Pelaut ADIPATI l Kalitbang INDOMARITIM l Kalitbang APUDSI I CEO TRUST l Presiden SPI l Volunteer INMETA
Pada awalnya, dunia menatap Afghanistan dengan skeptisisme pasca kemenangan Taliban pada Agustus 2021. Barat menarik diri dengan tergesa, meninggalkan kekosongan kekuasaan, keruntuhan ekonomi, dan kekhawatiran global akan kembalinya ekstremisme. Namun, di balik semua itu, terbentuklah narasi baru yang tak banyak disorot: Taliban sedang disiapkan menjadi aktor global oleh kekuatan besar dunia.
Ketika Rusia Menyodorkan Tangan
Juli 2024 menjadi titik balik bersejarah: Rusia secara resmi menerima duta besar Taliban di Moskow—sebuah bentuk pengakuan diplomatik pertama yang mengejutkan banyak pihak. Sebuah keputusan yang terkesan berani, tapi sebenarnya adalah bagian dari strategi geopolitik yang sangat terukur. Rusia tak lagi sekadar menciptakan poros kekuasaan alternatif terhadap Amerika, tetapi kini mengangkat Taliban menjadi bagian dari desain besar Eurasia.
Bagi Moskow, Taliban bukan hanya sekutu taktis. Mereka adalah alat tekanan baru terhadap pengaruh Amerika di Asia Tengah, sekaligus mitra dalam menahan laju kelompok teror seperti ISIS-K. Bahkan, ekspor gandum, minyak, dan gas dari Rusia ke Afghanistan telah berjalan sejak 2022—tanda awal bahwa hubungan ini lebih dari sekadar simbol politik.
Taliban: Dari Penguasa Lokal Menuju Proksi Global
Perlahan namun pasti, Taliban mulai bertransformasi. Mereka bukan lagi gerilyawan yang menguasai Kabul, tapi menjadi kekuatan kontrol regional yang diorkestrasi dari balik panggung global. Dengan legitimasi dari Rusia dan sinyal terbuka dari negara-negara seperti Cina, Iran, hingga Pakistan, Taliban menemukan posisi baru sebagai kekuatan yang—meski tak diakui resmi—memiliki pengaruh nyata dalam dinamika global.
Afghanistan hari ini berada di persimpangan geopolitik strategis: antara koridor ekonomi Cina, jaringan energi Rusia, dan pengaruh keagamaan di dunia Islam. Taliban kini tak lagi hanya mengelola konflik internal, tapi juga mengatur lalu lintas pengaruh global yang melewati tanah mereka.
Diplomasi Lembut Indonesia: Jalan Tengah yang Berani
Di tengah dinamika tersebut, Indonesia hadir dengan pendekatan yang berbeda. Jusuf Kalla, tokoh senior Indonesia, menjadi jembatan diplomatik yang tak terduga. Melalui beberapa pertemuan langsung dengan pemimpin Taliban, JK menyampaikan pesan damai, pentingnya kesetaraan gender, dan menawarkan kerja sama di bidang pendidikan serta pembangunan.
Bukan tanpa alasan. Indonesia ingin menunjukkan bahwa ada wajah Islam yang damai, terbuka, dan progresif. Bukan hanya demi Afghanistan, tetapi demi posisi Indonesia sebagai pemimpin moral dunia Islam—yang bisa menengahi antara Barat yang liberal dan Timur yang otoriter.
Afghanistan Masa Depan: Negara Semi-Resmi, Tapi Penuh Daya
Lalu seperti apa masa depan Afghanistan? Besar kemungkinan negara ini akan tetap berada dalam abu-abu politik—tidak sepenuhnya diakui, tetapi juga tidak sepenuhnya ditolak. Negara-negara Barat akan terus menekan dengan isu HAM dan hak perempuan, sementara Rusia, Cina, dan blok non-Barat akan mempererat kerja sama praktis dan ekonomi.
Yang pasti, Taliban akan terus memainkan peran sebagai pengendali kekacauan yang terstruktur. Mereka bisa menenangkan, atau justru mengguncang kawasan—sesuai kepentingan patron mereka. Dan jika situasi ini berlanjut, maka pada 2029 nanti, kita akan menyaksikan Taliban bukan sebagai bayang-bayang masa lalu, tetapi sebagai bayang-bayang kekuasaan masa depan.
Indonesia Tak Boleh Netral
Bagi Indonesia, ini adalah peluang sekaligus ujian. Di satu sisi, kita bisa memimpin narasi Islam yang modern dan beradab. Di sisi lain, kita harus berani masuk ke dalam arus kekuasaan baru yang sedang digerakkan—bukan hanya sebagai pengamat, tapi sebagai penentu arah. Diplomasi JK adalah langkah awal. Pertanyaannya: akankah Indonesia terus bermain di panggung dunia, atau puas di barisan penonton?







Komentar