Pelaut ADIPATI l Kalitbang INDOMARITIM l Direktur Eksekutif TRUST l Presiden SPI l Volunteer INMETA
Pengembangan sistem AI militer otonom akan dipimpin oleh kekuatan global, khususnya negara-negara yang bersedia dan mampu menguji sistem tersebut di zona konflik di seluruh dunia. Awalnya, hal ini dapat mengurangi aplikasi teknologi tersebut bagi negara-negara yang lebih kecil dan kurang sumber daya. Sejak invasi Rusia pada Februari 2022, Ukraina telah menjadi medan uji coba untuk berbagai aplikasi militer AI otonom. Dilanjutkan dengan Israel yang justru melancarkan kendali penuh berbasis AI untuk sistem penghancuran kota gaza secara massif selama hampir 2 bulan yang sangat menyayat hati. Dinamika geopolitik timur tengah sedang berjalan diantara hilangnya kemanusiaan global dan menguatnya egosentris kewilayahan dalam spektrum spasial teknologi militer.
Namun fakta bahwa uji coba untuk berbagai aplikasi militer AI otonom akan terus mengalami pembaharuan mengingat hancurnya reputasi sistem pertahanan iron dome yang terbukti tidak pernah gagal sampai dibuat eror setelah di bombardir oleh rudal qossam Hamas. China dan Korea Utara bahkan memonitor semua update perang berbasis aplikasi militer AI otonom dengan terus menyempurnakan ekosistem pendukungnya secara politik dan teknologi. Berbeda dengan negara-negara eropa yang masih mengikuti kebijakan luar negri US untuk fokus pada diplomasi demi terwujudnya kerjasama kolaboratif dengan perusahaan-perusahaan holding untuk mendukung Kyiv dan fakta bahwa medan perang Ukraina memberikan akses ke data militer utama untuk melatih sistem dengan lebih baik.
Diantara yang sedang berjalan adalah geliat beberapa perusahaan dari Amerika Serikat dan Eropa yang mulai fokus pada pengembangan drone otonom. Sebuah tensi geopolitik strategik yang hadir akibat tekanan perlawanan yang digawangi oleh Iran dan Yaman di Laut Merah sebulan yang lalu. Armada Laut Amerika sendiri mengakui betapa serangan milisi Houthi yang semula dianggap hanya ganggunan telah berubah menjadi ancaman serius karena ditopang oleh support system AI otonom dengan sangat efektif. Sehingga kolaborasi pengembangan aplikasi militer AI otonom oleh perusahaan-perusahaan khusus dibawah kendali US dan negara Eropa ini fokus pada teknologi analisis data medan perang untuk pengambilan keputusan militer, pengenalan wajah, dan aplikasi lainnya.
Rusia saja yang menurut para analis militer dunia tidak memiliki industri AI secanggih US, diam-diam telah menggunakan drone berkekuatan AI di Ukraina walaupun hanya sebatas penggunaan penyerangan acak dan pengawasan. Ukraina beruntung masih bertahan karena perusahaan-perusahaan teknologi Eropa khususnya Jerman dan Prancis dengan dukungan dari pemerintah masing-masing berkontribusi langsung dalam sistem kontra intelijen militernya. Dimana secara taktis teknologi meningkatkan tingkat kematian komandan lapangan dengan menganalisis secara cepat sejumlah besar data yang diambil dari sensor yang didistribusikan di seluruh medan perang untuk menghasilkan opsi penargetan yang lebih cepat dibandingkan musuh.
Belajar dari pengembangan dan penerapan teknologi ini di medan perang Ukraina dan Palestine saat ini, memberikan konsekuensi besar terkait etika dan keamanan, terutama ketika teknologi ini digunakan dalam konteks konflik bersenjata. Pertanyaan etis seputar penggunaan AI di medan perang, seperti keputusan pembunuhan yang diambil oleh sistem otonom, dan risiko pengambilan keputusan yang salah. Sementara beberapa kejadian penting Class antar Peradaban yang akan terjadi setelah 2024 diyakini akan menjadi battleground perang yang dilakukan oleh pasukan warbotyang mampu merumuskan model secara taktikal layaknya permainan untuk menang dengan target menghancurkan lebih banyak musuh sambil mempertahankan lebih banyak teman.
Kemampuan-kemampuan baru memang sudah diciptakan untuk menggantikan posisi manusia dalam operasi militer di masa depan sebagaimana yang tergambar jelas dalam kisah fiksi Ghost Fleet konflik asia pasifik yang mungkin akan dimulai sebentar lagi. Namun alat tetaplah alat yang tetap bisa hancur oleh keahlian tempur manusia yang bahkan minim supporting teknologi seperti yang baru ditunjukkan manusia terowongan di pusat kota gaza yang sudah menghabisi Tank tempur super canggih Merkava tanpa jeda. Sebuah pelajaran yang mengharuskan angkatan bersenjata kita mesti mengendalikan semua potensi wujud AI “untuk terlibat dalam analisis kompleks battleground. Saat ini penggunaan AI militer masih semi-otonom, dimana sistem tersebut tetap berada di bawah kendali manusia, tapi kedepannya tahapan sistem AI Militer Otonom sudah tidak lagi mampu dibendung.
Berawal dari konsep perang minotaur dengan pengendalian mesin terhadap manusia selama pertempuran dan lintas domain, mulai dari patroli tentara di darat, konstelasi kapal perang di lautan, hingga formasi jet tempur di udara. Berkembang kepada pengambilan keputusan strategis , ditambah dengan pengawasan mesin, membentuk jenis peperangan AI tunggal. Saat teknologi militer sudah berinvestasi penuh AI otonom, maka dapat memungkinkan negara memperoleh dan mempertahankan keunggulan dibandingkan musuh dalam ruang dan waktu yang menentukan hasil perang secara keseluruhan. Sebagaimana yang diingatkan oleh Jenderal Korps Marinir AS (Purn) John Allen dalam potensi perang hiper. Bahwa memprediksi kemungkinan tindakan musuh melalui proses perkiraan ancaman real time dengan sistem analitik geopolitik strategik.
Perusahaan seperti Palantir menjadi salah satu pengembang supporting system untuk mengidentifikasi tindakan yang paling layak, dapat diterima, dan strategi yang sesuai untuk menang dalam perang. Karena potensi perang algoritmik tengah mulai digelar dalam kawasan Indo-Pasifik hari ini, disadari atau tidak. Paradigital native dalam setiap kesatuan militer diseluruh dunia akan menjadi penentu dalam percepatan perang hiper ini. Hiper berasal dari kata Hipy – Hiperbola – Ketakutan terhadap inovasi militer mereka sendiri. Yang mengandung makna bersiaplah untuk dikecewakan oleh AI itu sendiri yang sangat rentan dikendalikan secara politis tanpa menghiraukan nilai kemanusiaan. Dalam era teknologi yang terus berkembang, penerapan kecerdasan buatan (AI) bukan hanya terbatas pada medan perang konvensional, namun juga memasuki ranah strategis yang lebih kompleks, termasuk komando dan kendali nuklir.
Penggunaan AI dalam konteks ini tidak hanya menghadirkan potensi keunggulan, tetapi juga memunculkan tantangan besar terutama ketika berhadapan dengan musuh yang adaptif. Suatu sistem AI yang terintegrasi dalam komando dan kendali nuklir dirancang untuk meningkatkan kecepatan pengambilan keputusan, memberikan analisis real-time, dan meningkatkan efisiensi operasional. Namun, ketika dihadapkan dengan musuh yang adaptif, yang mampu memahami dan menyesuaikan diri dengan strategi lawan, sistem ini dapat mengalami tantangan yang signifikan. Adaptabilitas musuh dapat mengikis kepercayaan dalam sistem AI tersebut, terutama jika kemampuan adaptif tersebut mengarah pada penghindaran atau manipulasi terhadap keputusan yang diambil oleh sistem. Maka penting angkatan bersenjata di negara berkembang seperti Indonesia, untuk mulai membangun blueprint dan arsitektur keamanan dan ketahanan berbasis AI.
Mulai dari keamanan siber militer kenegaraan dalam rangka mengantisipasi skenario adaptif musuh, serta memastikan integritas dan ketahanan sistem dalam situasi yang kompleks. Tantangan teknis seperti perhitungan suara pemilu Presiden 2024 melalui server yang bisa saja menjadi titik krusial dalam standar etika dan hukum negara adalah juga menjadi tanggung jawab entitas militer, khususnya dititik kulminasinya. Maka pengembangan dan penggunaan AI militer otonom bukan hanya menjadi topik utama dalam dinamika konflik global, tetapi juga mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendalam tentang tanggung jawab manusia terhadap teknologi yang semakin canggih. Mendorong kerjasama internasional untuk menetapkan norma dan regulasi yang jelas dalam penggunaan AI di bidang militer adalah langkah krusial untuk menjaga kestabilan dan menghindari konsekuensi yang tidak diinginkan dalam keamanan global.








Komentar