Yogyakarta, indomaritim.com – Ombak laut selatan pagi itu cukup tinggi. Gelombang menggulung buih dan puing yang berada di depannya sebelum pecah menghantam tebing di Pantai Baron, Kalurahan Kemadang, Kapanewon Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Hembusan angin yang membawa butiran air laut terasa menyegarkan kulit di tengah terik matahari yang menyengat.
Tepat pukul 10.00 WIB, di tengah suara deburan ombak dan hembusan angin laut, terdengar lirih lagu “Indonesia Raya” ciptaan W.R. Supratman yang dinyanyikan secara bersama-sama. Lagu kebangsaan Indonesia itu dinyanyikan oleh ratusan peserta upacara dari berbagai instansi, sekolah, dan lapisan masyarakat Gunungkidul.
Mereka berbaris rapi di atas pasir dan bersikap hormat di bawah bendera Merah Putih yang tengah dinaikkan petugas dalam rangkaian upacara bendera memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Bangsa Indonesia.
Pemandangan Pantai Baron dan suasana alam di sekitarnya menambah kekhidmatan upacara. Sejak sekitar pukul 09.00 WIB, para peserta telah berkumpul di dermaga kecil untuk mengantre kapal nelayan yang disediakan sebagai sarana penyeberangan.
Lokasi upacara berada di kawasan pantai yang dikelilingi air, menyerupai sebuah pulau kecil. Kondisi tersebut mengharuskan peserta menyeberang untuk mencapai lokasi upacara. Beberapa kapal tampak sibuk mondar-mandir mengangkut sekitar tujuh hingga delapan orang dalam sekali perjalanan.
Di sekitar lokasi, wisatawan, pedagang, dan pengunjung Pantai Baron turut menyaksikan pelaksanaan upacara. Mereka duduk memadati tepian pantai untuk melihat secara saksama seluruh prosesi.
Berenang demi kibarkan Merah Putih
Pemandangan heroik tidak berhenti pada pelaksanaan upacara bendera. Setelah upacara selesai, puluhan petugas Satlinmas Rescue Istimewa (SRI) DIY berjajar dengan mengenakan perlengkapan renang dan membawa papan seluncur.
Tiga orang yang ditunjuk sebagai pengibar bendera di tengah laut mengawali aksi dengan menceburkan diri ke laut, kemudian diikuti personel lainnya.
Mereka berjibaku menerjang ombak tinggi untuk mencapai tiang bendera apung yang berjarak sekitar 150 meter dari bibir pantai. Para personel tampak kesulitan mencapai titik yang telah dipersiapkan. Mereka dikawal dua sky boat yang berputar mengelilingi area untuk memantau setiap personel dan memastikan keamanan.
Beberapa personel akhirnya menyerah karena beratnya kondisi laut. Namun, sejumlah lainnya tetap bersemangat berjuang menyelesaikan tugas tersebut.
“Semangat teman-teman luar biasa. Prosesi ini merefleksikan bagaimana perjuangan para pendahulu dalam mencapai kemerdekaan, walaupun apa yang kita lakukan ini belum ada apa-apanya,” kata Koordinator Satlinmas Rescue Istimewa (SRI) Wilayah Operasi II Pantai Baron Marjono saat ditemui di lokasi acara, Senin (17/8/2026) seperti dikutip dari Antara.
Setelah berusaha keras, beberapa personel akhirnya mampu mencapai tiang bendera dan mulai mempersiapkan prosesi pengibaran Sang Merah Putih.
Setelah salah seorang memberikan aba-aba bahwa bendera siap dikibarkan, seluruh perenang bersikap hormat. Kapal-kapal dan sky boat mengelilingi tiang bendera apung. Mereka kemudian bersama-sama menyanyikan lagu “Indonesia Raya” di tengah laut Pantai Baron.
“Tiang bendera apung yang kami pasang itu tingginya sekitar 10-15 meter. Itu cukup sulit karena petugas terombang-ambing saat memasang bendera,” ujarnya.
Meskipun terombang-ambing oleh gelombang tinggi, mereka berhasil menyelesaikan prosesi tersebut dengan baik. Ombak tinggi dan rasa lelah tidak menyurutkan semangat mereka sebagai bagian dari upaya meningkatkan nasionalisme.
“Tinggi ombak itu mungkin sekitar dua meter,” katanya.
Menurut Marjono, upacara tersebut rutin dilakukan SRI DIY setiap tahun sejak 2013. Kegiatan itu diharapkan menjadi pembelajaran bagi masyarakat, khususnya masyarakat pesisir, untuk memperkuat rasa nasionalisme.
“Memberikan pemahaman kepada warga masyarakat pesisir dan juga dari rekan-rekan SRI biar rasa nasionalisme itu semakin mendalam,” ujarnya.
Perempuan turut menjadi tim pengibar bendera
Hal menarik lainnya dalam prosesi tersebut adalah keterlibatan seorang perempuan sebagai bagian dari tim pengibar bendera di tengah laut. Ia adalah Susmiyati (35), personel SRI DIY yang mampu berenang dan bahkan mengungguli sejumlah personel lainnya.
Susmiyati berhasil mengibarkan bendera bersama dua rekannya, yakni Surono dan Heri Wibowo.
“Kalau yang ikut terjun renang perempuannya totalnya ada tiga, tapi saya diberi tugas menjadi pengibar bendera,” katanya.
Susmiyati mengatakan medan yang ditempuh tahun ini lebih berat dibandingkan tahun sebelumnya. Ia merasakan pijakan dari bibir pantai hingga ke tiang bendera semakin berkurang sehingga membutuhkan tenaga lebih besar untuk berenang. Selain itu, kondisi gelombang tinggi juga menjadi tantangan tersendiri.
“Tahun kemarin itu cukup datar pasirnya, jadi berenang enggak terlalu jauh. Kalau sekarang lebih berat karena dari pasir langsung dalam,” ujarnya.
Tahun ini merupakan kali keempat Susmiyati menjadi bagian dari tim perenang dalam pengibaran bendera Merah Putih di tengah laut. Karena dalam beberapa hari terakhir gelombang laut cukup tinggi, persiapan yang dilakukannya hanya berlangsung selama satu hari.
“Saya memang suka renang dan ikut kelas diving juga,” katanya.
Secara umum, pelaksanaan upacara bendera di Pantai Baron berjalan lancar dan menjadi perhatian masyarakat sekitar. Kegiatan tersebut diharapkan dapat semakin menumbuhkan rasa nasionalisme masyarakat hingga membentuk mental bangsa yang berdaya dan mandiri. (RR)














Komentar