Serang, indomaritim.com – Jenazah Surakman (6), anak buah kapal Arupadhatu 1 yang hilang kontak saat membawa rombongan wartawan untuk meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, ditemukan di Perairan Enggano, Bengkulu.
Jenazah Surakman ditemukan di sekitar Sawang Bengkok, Desa Kahyapu, Kecamatan Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, Sabtu (12/9). Saat ditemukan, jenazah memiliki ciri mengenakan celana pendek hitam, tinggi sekitar 163 sentimeter, dan diperkirakan berusia 50 tahun.
Kapolda Banten Irjen Pol. Hengki mengatakan identifikasi ilmiah dilakukan setelah pihaknya menerima informasi penemuan jenazah laki-laki tanpa identitas di Pulau Enggano.
Polda Banten dan Polda Bengkulu melakukan identifikasi melalui tim Disaster Victim Identification (DVI) dengan mencocokkan data antemortem keluarga delapan korban yang hilang kontak.
Tim Biddokkes Polda Banten kemudian menyerahkan data antemortem kepada Rumah Sakit Bhayangkara Polda Bengkulu untuk proses identifikasi.
Berdasarkan perbandingan data primer berupa sidik jari, gigi, dan DNA, jenazah tersebut teridentifikasi secara genetik sebagai Surakman. Hasil pemeriksaan juga mengonfirmasi hubungan biologis Surakman sebagai ayah Yayat.
Hengki mengatakan jenazah Surakman dijadwalkan diterbangkan dari Bengkulu menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Kamis (24/9/2026).
“Jenazah akan kami terima bersama Bapak Gubernur Banten dan Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Banten,” ujarnya.
Surakman merupakan salah satu ABK KM Arupadhatu 1 yang hilang kontak saat membawa rombongan jurnalis untuk meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda.
Gubernur Banten, Andra Soni berharap tujuh korban lainnya yang hingga kini masih dalam pencarian dapat segera ditemukan. Ia juga mengajak masyarakat mendoakan keselamatan para korban dan keluarga yang masih menunggu.
“Kepada keluarga dari tujuh korban yang belum ditemukan, semoga kita segera mendapatkan titik terang dan akan terus diinformasikan. Kita berharap dan senantiasa berdoa untuk segera menemukan saudara-saudara kita,” katanya.
KM Arupadhatu 1 membawa lima jurnalis dan tiga kru kapal, bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, dan dilaporkan hilang kontak sejak 7 September 2026.
Sementara itu, Kepala Kantor Basarnas Banten Al Amrad mengatakan meskipun operasi pencarian secara resmi telah ditutup setelah 10 hari, pemantauan dan koordinasi lintas wilayah tetap dilakukan.
“Hingga saat ini, kami terus berkoordinasi dengan Kantor SAR Bengkulu dan Lampung untuk memantau wilayah pesisir serta melibatkan para nelayan sekitar. Meski hasilnya sementara masih nihil, termasuk pemantauan di wilayah perairan Lebak, upaya koordinasi ini tidak dihentikan,” katanya. (Hes)







Komentar