Ankara, indomaritim.com – Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan pada Jumat bahwa dirinya tidak mendukung kelanjutan perang dengan Amerika Serikat (AS), sembari menyerukan penguatan ketahanan Iran untuk menghadapi fase berikutnya.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam pertemuan dengan para pimpinan universitas di Iran, menurut kantor berita lokal Mehr News Agency.
“Saya tidak mendukung kelanjutan perang, tetapi kita harus memperkuat ketahanan negara dalam menghadapi perkembangan yang akan datang,” kata Pezeshkian saat ditanya mengenai konflik dengan Washington.
Dikutip dari Antara, penguatan ketahanan negara Iran harus dilakukan melalui langkah yang tidak memaksa Iran bernegosiasi dengan “musuh” dari posisi yang lemah. Ia juga meminta universitas mendukung pemerintah dalam upaya tersebut.
Presiden Iran itu mengatakan kebijakan ekonomi harus mempertimbangkan kondisi sosial yang ada. Ia memperingatkan bahwa langkah-langkah yang tidak diperhitungkan dengan matang justru dapat menimbulkan kerugian, bukan menjadi solusi.
“Kita harus memanfaatkan kontribusi para mahasiswa Generasi Z untuk menyelesaikan persoalan masyarakat, serta memastikan mereka berpartisipasi dalam memberikan solusi, bukan terlibat dalam aksi protes,” ucapnya.
Pezeshkian menegaskan bahwa sebagai presiden, dirinya tidak memiliki hubungan politik dengan kelompok tertentu. Ia mengatakan terbuka untuk bekerja sama dengan seluruh kelompok politik dan siapa pun yang berkontribusi dalam mengatasi krisis yang dihadapi Iran.
AS dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari, yang mendorong Teheran meluncurkan rudal ke Israel serta menyerang target dan pangkalan AS di sejumlah negara di kawasan.
Iran juga mengumumkan penutupan Selat Hormuz bagi pelayaran, yang menyebabkan gangguan luas terhadap arus energi dan perdagangan global.
Pada 18 Juni, Washington dan Teheran mencapai nota kesepahaman untuk mengakhiri operasi militer, termasuk jaminan bagi kapal-kapal komersial untuk melintas di Selat Hormuz serta dimulainya negosiasi guna mencapai kesepakatan final dalam waktu 60 hari.
Namun, kesepahaman tersebut kemudian gagal terlaksana dan bentrokan kembali terjadi pada Juli. AS kembali melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran serta memberlakukan kembali blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. (Dul)











Komentar