Empat Pelaut Indonesia Awak Kapal MT Honour 25 Tiba Tanah Air

Mereka disandera perompak Somalia selama enam bulan

Info Maritim1549 Dilihat

Jakarta, indomaritim.com – Hampir enam bulan setelah disandera perompak Somalia, empat pelaut Indonesia yang menjadi anak buah kapal (ABK) MT Honour 25 akhirnya kembali menginjakkan kaki di tanah air dan bertemu keluarga mereka di Jakarta, Selasa (6/10).

Kedatangan mereka dan pertemuan dengan keluarga berlangsung dalam suasana hangat dan mengharukan di Terminal VIP Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Banten. Mereka disambut Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Sugiono serta Menteri Luar Negeri (Menlu) Arrmanatha Nasir.

Seorang ibu bahkan sempat pingsan setelah bertemu kembali dengan anaknya yang disandera perompak Somalia selama hampir enam bulan karena tak kuat menahan emosi.

Menlu Arrmanatha menjelaskan bahwa sepanjang upaya pembebasan ABK MT Honour 25, Indonesia menjalin komunikasi dengan berbagai pihak di samping pemerintah Somalia dan pemilik kapal.

“Koordinasi juga dilakukan dengan pemerintah-pemerintah yang warga negaranya menjadi kru kapal tersebut,” katanya, sembari menyebut negara-negara tersebut: India, Pakistan, dan Myanmar.

Menko PMK Sugiono menegaskan pihaknya akan memastikan keempat ABK menerima pemulihan secara menyeluruh, termasuk perawatan kesehatan, setelah mereka kembali ke tanah air.

“Saya selaku Menko PMK hendak memastikan bahwa kelanjutan dari proses ini, yaitu perawatan kesehatan bagi saudara-saudara kita, bisa terlaksana dengan baik,” ujar Sugiono.

Kapal MT Honour 25 yang diawaki empat ABK WNI, 10 ABK asal Pakistan, dan masing-masing satu awak dari India dan Myanmar, dibajak sekelompok perompak di perairan Hafun, Somalia, pada 22 April 2026.

Keempat WNI di kapal tersebut adalah Kapten Ashari Samadikun (34) asal Gowa, Sulawesi Selatan; Wahudinanto (48) asal Pemalang, Jawa Tengah; Adi Faizal (27) asal Bulukumba, Sulawesi Selatan; dan Fiki Mutakin (25) asal Bogor, Jawa Barat.

Begitu mendapat informasi tentang pembajakan MT Honour 25, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI melalui Kedutaan Besar RI (KBRI) Nairobi langsung mengambil langkah intensif untuk mengetahui kondisi keempat WNI.

Upaya tersebut membuahkan hasil. Direktur Pelindungan WNI Heni Hamidah pada 30 April dapat memastikan keempat WNI yang ada di kapal tersebut berada dalam kondisi baik.

Kemudian pada pertengahan Mei, Kemlu RI kembali mengonfirmasi bahwa para WNI di MT Honour 25 dalam kondisi sehat. Kebutuhan logistik terpenuhi dan gaji mereka tetap dibayarkan pemberi kerja.

Namun, Duta Besar Indonesia untuk Kenya merangkap Somalia Witjaksono Adji mengungkapkan bahwa para ABK MT Honour 25 berada dalam bahaya yang nyata selama disandera. Mereka diketahui mengalami berbagai tindak kekerasan, mulai dari diikat hingga hampir dieksekusi.

Ia menjelaskan, demi mendorong pembebasan para ABK WNI, pihaknya menjalin komunikasi intensif dengan berbagai pihak, antara lain pemerintah federal Somalia, pemerintah negara bagian Puntland yang bertanggung jawab atas wilayah laut Somalia di mana pembajakan terjadi, serta jejaring komunitas dan LSM setempat.

Witjaksono bahkan menawarkan penjajakan kerja sama di sektor maritim dengan otoritas Puntland demi memperlancar dialog dan memberi dorongan bagi mereka untuk membebaskan para ABK di kapal MT Honour 25.

Dari upaya komunikasi tersebut terungkap bahwa kondisi keamanan di perairan Somalia saat ini masih belum kondusif. Pasalnya, selain MT Honour 25, diketahui masih ada lima kapal lain yang dibajak perompak.

Upaya pembebasan para ABK MT Honour 25 mencapai klimaksnya pada 29 September, di mana pasukan keamanan dari negara bagian Puntland melancarkan operasi bersenjata untuk menyelamatkan para ABK tersebut.

Witjaksono mengakui kabar soal operasi tersebut simpang siur karena awalnya tidak ada pemberitahuan resmi. Informasi justru ia dapatkan dari jejaring masyarakat setempat, meski dengan kabar yang berubah-ubah seiring perkembangan situasi.

Ia bahkan sempat menerima kabar bahwa seorang WNI menjadi korban tewas dalam operasi penyelamatan itu. Padahal, informasi sebelumnya menyebut semua sandera selamat. “Saya langsung down,” kata dia usai mendapat kabar itu.

Akan tetapi, informasi valid akhirnya disampaikan langsung kepadanya oleh sang kapten kapal, Ashari Samadikun, yang memastikan semua WNI di MT Honour 25 selamat.

“Menurut konfirmasi dari beliau, semua ABK WNI dalam kondisi hidup, tetapi ada satu yang terluka,” ujarnya seperti dikutip dari Antara.

ABK WNI yang dimaksud Witjaksono adalah Fiki Mutakin yang mengalami luka tembak di kaki kanan saat operasi penyelamatan. Saat tiba di Jakarta, Fiki masih harus menggunakan kursi roda dan kakinya masih dibebat perban.

Menurut Witjaksono, pihaknya kemudian mengetahui bahwa Fiki terkena tembakan di tengah kekacauan yang terjadi saat operasi penyelamatan. Kaki Fiki ditembak pembajak yang melihatnya hendak menurunkan sekoci, padahal hal tersebut dilakukannya berdasarkan instruksi pembajak lain.

Meski mengalami luka tembak, Fiki selamat setelah pura-pura mati dan kemudian ditutupi kain oleh seorang pembajak lain yang bersimpati kepada para sandera.

Setelah berhasil diselamatkan dalam operasi tersebut, Fiki dibawa ke darat melalui kota pesisir Bandar Beyla, sebelum dievakuasi ke Garowe, ibu kota Puntland, untuk menjalani perawatan medis.

Ketiga ABK WNI lainnya tidak mengalami luka-luka, termasuk Kapten Ashari, yang tetap bertahan untuk mengoperasikan kapal setelah lepas dari cengkeraman perompak hingga kedatangan kru pengganti.

Ketiga ABK WNI tersebut kemudian dibawa ke Garowe, di mana mereka disambut oleh Dubes Witjaksono dan staf KBRI Nairobi untuk penanganan selanjutnya serta persiapan kepulangan mereka ke tanah air. Mereka tiba di Jakarta pada 6 Oktober sore.

Saat tiba di Jakarta, Kapten Ashari menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada pemerintah RI atas respons cepat sejak hari pertama penyanderaan hingga pembebasan mereka dan kepulangan ke Indonesia.

Ia mengenang momen krusial pada hari pertama penyanderaan, ketika dirinya diberikan kesempatan melakukan kontak ke luar kapal. Saat itu, ia memutuskan menjadikan KBRI Nairobi sebagai pihak pertama yang dihubunginya.

Namun, Kapten Ashari mengaku masih menyesal karena merasa gagal menjaga keselamatan seluruh awak kapalnya. Diketahui, lima ABK MT Honour 25 gugur saat kapal mereka dikuasai pembajak pada April hingga September 2026. Kelima ABK tersebut dipastikan bukan WNI.

“Saya tidak bisa menepati janji saya membawa semua kru saya dengan keadaan selamat. Saya memohon maaf sebesar-besarnya,” katanya.

Bebasnya para ABK WNI tersebut dan kepulangan mereka ke tanah air merupakan hasil dari usaha intensif pemerintah RI dalam memperjuangkan pembebasan mereka. Keberhasilan itu juga menjadi hadiah bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang bulan ini akan berusia dua tahun. (Hes)

PERINGATAN!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel/gambar/video/infografis tanpa izin tertulis dari redaksi indomaritim.com.

Komentar