Warga Selesaikan Sumbatan Muara Sungai Opak di Bantul

Daerah361 Dilihat

Yogyakarta, indomaritim.com – Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (Pemda DIY), Pemerintah Kabupaten Bantul, dan masyarakat menyelesaikan penanganan sumbatan di Muara Sungai Opak, Kabupaten Bantul, yang menyebabkan air sungai meluap dan merendam sekitar 62 hektare lahan sawah di tiga kalurahan.

Koordinator Lapangan Pamong Banyu Bidang Sumber Daya Air dan Drainase (SDAD) Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Energi Sumber Daya Mineral (PUPSDM) DIY Antoni Primer mengatakan sumbatan di Muara Sungai Opak yang berlokasi di Dusun Baros, Kalurahan Tirtohargo, telah berhasil ditangani.

“Hari ini kami berkolaborasi dengan BBWSSO untuk penanganan muara,” katanya saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon di Bantul, Kamis seperti dikutip dari Antara.

Ia menjelaskan penanganan dilakukan dengan mengerahkan alat berat serta berkolaborasi dengan perwakilan petani dari sejumlah wilayah di Kapanewon Sanden.

“Ada Kelurahan Srigading dan Kelurahan Gadingharjo, serta Kelurahan Tirtohargo yang masuk Kapanewon Kretek,” ujarnya.

Selain itu, pihaknya bekerja sama dengan petugas operasi dan pemeliharaan (OP) Daerah Irigasi (DI) Pijenan-Kamijoro agar penanganan sumbatan Muara Sungai Opak dapat diselesaikan dengan cepat.

“Berkat kolaborasi dari seluruh elemen masyarakat serta pemerintah kelurahan, dibantu oleh dari Kapanewon Sanden, BPPK Kapanewon Kretek, BPP Kapanewon Sanden, serta TNI, AL, dan dari kepolisian, hari ini selesai,” katanya.

Antoni menyebutkan lahan sawah yang terendam luapan Sungai Opak meliputi 25 hektare di Kalurahan Srigading, 30 hektare di Kalurahan Tirtohargo, dan tujuh hektare di Kalurahan Gadingharjo.

“Jadi, memang sangat diperlukan kolaborasi berbagai pihak untuk penanganannya,” ujarnya.

Ia berharap tanaman yang terendam dapat diselamatkan, mengingat lahan pertanian di wilayah tersebut banyak ditanami padi dan palawija, termasuk cabai.

Secara terpisah, Lurah Tirtohargo Sugiyanta mengatakan selain mengandalkan alat berat, para petani juga bergotong royong membuka sumbatan secara manual sejak Kamis pagi.

“Para petani bergotong royong membedah sumbatan secara manual. Mereka sudah bergerak sejak tadi pagi,” katanya.

Menurut dia, kejadian serupa telah beberapa kali terjadi akibat gelombang tinggi dari laut selatan yang membawa pasir ke muara sungai sehingga menghambat aliran air menuju laut.

“Sekitar seminggu lalu sumbatan sudah dibuka seluas 50 meter persegi. Namun, karena kembali disapu gelombang tinggi, alirannya buntu lagi,” ujarnya. (Edo)

PERINGATAN!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel/gambar/video/infografis tanpa izin tertulis dari redaksi indomaritim.com.

Komentar