Menjaga Kedaulatan Indonesia di Pulau Sebatik

Daerah5 Dilihat

Sebatik, indomaritim.com – Pulau Sebatik, yang luasnya sebesar 452,2 km2, terbilang unik karena terbagi menjadi dua; bagian utara masuk negara Malaysia dan bagian selatan dimiliki Indonesia. Bagian yang dimiliki Indonesia masuk dalam Kecamatan Nunukan, Kalimantan Utara.

Dengan kondisi ini, warga di perbatasan negara punya hubungan ekonomi dan kultural panjang di batas darat dan laut. Saat berdiri di ujung pulau, gedung-gedung di Tawau, Sabah, Malaysia, terlihat di seberang, apalagi pusat perekonomian masyarakat Sebatik hanya berada di sisi kanan pulau. Jarak yang amat dekat dengan Tawau ketimbang pulau Nunukan.

Kondisi geografis tersebut menjadikan Pulau Sebatik sebagai salah satu wilayah strategis yang membutuhkan perhatian khusus dari negara. Selain pembangunan infrastruktur dan peningkatan kesejahteraan masyarakat, kehadiran aparat keamanan menjadi elemen penting dalam menjaga kedaulatan wilayah perbatasan.

Di tengah dinamika kehidupan masyarakat perbatasan, prajurit Korps Marinir TNI Angkatan Laut memiliki peran penting dalam menjaga keamanan sekaligus memperkuat kehadiran negara di Sebatik, sebagai wilayah terdepan.

Patroli rutin di kawasan pesisir dan titik-titik rawan menjadi bagian dari upaya mencegah berbagai pelanggaran lintas batas, seperti penyelundupan barang, perdagangan ilegal, maupun aktivitas yang berpotensi mengganggu kedaulatan Indonesia.

Dipimpin Komandan Satgasmar Pam Puter XXX Kapten Marinir Ahmad Rizwan, prajurit marinir melaksanakan pemeriksaan kapal, patroli patok laut, dan patroli patok darat guna memastikan keamanan wilayah, mengawasi aktivitas di jalur perbatasan, serta menjaga keutuhan patok batas negara.

Ada sekitar 144 patok yang menandai perbatasan Indonesia-Malaysia. Marinir TNI AL bersama Yonkaf 13/SL TNI AD dan sejumlah satuan lainnya berkolaborasi menjaga keamanan dan kedaulatan negara dari berbagai ancaman.

Khusus untuk Marinir TNI AL, mereka berjaga di sepanjang pesisir perbatasan. Setiap pintu masuk/keluar utamanya di dermaga-dermaga kecil dijaga ketat untuk mengantisipasi masuknya barang-barang terlarang, seperti narkotika dan minuman keras. Setiap barang yang masuk mesti melewati pemeriksaan.

Tak hanya itu, petugas juga melakukan pemeriksaan identitas bagi masyarakat yang datang atau akan pergi melewati dermaga-dermaga kecil. Pemeriksaan tersebut dilakukan guna mencegah adanya warga ilegal yang keluar-masuk dari kedua negara.

Dengan karakteristik wilayah yang didominasi perairan, kemampuan mobilitas dan operasi amfibi Korps Marinir menjadi keunggulan dalam menjalankan tugas tersebut.

Kedaulatan negara

Jika di Pulau Jawa tugas pemadam kebakaran identik tak hanya memadamkan api, seperti evakuasi ular, melepas kaleng yang tersangkut di kepala bocah, mengevakuasi sarang tawon, bahkan menjadi wali murid dalam mengambil rapor anak-anak sekolah, para Marinir di Pulau Sebatik juga melakukan hal serupa.

Prajurit Marinir kerap menjalankan peran yang lebih luas. Istilah “apa lu butuh, gue ada” atau “palugada” menjadi potret keseharian mereka dalam membantu masyarakat di wilayah perbatasan.

Di luar tugas pokok menjaga kedaulatan negara, prajurit Marinir kerap dimintai pertolongan oleh masyarakat. Kedekatan yang terjalin dengan masyarakat selama bertahun-tahun, membuat warga tak sungkan meminta bantuan.

Seperti yang terlihat dari gawai Kapten Marinir Ahmad Rizwan tak pernah sunyi dalam setiap waktunya. Saat itu, ada warga yang menghubungi mereka karena membutuhkan darah golongan AB saat stok di puskesmas tak tersedia.

Rizwan kemudian bertanya kepada anggota yang memiliki golongan darah serupa. Tidak butuh lama, ada prajurit yang menawarkan diri untuk diambil darahnya.

Di samping itu, prajurit bintara kesehatan juga melakukan penyuluhan kesehatan bagi masyarakat, utamanya lanjut usia. Mereka mendatangi rumah-rumah yang dihuni lansia memberikan sosialisasi dan terkadang melakukan perawatan kepada mereka.

Pernah dalam satu waktu, terdapat lansia yang kakinya sobek terkena pecahan kaca dan tidak bisa berjalan. Keluarga langsung menghubungi Marinir untuk meminta perawatan. Prajurit Bintara Kesehatan langsung bergegas ke lokasi dan menjahit luka terbuka itu. Prajurit kemudian melakukan perawatan hingga luka benar-benar sembuh.

Atau bagaimana mereka diminta untuk memetik mangga karena pemilik rumah sudah sepuh dan tak bisa naik ke pohon. Kadang juga prajurit diminta untuk mengajar dan memberikan penyuluhan ke sekolah-sekolah yang ada di Sebatik.

Tantangan menjaga wilayah perbatasan tidak hanya datang dari kondisi geografis, tetapi juga dari dinamika sosial masyarakat. Karena itu, pendekatan persuasif dan humanis menjadi bagian penting dalam setiap pelaksanaan tugas.

Pendekatan tersebut membuat keberadaan Satgas Marinir diterima dengan baik oleh masyarakat Sebatik. Maka tak heran jika ada masyarakat yang memberi beras, buah-buahan, hingga ikan ke markas, secara cuma-cuma tanpa diminta.

Bahkan kedekatan yang begitu intim terlihat saat sore hari. Lapangan voli yang berada di dalam komplek markas komando selalu ramai oleh aktivitas masyarakat berolahraga.

Di tengah keterbatasan fasilitas dan jarak yang jauh dari pusat pemerintahan, kehadiran prajurit menjadi simbol hadirnya negara di wilayah terdepan.

Menjaga kedaulatan negara di wilayah perbatasan tidak hanya dengan mengangkat senjata, patroli patok batas, dan koordinasi lintas batas, tetapi di rumah-rumah warga, ruang-ruang kelas sekolah, hingga kebun-kebun warga. (Dul)

PERINGATAN!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel/gambar/video/infografis tanpa izin tertulis dari redaksi indomaritim.com.

Komentar