Pulau Sertung Tidak Lagi Berwarna Hijau

Oleh Prof Dr Dian Fiantis

Kolom6 Dilihat

Jakarta, indomaritim.com – Pulau Sertung tidak lagi berwarna hijau. Pulau yang berada di sebelah barat Gunung Anak Krakatau yang sebulan lalu tampak hijau, berubah menjadi abu-abu hingga kecoklatan jika dilihat dari Satelit Sentinel-2.

Perubahan mencolok ini terpantau oleh satelit dua hari setelah erupsi intensif Anak Krakatau pada 4–6 September hingga meninggalkan jejak yang tidak hanya terlihat dari kolom abu dan lontaran material vulkanik.

Perbandingan citra 8 Agustus dan 8 September menunjukkan kontras yang kuat. Sebelum erupsi, vegetasi menutupi sebagian besar permukaan Sertung. Setelah erupsi, rona hijau hampir menghilang. Pulau Panjang di sebelah timur Anak Krakatau masih mempertahankan vegetasi yang relatif jelas, sedangkan Rakata di sebelah selatan juga menunjukkan perubahan, tetapi tidak sekuat Sertung.

Perbedaan antarpulau ini menarik karena memberikan gambaran bahwa dampak erupsi Anak Krakatau tidak menyebar sama kuat ke segala arah. Dalam waktu sangat singkat, permukaan sebuah pulau yang telah lama ditumbuhi vegetasi dapat berubah dalam skala luas.

Pulau di garis depan

Sertung memiliki luas sekitar 1.057 hektare dan terletak hanya sekitar empat kilometer di sebelah barat Anak Krakatau. Pulau yang dahulu dikenal sebagai Verlaten Island tersebut merupakan bagian penting dari kompleks Krakatau.

Sejarah geologinya bahkan jauh lebih tua dibandingkan Anak Krakatau. Bersama Pulau Panjang, Sertung merupakan bagian dari sisa sistem kaldera Krakatau lama. Dalam perkembangan berikutnya muncul pusat-pusat vulkanik Rakata, Danan, dan Perbuwatan yang membentuk Pulau Krakatau sebelum letusan besar 1883 mengubah kawasan ini secara drastis.

Posisinya yang sangat dekat dengan Anak Krakatau membuat Sertung berada di garis depan setiap kali gunung tersebut meletus. Sejak Anak Krakatau muncul dan berkembang pada akhir 1920-an, pulau ini berulang kali menerima material hasil letusan.

Kini citra satelit kembali memperlihatkan bagaimana proses vulkanisme dapat membentuk ulang lingkungan di sekitarnya.

Hilangnya sinyal hijau

Perubahan warna pada citra satelit bukan sekadar persoalan visual. Satelit merekam pantulan energi dari berbagai objek di permukaan bumi. Vegetasi, air, tanah, batuan, dan material vulkanik mempunyai karakter pantulan yang berbeda sehingga kondisinya dapat dianalisis melalui berbagai kanal spektral.

Salah satu parameter yang umum digunakan adalah Normalized Difference Vegetation Index (NDVI).

Analisis spasial menunjukkan sekitar 725 hektare kawasan bervegetasi mengalami penurunan NDVI. Luasan tersebut setara dengan sekitar 98,5 persen area yang sebelumnya terdeteksi sebagai vegetasi.

Namun, angka itu tidak boleh langsung diterjemahkan bahwa 98,5 persen tumbuhan di Sertung mati. Satelit melihat respons spektral permukaan, bukan memeriksa satu per satu pohon yang tumbuh di sana.

Abu yang menutupi permukaan daun dapat menghilangkan sinyal hijau yang diterima sensor. Tajuk dapat mengalami defoliasi, cabang dapat patah akibat jatuhan material, sebagian tumbuhan mungkin tertimbun, dan beberapa proses dapat terjadi secara bersamaan. Pemeriksaan lapangan tetap diperlukan untuk menentukan tingkat kerusakan sebenarnya.

Petunjuk dari kelembapan

Petunjuk tambahan diperoleh dari kanal shortwave infrared (SWIR). Bagian spektrum ini peka terhadap kandungan air vegetasi sekaligus membantu membedakan vegetasi dari material permukaan yang lebih kering.

Sertung yang sebelum erupsi Anak Krakatau menunjukkan karakter kawasan bervegetasi, mengalami perubahan kuat menuju karakter permukaan yang lebih kering dan minim vegetasi berdasar analisis SWIR. Hal ini memperkuat dugaan bahwa vegetasi mengalami gangguan besar sekaligus terjadi pengendapan material baru di permukaan.

Kontras dengan Pulau Panjang menjadi semakin menarik. Pulau yang hanya berjarak sekitar tiga hingga empat kilometer di sebelah timur Anak Krakatau itu masih mempertahankan sinyal vegetasi yang relatif kuat pada 8 September.

Perbedaan tersebut menunjukkan pentingnya arah angin selama erupsi. Abu yang sangat halus dapat terbawa hingga puluhan bahkan ratusan kilometer, sedangkan material yang lebih kasar biasanya jatuh lebih dekat ke pusat erupsi.

Sertung berada cukup dekat sehingga material yang mencapainya kemungkinan tidak hanya terdiri atas abu halus, tetapi juga dapat mencakup tefra atau material hasil letusan yang berukuran lebih besar.

Arah angin, tinggi kolom erupsi, ukuran partikel, dan jarak dari kawah bersama-sama menentukan ke mana material tersebut akhirnya diendapkan.

Dari material menjadi tanah

Bagi ilmu tanah, perubahan Sertung menarik justru setelah material erupsi tiba di permukaan.

Abu, lapili, fragmen batuan, mineral, dan gelas vulkanik yang baru dikeluarkan gunung api pada awalnya masih berupa material geologi muda. Material tersebut belum mengalami pelapukan seperti tanah yang telah berkembang selama ratusan atau ribuan tahun.

Setelah berada di permukaan, hujan mulai bereaksi dengan mineral dan gelas vulkanik. Perubahan suhu, air, dan aktivitas organisme secara perlahan mengubah material itu. Sebagian unsur dilepaskan, mineral sekunder mulai terbentuk, bahan organik terakumulasi, dan vegetasi secara bertahap kembali menempati permukaan.

Perjalanannya panjang. Material yang hari ini tampak sebagai abu dan tefra pada akhirnya dapat menjadi bahan induk bagi tanah baru.

Kepulauan Krakatau memberikan tempat yang istimewa untuk mengamati proses tersebut karena pulau-pulaunya memiliki sejarah permukaan yang berbeda. Anak Krakatau terus menghasilkan material sangat muda, sementara Sertung, Panjang, dan Rakata telah mengalami kolonisasi vegetasi serta pelapukan jauh lebih lama.

Erupsi September 2026 menambahkan satu lapisan baru pada rekaman alam tersebut.

Menunggu Sertung menghijau

Citra 8 September baru menunjukkan kondisi beberapa hari setelah erupsi. Informasi yang mungkin lebih menarik justru akan datang dari citra berikutnya.

Apabila sebagian besar perubahan terjadi karena abu menutupi tajuk, kemudian hujan dapat membersihkan permukaan daun dan nilai NDVI berpotensi meningkat relatif cepat, tunas dan daun baru juga dapat muncul dalam beberapa minggu atau bulan.

Sebaliknya, apabila sinyal vegetasi tetap sangat rendah dalam waktu lama, kerusakan mungkin lebih berat. Material yang cukup tebal dapat menimbun permukaan dan membuat proses pemulihan berlangsung lebih panjang.

Pemantauan Sentinel-2 dari minggu ke minggu dan bulan ke bulan dapat membantu membedakan kedua proses tersebut. Sertung kini menjadi semacam eksperimen alam yang dapat diamati dari angkasa: mulai dari gangguan akibat erupsi, perubahan permukaan, munculnya kembali vegetasi, hingga perkembangan material vulkanik menuju tanah.

Erupsi Anak Krakatau berlangsung dalam hitungan jam dan hari. Pemulihan sebuah pulau berlangsung dalam skala waktu yang jauh lebih panjang. Citra berikutnya akan memberi tahu kita kapan warna hijau mulai kembali ke Sertung dan bagaimana kehidupan perlahan mengambil kembali ruang yang baru saja diubah oleh gunung api.

*) Penulis adalah pengajar pada Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, dan Sekolah Pascasarjana Universitas Andalas, Padang, Pengurus dan Anggota Himpunan Ilmu Tanah Indonesia (HITI)

PERINGATAN!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel/gambar/video/infografis tanpa izin tertulis dari redaksi indomaritim.com.

Komentar