Cerita Kuda Hitam : Penggalan Sejarah Strategi Diplomasi dan Geopolitik

Catatan Diplomasi Politik Pelaut Nuswantara

Kolom, Politik, Tokoh1537 Dilihat

Pelaut ADIPATI  l Kalitbang INDOMARITIM  l  Direktur Eksekutif TRUST  l Presiden SPI  l  Volunteer INMETA 

“A candidate or competitor about whom little is known but who unexpectedly wins or succeeds”.. Seorang kandidat atau peserta suatu kompetisi yang tidak terlalu dikenal tetapi secara tidak terduga sukses atau memenangi pertandingan. Oxford Dictionary mendefinisikan istilah dark horse  ini setelah viral Abad ke-19. Istilah kuda hitam adalah seorang yang tidak disangkakan kehebatannya atau peserta kompetisi yang tidak diakui malah menjadi pemenang. Sementara ada pula istilah kuda putih yang ditujukan kepada anak penguasa dengan berbagai keistimewaannya.

Saya teringat penggalan epik sejarah panjang pertarungan kekuasaan yang berlangsung ribuan tahun antara kerajaan Romawi dan kerajaan Persia. Dengan satu titik balik peradaban barunya justru ditaklukkan oleh kafilah dagang yang dijaga oleh kelompok pemuda gurun berkuda yang bernama Quraish. Sepanjang pertarungan `motivational` antar dua kapal induk ini tercatat begitu banyak penggalan kisah yang bahkan terus diulang dilayar lebar. Sebutlah kisah 300 `Spartan` Macedonia yang menggetarkan Persia atau kisah Asterix `Galia` Normandia yang mempencundangi Romawi.

Namun banyak yang luput dari kisah kuda hitam gurun yang justru menaklukkan dua superpower ini. Mungkin karena menganggap tidak perlu repot-repot menyeberangi gurun pasir Arabia karena memang tidak ada yang perlu diperhitungkan disana. Kekuasaan Romawi adalah sampai ke Yordania dan Palestina sedangkan Persia menguasai Irak. Persia memiliki Vassal Arab Bani Lakhmid di Irak, sementara Romawi memiliki vassal Bani Ghassan dan punya pengalaman penyerangan terhadap Yaman yang terkenal kaya dan makmur melalui Laut Merah.

Cerita ini bermula dari Romawi yang sedang menguasai Mesir melancarkan serangan ke Yaman menggunakan armada kapal di pantai timur laut merah dan disambut oleh pasukan berkuda yang memporak porandakan keangkuhan armada laut terhebat saat itu. Penarasan dengan kekalahan itu Romawi mulai menyisir gurun arabia dan bentrok dengan benteng sederhana Khaibar milik Yahudi di antara Madinah dan Syam. Sebuah wilayah besar pedagang gurun Yahudi yang pada akhirnya ditaklukkan oleh pasukan Islam pimpinan nabi Muhammad SAW dan menikahi Safiyah binti Huyay sebagai penggalan sejarah baru kekuatan kuda hitam dari gurun arabia.

Langkah kuda hitam Nabi Muhammad yang saat itu memimpin Madinah adalah diplomasi geopolitik strategik, diantara dua kekuasaan besar disekitar yang telah dikuasai seperti Romawi di Mesir dan Persia di Yaman. Langkah tersebut adalah pertama mengirimkan surat ke Raja Heraklius, Cyrus uskup Alexandria, Raja Mauqaquis di Armenia, Raja Ghassan dan Raja Arab di Irak , Raja Persia, Raja Julandi, Raja Bahrain, sampai raja Eithiopia Najasyi. Diplomasi pesan ini adalah langkah cerdas pemetaan untuk membentuk aliansi dalam konteks geopolitik strategis dan penanganan potensi konflik berdasarkan prioritas

Dalam posisi sebagai kuda hitam, sang Nabi mulai menghadirkan pengendalian terhadap arus konflik akibat segala sabotase politik oleh Kerajaan Persia yang tidak mau kekuatan jazirah Arab bersatu. Diantaranya ketika Raja Persia Kisra murka karena surat yang dikirim oleh Nabi Muhammad karena surat diawali dengan bismillah yang baginya adalah bentuk penghinaan. Hal ini membuat Persia mulai bergantung kepada koloninya disekitaran Yaman, Oman dan Bahrain sekarang yang menyebabkan mereka saling mengatur strategi atas dasar kepentingan masing-masing. Maka secara tidak langsung Nabi Muhammad telah menjadi  kunci walaupun tidak diperhitungkan.

Dari kondisi inilah atmosfer geopolitik non blok mulai terbentuk sebagai langkah kedua kuda hitam Quraish. Baik Romawi maupun Persia yang saat itu merasa sangat mampu untuk menghabisi kekuatan yang hanya dianggap sebagai milisi darat. Sebagai sifat dasar penguasa yang status quo dengan fokus pembuktian kekuatan dan nilai tertentu. Tapi itu bukanlah strategi yang akan menjawab kemungkinan nyata bahwa kerajaan sebesar apapun akan menghabiskan aset dan sumber dayanya dengan mengoptimalkan penguasaan atau pembangunan yang salah, sementara pesaing yang dianggap lemah fokus pada yang benar.

Saat dua blok adidaya ini memaksimalkan penguasaan teritorial mereka pada kemegahan pembangunan (hardware) dan interaksi kepentingan sistemik (software), kelompok milisi darat ini fokus menciptakan model pembangunan manusia yang transformatif. Tidak ada yang mampu menakar ruang dan waktu membangun manusia, layaknya menakar bangunan fisik dengan hitungan yang sangat presisi. Nabi Muhammad mendefinisikan strategi itu sebagai praktik dalam serangkaian aktivitas yang sama namun lebih efektif untuk menang dalam penggalan sejarah kenabian 14 abad yang lalu.

Hari ini kejadian itu kembali berulang dalam fakta tumbangnya pasukan IDF dalam perang kota Gaza dengan milisi IDQB Hamas, walau kota telah lumpuh setelah digempur habis-habisan oleh pesawat tempur Israel. Onggokan Tank Merkava hasil gempuran RPG para milisi menggambarkan betapa kekuatan adidaya itu kalah strategi. Pendekatan perang klasik yang hanya mengandalkan kecanggihan hardware dan software hanya akan mengarahkan IDF pada kuburan masalnya. Karena mereka tidak bergerilya lebih keras, lebih berdedikasi, lebih berani, atau lebih visioner dibandingkan IDQB Hamas.

Cara berpikir mereka mengenai pilihan yang mereka ambil menjadi langkah ketiga bagi kuda hitam ini untuk menang. Mereka memiliki pendekatan strategi yang jelas dan terdefinisi secara unik dalam motivasinya, playgroundnya serta caranya untuk menjadi pemenang. Mengerti bagaimana cara mengendalikan saat sedang dikendalikan itu penting, ibarat dalam `game Mobile Legend` dimana para pemain saling melawan. Namun dimomentum tertentu bisa saling bekerjasama seperti antara pembeli dengan pedagang. Tim lawan mungkin mengetahui apa yang kita persiapkan, sehingga lawan yang membuat item serangan fisik (physical damage) akan ditangkal dengan item pertahanan dari serangan fisik (physical defence).

Dalam konteks ke Indonesia-an yang tengah menghadapi kontestasi politik pilpres 5 tahunan di februari 2024 ini, negara kita benar-benar sedang di uji potensi polarisasi yang jauh lebih kompleks dari kontestasi pilpres 2019 yang lalu. Diantaranya adalah potensi misinformasi dan disinformasi di media sosial akibat geliat pemilih muda, khususnya gen Z  dengan porsi 56% yang menjadi generator informasi di Medsos. Polarisasi ini bisa diperkuat oleh pertarungan kekuatan dua kapal induk yang akan saling menenggelamkan melalui serangan cyber trooper terlatih. Dan kekuatan sekoci yang dikatakan kuda hitam itu bisa saja mengambil alih kendali playgroundnya, tergantung siapa yang akan mengorkestrasinya.

PERINGATAN!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel/gambar/video/infografis tanpa izin tertulis dari redaksi indomaritim.com.

Komentar