Pidato Sidang Tahunan, Ahmad Muzani: Persatuan dan Pancasila Harus Menjadi Kekuatan Indonesia Menuju Kemajuan

Berita, Nasional6 Dilihat

Jakarta, indomaritim.com – Ketua MPR RI Ahmad Muzani mengajak seluruh elemen bangsa menjadikan momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sebagai kesempatan untuk meneguhkan kembali komitmen menjaga persatuan, Pancasila, dan demokrasi.

Hal itu disampaikan Ahmad Muzani dalam pidatonya pada Sidang Tahunan MPR RI, di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026). Ia menegaskan, kemerdekaan yang diwariskan para pendiri bangsa merupakan amanah yang harus dijaga bersama.

Menurut Muzani, perbedaan politik tidak boleh menjadi alasan untuk memecah persaudaraan kebangsaan. Indonesia, kata dia, lahir dari kesediaan berbagai golongan untuk mengesampingkan kepentingan kelompok demi cita-cita yang lebih besar.

“Negeri ini bukanlah tanda kemenangan satu golongan atas golongan yang lain. Negeri ini hasil kesediaan semua golongan untuk memperjuangkan cita-cita yang lebih besar,” ujar Muzani.

Ia mengatakan, kekuatan Indonesia selama ini bukan semata-mata berasal dari kekayaan alam maupun dukungan internasional, melainkan dari kekuatan rakyat yang bersatu. Karena itu, persatuan harus terus dirawat agar energi bangsa tidak habis untuk saling mencurigai dan meniadakan.

Muzani juga menempatkan Pancasila sebagai titik temu terbesar bangsa Indonesia. Menurutnya, Pancasila lahir melalui proses sejarah yang panjang, perdebatan, perenungan, serta kesediaan para pendiri bangsa menemukan jalan yang dapat diterima seluruh golongan.

“Pancasila harus terlihat nyata dalam cara negara melindungi rakyatnya, dalam cara hukum ditegakkan, termasuk upaya untuk terus memberantas korupsi menjadi prioritas, dalam cara kekayaan nasional dikelola, dan dalam cara kita bersatu di tengah perbedaan,” katanya.

Dalam pidatonya, Muzani juga mengingatkan pentingnya membangun budaya demokrasi yang santun. Ia menilai kebebasan menyampaikan pendapat harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab dan penghormatan terhadap sesama.

Ia mengutip pesan pujangga Melayu Raja Ali Haji dalam ‘Gurindam Dua Belas*, “Jika hendak mengenal orang berbangsa, lihat kepada budi dan bahasa’.

Muzani menilai perkembangan teknologi digital telah memperluas ruang demokrasi, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan berupa penyebaran kebencian, fitnah, manipulasi, dan kabar bohong.

Karena itu, ia mengajak masyarakat membangun budaya politik yang lebih beradab, yakni keras dalam gagasan tetapi santun dalam penyampaian, teguh dalam pendirian namun terbuka terhadap musyawarah.

“Kita boleh berbeda pandangan, tetapi perbedaan itu hendaknya disampaikan dengan budi dan bahasa yang baik,” ujarnya.

Muzani juga menyoroti sejumlah program pemerintah yang dinilainya berkaitan dengan pembangunan sumber daya manusia dan penguatan ekonomi masyarakat. Ia menyebut Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai salah satu terobosan untuk mewujudkan Generasi Emas 2045.

Menurutnya, MBG bukan sekadar pembagian makanan, tetapi bagian dari investasi jangka panjang untuk membangun manusia Indonesia yang sehat dan berkualitas. Namun, ia menekankan pentingnya tata kelola yang baik agar program tersebut tepat sasaran dan akuntabel.

Selain itu, Muzani menilai pengembangan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih sejalan dengan amanat konstitusi mengenai perekonomian yang disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan.

Menurutnya, koperasi yang dikelola secara sehat dan profesional dapat memperkuat posisi tawar petani, membuka akses pasar bagi nelayan, membantu pelaku usaha mikro, serta meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat.

“Koperasi bukan sekadar badan usaha. Koperasi adalah semangat untuk maju bersama,” katanya.

Muzani juga menyinggung Sekolah Rakyat dan Sekolah Unggul Garuda sebagai bagian dari upaya memperluas akses pendidikan sekaligus mencetak talenta unggul di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika.

Dalam isu internasional, Muzani menegaskan politik luar negeri Indonesia harus tetap berpegang pada prinsip bebas dan aktif. Menurutnya, Indonesia memiliki kewajiban ikut menciptakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Ia menolak perang sebagai jalan penyelesaian perselisihan antarnegara dan menyerukan penghentian perang di Timur Tengah serta berbagai wilayah konflik lainnya.

“Dunia tidak membutuhkan perang, dunia membutuhkan keberanian untuk berdamai,” tegasnya.

Muzani juga menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Ayatollah Ali Khamenei, serta Emir Qatar, Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani, sebagaimana disampaikan dalam pidatonya.

Terkait Palestina, Muzani menegaskan sikap Indonesia tidak berubah. Ia menyatakan dukungan terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina merupakan bagian dari amanat sejarah dan konstitusi Indonesia.

“Kita mendukung hak rakyat Palestina untuk merdeka, berdaulat, dan hidup secara bermartabat di tanah airnya sendiri,” ujarnya.

Menutup pidatonya, Muzani kembali mengingatkan bahwa persatuan tidak boleh hanya menjadi slogan, tetapi harus diwujudkan melalui keadilan, keteladanan, dialog, dan rasa saling percaya.

Ia mengutip falsafah Jawa, “Nglurug Tanpo Bolo, Sekti Tanpo Aji-aji, Sugih Tanpo Bondho, Menang Tanpo Ngasorake.”

Menurut Muzani, kemenangan sejati bukanlah kemenangan yang meninggalkan luka bagi sesama anak bangsa, melainkan kemenangan yang tetap menjaga persaudaraan dan menghormati perbedaan.

“Kita harus mendidik anak-anak kita bukan sekadar menjadi pintar, tetapi berintegritas. Bukan sekadar bersaing, tetapi tetap menjunjung tinggi gotong royong,” katanya.

Muzani mengajak seluruh rakyat Indonesia menjaga Republik sebagai rumah bersama, merawat Pancasila sebagai titik temu, serta menjalankan demokrasi dengan semangat kekeluargaan.

“Mari kita sekuat tenaga menjaga Republik Indonesia sebagai rumah bersama, merawat Pancasila sebagai titik temu kita semua, dan menjalankan demokrasi dengan semangat kekeluargaan,” pungkasnya.

Menutup pidatonya, Ahmad Muzani menyerukan, “Dirgahayu ke-81 Republik Indonesia! Bersatu, berdaulat, adil, dan makmur! Sekali merdeka, tetap merdeka!” (As)

PERINGATAN!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel/gambar/video/infografis tanpa izin tertulis dari redaksi indomaritim.com.

Komentar