Pelaut ADIPATI l Kalitbang INDOMARITIM l CEO TRUST l Presiden SPI l Volunteer INMETA
Perayaan HUT ke-17 Partai Gerindra di SICC Bogor, Sabtu lalu, menyimpan banyak cerita menarik. Salah satunya adalah tradisi Gerindra yang menghormati kader dan pejuang partai yang telah berpulang, dengan menyediakan lima kursi kosong di barisan terdepan. Namun, momen yang paling menyita perhatian adalah pemberian keris oleh Presiden Prabowo Subianto kepada mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Pemberian keris ini bukan sekadar tindakan simbolis, melainkan memiliki makna mendalam jika dilihat melalui lensa filosofi keris Jawa dan konteks politik Indonesia.
Adalah kebiasaan Presiden Prabowo sejak lama untuk menghadiahkan keris sebagai simbol budaya Nusantara kepada banyak kepala negara. Karena memang keris tidak hanya melambangkan senjata atau benda seni, tetapi juga mengandung nilai-nilai filosofis yang relevan dengan kehidupan, khususnya didunia politik. Contohnya saat keris mampu dimaknai dan menjadi simbol bahwa perbedaan politik tidak harus menjadi penghalang untuk bekerja sama membangun bangsa.
Keris sering kali diidentikkan dengan kesatriaan, kepahlawanan, dan kepemimpinan. Dalam konteks ini, pemberian keris oleh Prabowo kepada Jokowi dapat dimaknai sebagai pengakuan terhadap kepemimpinan Jokowi yang telah memimpin Indonesia selama dua periode. Keris juga melambangkan keteguhan, keberanian, dan integritas—nilai-nilai yang diharapkan dimiliki oleh seorang pemimpin. Dengan memberikan keris, Prabowo seolah menyampaikan pesan bahwa kepemimpinan Jokowi telah diakui dan dihormati, meskipun keduanya pernah bersaing dalam kontestasi politik.
Filosofi keris mengajarkan pentingnya menjaga harmoni dalam keberagaman. Keris, dengan pamornya yang beragam, mencerminkan kekayaan budaya dan keberagaman yang harus dijaga dalam bingkai kesatuan. Dalam konteks politik Indonesia yang sering diwarnai polarisasi dan konflik, pemberian keris ini dapat dilihat sebagai upaya untuk memperkuat hubungan antara Prabowo dan Jokowi, meskipun keduanya memiliki perbedaan yang mendasar. Momen ini menjadi simbol rekonsiliasi dan persatuan, mengingatkan bahwa perbedaan politik tidak harus menjadi penghalang untuk bekerja sama membangun bangsa.
Dalam sejarah perang Jawa, keris tidak hanya digunakan sebagai senjata fisik, tetapi juga sebagai simbol loyalitas dan kewaspadaan. Keris bisa “menusuk dari belakang” jika loyalitas telah dikhianati, sebagaimana tercermin dalam konsep “musuh dalam selimut”. Pemberian keris oleh Prabowo kepada Jokowi mungkin juga mengandung pesan tersirat tentang pentingnya menjaga loyalitas dan kewaspadaan terhadap ancaman yang mungkin datang dari pihak-pihak terdekat. Hal ini relevan mengingat dinamika politik Indonesia yang sering diwarnai oleh pengkhianatan dan pergeseran loyalitas.
Filosofi lain yang terkandung dalam keris adalah “Isi Wahyu”, yang melambangkan kebijaksanaan dan pencerahan. Nilai ini mengingatkan para pemimpin untuk melihat melampaui konflik sesaat dan mengambil keputusan berdasarkan kebijaksanaan. Hal ini sejalan dengan pendekatan Jokowi selama menjabat sebagai presiden, yang sering kali mengambil langkah dialogis dan transparan dalam menghadapi tantangan politik. Pemberian keris oleh Prabowo bisa menjadi pengingat bahwa kepemimpinan yang baik harus didasarkan pada kebijaksanaan dan integritas.
Tidak hanya dalam konteks domestik, keris juga memiliki makna penting dalam diplomasi budaya. Sebelumnya, Prabowo memberikan keris kepada Presiden Turkiye, Recep Tayyip Erdogan, selama kunjungannya ke Indonesia. Momentum ini menunjukkan bahwa keris tidak hanya menjadi simbol politik dalam negeri, tetapi juga alat diplomasi budaya yang memperkenalkan kekayaan Indonesia kepada dunia internasional. Hal ini sejalan dengan upaya Indonesia untuk mempromosikan warisan budayanya di kancah global.
Ditengah dinamika konflik dan dilema moral dalam kepemimpinan politik Indonesia, pemberian keris oleh Prabowo kepada Jokowi dapat dilihat sebagai upaya untuk mengingatkan kembali pentingnya nilai-nilai seperti keteguhan, integritas, kebijaksanaan, dan kewaspadaan. Nilai-nilai ini menjadi kunci untuk menghadapi tantangan politik yang kompleks. Dalam konteks yang lebih luas, momen ini mungkin menjadi bagian dari strategi politik Prabowo yang lebih besar, terutama dalam persiapan menghadapi Pilpres 2029.
Prabowo telah menunjukkan sinyal kuat untuk maju sebagai calon presiden pada 2029. Langkah-langkahnya belakangan ini, termasuk merangkul tokoh-tokoh dari berbagai partai dan membangun hubungan baik dengan Jokowi, menunjukkan strategi untuk menciptakan koalisi besar yang melampaui batas-batas partai. Filosofi keris, yang mengajarkan pentingnya harmoni dalam keberagaman dan kewaspadaan terhadap ancaman, menjadi panduan bagi Prabowo dalam menghadapi tantangan politik ke depan.
Dengan merangkul semua partai, Prabowo berusaha menciptakan landasan yang kuat untuk memenangkan kontestasi 2029. Pemberian keris kepada Jokowi bukan sekadar tindakan simbolis, tetapi juga langkah strategis untuk membangun persatuan dan stabilitas politik. Dalam upayanya mewujudkan janji menjadikan Indonesia sebagai “macan Asia” yang memimpin diplomasi dunia, Prabowo tampaknya memahami bahwa harmoni dalam keberagaman adalah kunci utama. Filosofi keris, dengan segala nilai luhurnya, tetap relevan sebagai panduan hidup, tidak hanya dalam konteks budaya, tetapi juga dalam dunia politik modern.








Komentar