Mencari Guru Ideal di Indonesia

Kolom1180 Dilihat

Sudah jamak terjadi di negeri ini banyak sekali tenaga pengajar, namun sedikit sekali yang menjadi guru. Menjadi guru di sini ialah benar-benar memiliki jiwa seorang guru yang tidak hanya melaksanakan tugas mengajar juga mempunyai tanggung jawab moral untuk mendidik dan membersamai siswa dalam berproses menjadi pribadi yang lebih baik. Tidak heran, pendidikan di Indonesia masih dikatakan belum mampu mendidik siswa untuk menjadi pribadi yang matang. Hal ini lantaran setiap guru masih belum memahami filosofi menjadi seorang guru. Menjadi seorang guru berarti siap untuk mengemban tugas moral melayani generasi muda untuk menjadi generasi penerus yang baik di masyarakat.

Perlu untuk direnungkan ialah filosofi guru “digugu lan ditiru“masih menjadi sekadar slogan kosong tanpa mempunyai makna. Benar saja di Indonesia guru masih mempunyai ego yang kuat sehingga tidak heran menjadikan siswa sebagai objek yang patut untuk patuh bukan sebagai subjek yang kreatif dan inovatif. Maka dari itu, tugas moral yang seharusnya diemban oleh para guru menjadi hanya sekadar nilai-nilai filosofis yang diucapkan ketika hari guru, tanpa adanya realisasi mewujudkan para guru yang benar-benar menghayati profesi guru. Mencari guru ideal di Indonesia sama saja dengan mencari titik putih di air yang keruh, terlebih lagi profesi guru dijalankan asal-asalan atau dengan setengah hati.

Padahal guru merupakan fondasi terpenting dalam membangun bangsa yang berkualitas. Jika kualitas para guru cenderung rendah, maka berakibat pada degradasi kualitas manusia Indonesia. Dari sinilah guru mempunyai peran penting sebagai pembangun keberlanjutan pembangunan manusia Indonesia untuk dapat bersaing secara global. Anehnya, di Indonesia profesi guru hanya dijalani sebagai kegiatan untuk mencari nafkah, tanpa adanya kesadaran dan tanggung jawab sosial yang melekat pada profesi agung tersebut. Praktik-praktik di lingkungan pendidikan, murid yang kurang pandai justru tidak diperhatikan. Guru lebih fokus ke murid yang pintar.

Menjadi guru tidak harus bersikap seperti malaikat, akan tetapi mengemban profesi guru, seseorang harus mempunyai budi pekerti yang baik dan mempunyai semangat untuk selalu menjadi pembelajar. Tanpa kemauan guru untuk menjadi pembelajar, profesi guru hanya akan menjadi sekadar profesi yang hanya untuk mencari sesuap nasi belaka dengan mengorbankan masa depan generasi muda Indonesia. Jelas-jelas kondisi seperti ini akan merusak generasi muda Indonesia secara perlahan-lahan serta generasi muda Indonesia akan mengalami kemerosotan dalam segi kualitas.

Guru bukan hanya sekedar profesi tapi ada tanggung jawab sosial

Banyak yang mengira menjadi guru adalah profesi yang mudah  karena gaji pasti, tugasnya hanya mengajar dan jam kerjanya tidak terlalu menyita waktu. Anggapan khalayak justru salah besar karena menjadi guru mengemban tanggung jawab sosial. Guru adalah fondasi penting dalam membangun kualitas manusia Indonesia. Dalam tradisi nusantara masa lampau, profesi guru mempunyai andil besar dalam mendidik para pemimpin masyarakat. Dengan kata lain memilih profesi guru berarti siap mengemban tugas yang amat berat. Dapat kita baca dalam cerita pewayanagan bagaimana Guru Drona mempunyai kedudukan begitu tinggi dengan melatih dan membimbing baik secara fisik maupun mental para pangeran Kerajaan Hastinapura. Melalui cerita ini dapat kita rasakan profesi guru merupakan profesi yang tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang hanya orang yang cakap baik secara intelektual, moral dan spiritual yang mampu untuk menjadi guru. Dengan memilih profesi guru berarti siap dan mampu untuk memikul tanggung jawab yang diberikan masyarakat dan negara di pundak dan otaknya.

Dibutuhkan kesadaran bahwa memilih profesi guru berarti siap untuk mendidik diri sendiri hingga matang terlebih dahulu sebelum mendidik orang lain. Akan tetapi, realitas berkata lain di Indonesia menjadi guru berarti dianggap sebagai empunya kebenaran, padahal guru harus senantiasa belajar termasuk mau belajar hal-hal baru termasuk belajar pada siswa-siswanya sendiri yang lebih muda. Memilih menjadi guru berarti mengurangi keangkuhan dan rasa ingin merasa benar karena menjadi guru berarti bersedia untuk menjadi murid sepanjang hayat. Tanpa adanya penanaman filosofi ini profesi guru hanya akan menjadi suatu profesi yang kosong tanpa ada penghayatan terhadap profesi guru itu sendiri.

Siapkah kita untuk menjadi guru

Menjadi guru memerlukan kesiapan yang sangat matang karena dengan menjadi guru berarti bersedia untuk hidup sederhana dan berjiwa pencari ilmu. Jika memilih profesi guru tanpa adanya sikap kerendahan hati sebagai pencari ilmu, maka akan merusak citra profesi guru itu sendiri. Patut untuk ditekankan ialah para guru di Indonesia masih belum memperlihatkan jiwa sebagai “guru”. Keseharian yang dilakukan oleh para guru di Indonesia hanyalah keseharian sebagai pengajar. Padahal menjadi guru berarti siap dan mampu untuk mengemban tugas mendidik dan membersamai anak bangsa untuk berkembang lebih baik dari generasi sebelumnya.

Hal paling mendasar yang perlu dibangun dalam diri para guru di Indonesia ialah kesabaran untuk mendidik bukan sekadar menyampaikan ilmu. Terlebih lagi bagi para guru sekolah dasar perlu dibangun kesadaran untuk mendidik dengan baik bibit-bibit generasi muda yang nantinya akan terus tumbuh dan berkembang. Oleh karena itu menjadi guru bukan hanya sekadar ranah untuk mencari nafkah, namun menjadi guru adalah profesi pengabdian dan bekerja untuk mendidik generasi penerus bangsa.

Membangun kualitas guru di Indonesia tidak dapat dilakukan secara mudah. Diperlukan proses yang panjang dan menguras banyak energi. Akan tetapi, tanggung jawab membangun kualitas guru di Indonesia merupakan tugas penting yang harus diupayakan dengan sungguh-sungguh oleh pemerintah. Tanpa adanya iktikad baik pemerintah dalam membangun kualitas guru di Indonesia, masih banyak atau sama sekali belum ada orang yang siap untuk menjadi guru yang ideal di Indonesia ini.

Gratia Wing Artha

Pengamat Sosial

PERINGATAN!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel/gambar/video/infografis tanpa izin tertulis dari redaksi indomaritim.com.

Komentar