Bandung Barat, indomaritim.com – Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, mencatat sebanyak 22,12 ton ikan mas di Keramba Jaring Apung (KJA) Waduk Saguling mati massal akibat fenomena upwelling yang dipicu perubahan cuaca secara ekstrem.
Kepala Dispernakan KBB Wiwin Aprianti mengatakan kematian ikan terjadi setelah hujan terus-menerus memicu limpasan material limbah dari sungai ke badan waduk sehingga menyebabkan penurunan kualitas air dan kadar oksigen terlarut.
“Berdasarkan laporan yang diterima, total ada 22,12 ton ikan yang mati akibat ‘upwelling’,” kata Wiwin saat dikonfirmasi di Bandung Barat, Selasa seperti dikutip Antara.
Berdasarkan pendataan pengepul dan pembudidaya, kematian ikan tersebar di tujuh titik KJA dengan lokasi terdampak paling parah berada di Blok Ugrem, Kecamatan Cililin, dengan jumlah ikan mas mati mencapai 15 ton.
Kematian ikan juga tercatat di Blok Bongas sebanyak dua ton, Blok Cikadu tiga ton, Blok Balong dua ton, Blok Pakuwon di Desa Jati 50 kilogram, Blok Cijati di Desa Saguling 30 kilogram, serta Blok Mariuk di Desa Girimukti 40 kilogram.
Wiwin mengatakan peristiwa tersebut menimbulkan kerugian ekonomi bagi pembudidaya sehingga diperlukan penanganan segera untuk menyelamatkan ikan yang masih hidup sekaligus mencegah pencemaran perairan akibat bangkai ikan.
“Pembudidaya harus segera memisahkan ikan yang masih hidup dari bangkai ikan yang mati, kemudian memindahkannya ke wadah pemeliharaan terpisah untuk dibesarkan atau segera dipanen,” katanya.
Dispernakan KBB juga meminta pembudidaya segera mengangkat bangkai ikan dari area KJA dan menguburnya di lokasi yang jauh dari sumber air serta permukiman guna mencegah pembusukan dan pencemaran lanjutan.
Sebagian ikan yang masih memenuhi standar keamanan pangan dapat dimanfaatkan untuk konsumsi, sedangkan ikan yang tidak layak konsumsi dapat diolah sebagai bahan baku pakan ternak dengan memperhatikan kelayakan pengolahannya.
Wiwin mengimbau pembudidaya mengurangi kepadatan ikan melalui panen sebagian, membatasi pemberian pakan menjelang terjadinya umbalan, serta menghentikan pemberian pakan ketika fenomena tersebut berlangsung.
“Jika memungkinkan, dapat dilakukan pemberian aerasi tambahan di wadah pemeliharaan ikan. Kami mengimbau kepada semua pihak untuk lebih berhati-hati dalam pengelolaan budidaya ikan,” kata Wiwin.
Sebagai langkah lanjutan, Dispernakan KBB mengimbau pembudidaya meningkatkan pemantauan kondisi perairan dan kepadatan tebar ikan, terutama saat terjadi perubahan cuaca ekstrem, guna mengantisipasi kejadian serupa serta menjaga keberlanjutan usaha budidaya ikan di Waduk Saguling. (Hes)














Komentar