat. “Kegiatan ini sekaligus memberi tantangan setiap seniman Tambo untuk saling mengeksplorasi
kreativitas karya di alam terbuka,” ujar Dona, pengamat seni rupa.
Tema pameran “Manapak Jajak” atau menapak jejak adalah representasi dari kegiatan TAC yang berawal dari ide sederhana untuk berkumpul dan berkarya dengan cara yang berbeda, yaitu dengan konsep art camp. Manapak Jajak merujuk pada latar belakang penciptaan karya yang menelusuri kembali jejak kebudayaan di
Minangkabau, sejarah dan kekhasan eksistensi alam Sumatera Barat dalam bingkai proses kreatif berkarya.
Jejak itu dirasakan langsung dengan riset lapangan lewat pendekatan on the spot, abstraksi, dan dibaca kembali kehadirannya sebagai sumber artistik dalam berkarya.
Keindahan alam Minangkabau, nilai sejarah, dan kebudayaan
Minangkabau merupakan tiga aspek yang saling berkaitan dibalik itu. Tiga aspek itu mewujud ke dalam karya Art Camp untuk menyingkap gagasan artistik yang kaya dan menggugah mata.
Kegiatan pertama dimulai dari lokasi di Alahan Panjang Kabupaten Solok pada 4 – 6 Oktober 2025. Aktivitas camp dilakukan dengan membuat sketsa bersama dan melukis alam secara on the spot.
Art Camp kedua berlangsung di daerah Nagari tuo Pariangan Kabupaten Tanah Datar pada 26 dan 27 Oktober 2025. Nagari ini dipilih selain pertimbangan keindahan alamnya yang sudah dikenal banyak orang sebagai destinasi wisata, daerah ini juga menyimpan sejarah sebagai awal peradaban masyarakat Minangkabau. Berdasarkan tambo Minangkabau, nagari ini adalah nagari tertua.
Lokasi Art Camp ketiga, Tabiang Takuruang, Ngarai Sianok, Agam, pada pertengahan Januari 2026. Ada hal menarik yang ditemukan seniman Tambo pada daerah ini justru setelah terjadi bencana alam lewat perubahan bentuk dan topografi daratan ngarai takuruang. Kegiatan dilanjut ke tempat keempat, yaitu nagari Maek. Kawasan ini dikenal sebagai nagari seribu Menhir yang memiliki sejarah panjang menyimpan situs megalitikum.
Lokasi terbaru Art camp Tambo di kawasan Puncak Pato di Kabupaten Tanah Datar. Kawasan ini terkenal dengan saksi sejarah lahirnya Sumpah Sati Bukik Marapalam sebagai kesepakatan dalam konflik antara Kaum Adat yang memegang teguh tradisi adat dengan Kaum Padri (agama) yang ingin
memurnikan ajaran Islam di Minangkabau. Konflik itu berakhir pada kesepakatan pedoman hidup bagi masyarakat Minangkabau, yaitu: Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.
Karya lukisan Alam Minangkabau dari TAC tidak lagi melukiskan objek secara lugas. Bentuk distorsi dan abstraksi banyak ditemukan. Hasilnya, ada citraan lanskap danau dengan bentuk gunung di belakangnya. Sementara di bagian depan kanvas seperti mengungkap bagian dalam tanah (Yon Indra, Nagari Tuo dalam Dimensi Ruang Dulu, 2026).
Geografi Sumatera Barat yang terletak di hamparan Bukit Barisan menjadi subject matter perupa kelompok TAC. Antoni Eka Saputra (1980) mengambil lanskap pegunungan berupa jejeran bentuk bukit dalam corak representasional (Bukit Barisan #2, 2026) yang kemudian dia salin ke dalam bentuk abstrak dalam komposisi warna cerah (Bukit Barisan, 2026).
Irwandi (1973) juga menangkap lanskap alam terbuka berupa bentuk bukit tunggal yang menjulang dalam corak abstrak berselamut warna cerah kehijauan (Tabiang Takuruang, 2026). Bentuk yang sama juga dieksplorasi Imam Teguh Sy (1980) berupa citraan bentuk bukit dengan konstruksi bentuk rumah dan petahu di bawahnya (Sebelum Kejadian, 2026).
Bentuk semi representasional muncul pada karya lukis Hamzah (1980) berupa sosok wajah yang dibangun dari struktur garis dengan potongan tangan yang menyembul di kepala dalam sapuan warna dominan coklat (Figur Purba, 2026). Adapun Romi Armoni (1981) menghadirkan bentuk mirip bongkahan batu dengan citraan cukilan dalam huruf Arab: Alhamdulillah (Zikir, 2026).
Ada juga lukisan bercorak abstrak karya Yasrul Sami Batubara (1969) berupa susunan garis vertikal (Pincuran 7, 2026).
Melalui “Manapak Jajak” kelompok Tambo Arts Center berusaha menapaki
kembali keindahan lanskap alam Sumatera Barat, kesejarahan, dan nilai kebudayaan Minangkabau dalam bingkai yang lebih temporer. (RF)








Komentar