Istanbul, indomaritim.com – Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengatakan Amerika Serikat bisa mempertahankan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran tanpa batas waktu dengan merotasi kapal perang masuk dan keluar kawasan sesuai kebutuhan.
“Kami dapat mempertahankan blokade selama diperlukan. Tanpa batas waktu, Angkatan Laut AS dapat mempertahankan blokade seperti itu karena kami akan terus merotasi kapal masuk dan keluar kawasan,” kata Hegseth kepada wartawan di Panama, Kamis.
Hegseth mengatakan kemampuan tersebut didukung oleh kekuatan Angkatan Laut AS yang menurutnya tidak dimiliki negara-negara lain di dunia.
“Tidak ada negara atau angkatan laut lain di dunia yang memiliki kemampuan untuk membentuk dinding baja seperti Angkatan Laut AS, serta kemauan untuk menggunakannya seperti yang telah kami lakukan,” ujarnya seperti dikutip dari Antara.
Menurut Hegseth, Iran mengetahui bahwa mereka tidak dapat keluar atau masuk melalui wilayah yang diblokade dan tidak ada batas waktu bagi penerapan blokade tersebut.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan Amerika Serikat memiliki “kendali penuh” atas Selat Hormuz dan berjanji mempertahankan blokade laut di jalur strategis tersebut.
Namun, pejabat militer Iran membantah klaim AS mengenai kendali atas Selat Hormuz tersebut. Komando pusat militer Iran menyebut pernyataan itu sebagai “kebohongan dan rekayasa yang tidak berdasar”.
“Klaim palsu AS mengenai jalur normal kapal melalui Selat Hormuz, yang mencerminkan ketidakberdayaan dan kebingungan militer negara tersebut, tidak lain hanyalah kedustaan dan kebohongan yang tidak berdasar,” demikian pernyataan komando militer yang disiarkan oleh lembaga penyiaran negara Iran, IRIB.
AS dan Iran sebelumnya menyepakati gencatan senjata yang dimediasi Pakistan pada April dan kemudian menandatangani kesepakatan pada 17 Juni untuk memulai perundingan menuju kesepakatan akhir.
Namun, perundingan tersebut terhenti akibat perbedaan mengenai jaminan keamanan dan kebebasan navigasi di Selat Hormuz, salah satu jalur strategis utama bagi pasokan energi dan perdagangan dunia.
Pada 8-24 Juli, AS dan Iran kembali saling serang. Washington menyerang sejumlah target di Iran, sedangkan Teheran membalas dengan menyerang sarana dan prasarana serta aset militer AS di sejumlah negara Arab, termasuk Yordania, Bahrain, dan Kuwait. (Hes)







Komentar